The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

Agustus 22, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — nikkiputrayana @ 1:35 pm
 

Joesoef Isak Meninggal Dunia Agustus 16, 2009

Diarsipkan di bawah: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 1:08 pm

Saya pernah menulis tentang Joesoef Ishak di blog saya. Yaitu tiga serangkai jebolan tahanan politik yang mendirikan penerbitan buku Hasta Mitra. Pada hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2009 pada jam 01.30 di kediamannya Jalan Duren Tiga, Jakarta. Beliau dimakamkan di TPU Jeruk Purut pada siang harinya.

Karyanya yang terakhir dan belum sempat diedarkan adalah Memoir Ang Jang Goan, seorang tokoh pers tiga jaman dan pendiri Rumah Sakit terkemuka di Jakarta, seorang keturunan Tionghoa yang pada masa orde baru turut tersingkir keluar negeri dan wafat di Kanada.

Bersama Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim Rahman, ia berjuang untuk bisa menyuarakan kebebasan lewat karya tulis. Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan saya sebelumnya “Hasta Mitra Sahabat Pramoedya Ananta Toer” . Ia adalah pejuang kemanusian yang teguh memperjuangkan antidiskriminasi sampai akhir hayatnya.

Semoga ia damai dalam sisi lindungan-Nya

 

TRANSFORMATOR HUISJE alias GARDU LISTRIK LONDO Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: KENANGAN LAMA — nikkiputrayana @ 6:47 am
Tags: , ,

Pernahkah anda melihat bangunan seperti foto disebelah ini di kota anda ?

Ini adalah gambar dari gardu listrik 6 kV jaman kolonial Belanda dahulu. Dalam bahasa belandanya disebut sebagai transformator huisje. Seiring dengan perkembangan jaman maka bangunan ini banyak terlupakan. Banyak yang hanya dijadikan sebagai tempat usang yang terkesan angker, menjadi tempat warung kopi, tempat tambal ban atau malah sudah tiada lagi alias dibongkar.

Memang dibeberapa tempat gardu listrik lawas ada yang masih dirawat seperti Gardu Listrik di dekat Tugu Bambu Runcing, Surabaya di Jalan Panglima Sudirman. Gardu listrik yang anda lihat disamping inilah yang sekarang masih tampak terawat meskipun tidak sama 100 % lagi detail bangunannya.

Perkembangan listrik di Indonesia tidak lepas dari Perusahaan Listrik Swasta di jaman Belanda yang mengusahakan adanya listrik di tanah air kita. Listrik di Indonesia mulai dialirkan pada tahun 1897 ketika berdiri perusahaan listrik yang pertama yang bernama Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM) di Batavia dengan kantor pusatnya di Gambir. Sedang di Surabaya bermula ketika perusahaan gas NIGM pada tanggal 26 April 1909 mendirikan perusahaan listrik yang bernama Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM). Listrik
merupakan barang mewah pada jamannya. Tidak semua rumah mendapatkan aliran listrik, kebanyakan ya para londo – londo itu sendiri yang mendapatkannya. Masing – masing daerah memiliki perusahaan listrik tersendiri, tidak seperti saat ini yang dikuasai PLN. Inilah daftar lengkap perusahaan listrik yang menyuplai listrik diberbagai daerah Hindia Belanda :

Salah satu perusahaan listrik yang paling sukses adalah ANIEM yang saat itu mampu menguasai 40 % pangsa pasar listrik seluruh Hindia Belanda. Malahan, ANIEM Bandjarmasin memiliki kontrak dari 26 Agustus 1921
sampai dengan 31 Desember 1960. Adapun anak perusahaan dari ANIEM (NV. Maintz & Co.) adalah :

  1. NV. ANIEM di Surabaya dengan perusahaan-perusahaan di  Banjarmasin, Pontianak, Singkawang, Banyumas.
  2. NV. Oost Java Electriciteits Maatschappij (OJEM) di Surabaya dengan perusahaan-perusahaannya di Lumajang, Tuban, dan Situbondo.
  3. NV. Solosche Electriciteits Maatschappij (SEM) di Surabaya dengan perusahaan-perusahaannya di Solo, Klaten, Sragen, Yogyakarta, Magelang, Kudus, Semarang.
  4. NV. Electriciteits Maatschappij Banyumas (EMB) di Surabaya dengan perusahaan-perusahaannya di Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, Sokaraja, Cilacap, Gombong, Kebumen, Wonosobo, Cilacap, Maos, Kroya, Sumpyuh, dan Banjarnegara.
  5. NV. Electriciteits Maatschappij Rembang (EMR) di Surabaya dengan perusahaan-perusahaannya di Blora, Cepu, Rembang, Lasem, Bojonegoro.
  6. NV. Electriciteits Maatschappij Sumatera (EMS) di Surabaya dengan perusahaan-perusahaannya di Bukit Tinggi, Payakumbuh, Padang Panjang, Sibolga.
  7. NV. Electriciteits Maatschappij Bali dan Lombok (EBALOM) di Surabaya dengan perusahaan-perusahaannya di Singaraja, Denpasar, Ampenan, Gorontalo, Ternate, Gianyar, Tabanan, dan Klungkung.

Untuk wilayah Surabaya terdapat 3 tempat pembangkitan listrik saat itu di Ngagel, Semampir dan Tanjung Perak.

Gardu listrik ini sekarang mulai terlupakan, dia seperti Hidden Object of City Treasure. Terkadang ia tersamarkan oleh bangunan lain karena warnanya yang usang atau pula kita terlalu sibuk dan tak acuh sehingga tidak menyadari bahwa bangunan ini ada didekat kita. Saya berandai – andai, seandainya bangunan ini dialih fungsikan menjadi bangunan yang berdaya guna, sebagai contoh menjadi tempat pembayaran rekening listrik, air atau telpon. Dengan satu orang atau mesin khusus pembayaran seperti ATM sehingga tempatnya yang strategis bisa menjadi sarana praktis membayar masyarakat kota.

Inilah sebagian Gardu Listrik atau Transformator Huisje yang ada di Surabaya yang saya amati masih ada. Mungkin ada yang luput dari pencarian saya diseantero Surabaya.

  1. Jl KH. Mas Mansyur
  2. Jl. Dukuh
  3. Jl Kebalen Timur
  4. Jl Kedung Doro
  5. Jl Panglima Sudirman

Bagi yang menemukan hubungi saya …

Klik di foto untuk mengetahui petanya di wikimapia.

Transformator Huisje Jl. Haji Mas Mansyur

Transformator Huisje Jl. Dukuh

Transformator Huisje Jl. Kebalen Timur

Transformator Huisje Jl. Kedungdoro

Papan Peringatan 3 Bahasa

 

HIKAYAT SITI MARIAH Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 6:15 am

Hikayat Siti MariahHIKAYAT SITI MARIAH

Diterbitkan Pertama Kali sebagai cerita bersambung di Medan Prijaji,Bandung dari tahun 1910 – 1912, karangan Haji Mukti.

Di edit dan ditulis kembali oleh Pramoedya Ananta Toer, tahun 1987.

Novel ini bersetting pertengahan abad 19 didaerah Jawa Tengah terutama di perkebunan – perkebunan tebunya. Alkisah jalan hidup seorang anak manusia bernama Siti Mariah dengan berbagai nama yang lain yaitu Urip, Mardi, Jongos Salimin, Babu Salimah, Nyonya janda Esobier. Ia adalah anak hasil pergundikan yang akhirnya melahirkan anak lewat pergundikan pula. Lika liku kehidupan yang berputar bak roda kehidupan dari satu masa ke masa, dari satu tempat ke tempat lain. Anaknya pun juga mengalami hal yang sama. Begitu pula orang – orang disekitarnya.

Siti Mariah lahir dari pergundikan lalu dibuang dan dipelihara mandor pabrik gula. Kemudian besar dan jatuh cinta serta menjadi gundik dari opsiner pabrik gula. Namun seperti yang lazim terjadi ketika seorang bangsa asing telah siap menikah maka bangsa asing itu wajib menikah dengan bangsanya sendiri lalu mencampakkan gundiknya. Siti Mariah yang bukan saja tercampakkan oleh cintanya juga oleh buah hatinya yang menurut lazimnya – anak indo – mengikuti ayahnya. Siti Mariah pun menghilang mencari kehidupannya untuk menghilangkan luka hatinya. Sang anak ternyata tak jauh nasibnya seperti Siti Mariah, bersama ibu tiri akhirnya tercampakkan, mengembara tak tentu arah. Sampai suatu ketika takdir merubah nasib semua anggota keluarga ini.

Novel ini banyak bercerita didaerah Jawa Tengah, penggambaran akan keadaan saat itu sebenarnya sangat cermat dan mirip. Kita akan menjadi banyak tahu seperti apa kehidupan Perkebunan Tebu dan Pabrik Gula saat itu. Seperti kita tahu, Hindia Belanda dahulu adalah raja dari segala raja Gula didunia pada jaman pertengahan abad ke – 19. Agaknya Pram disini ingin memotret kehidupam pergundikan atau disebut per-Nyai-an, yang dahulu sangat lazim terjadi, sehingga kita paham bagaimana keturunan keturunan “indo” itu awalnya ada. Juga memotret bagaimana bangsa penjajah memperlakukan kita dan bangsa kita sendiri memperlakukan dirinya.

Aneh sebenarnya, novel ini tidak begitu jelas siapa pengarangnya. Pram sendiri kesulitan melacaknya dan semua tentang jati diri penulis ini hanyalah rekontruksi Pram pribadi. Bahkan beberapa bagian novel ini hilang sehingga ada cerita yang terpotong disini. Walau begitu, karya sastra ini layak untuk diselamatkan sebagai “sangu” sejarah kita. Berterima kasihlah pada Pram.

 

DOKTRIN REVOLUSI INDONESIA Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 6:03 am

Doktrin Revolusi IndonesiaDOKTRIN REVOLUSI INDONESIA

Diterbitkan oleh CV NARSIH, Surabaya, 1962.

Kutipan :

“Aan Java’s strand verdrongen zich de volken;

Steeds daagden nieuwe meesters over het meer;

Zij volgden op elkaar, gelijk aan het zwerk de wolken;

De telg des lands allen was nooit zijn heer”.

Artinya :

“Dipantainja tanah Djawa jang berdesak-desakan;

Datang selalu Tuan-tuannja setiap masa;

Mereka beruntun-runtun sebagai runtunan awan;

Tapi anak pribumi sendiri tak pernah kuasa”.

(Mentjapai Indonesia Merdeka, Soekarno, 1933)

Buku ini merupakan kumpulan pidato – pidato Presiden Soekarno yang akhirnya dijadikan landasan pemikiran dan ideologi revolusi Indonesia. Disini juga ada penjelasan dan penjabaran akan amanat Presiden yang tertuang lewat pidatonya. Inilah landasan Indoktrinisasi atau “cuci otak” segenap bangsa Indonesia akan gagasan besar Proklamator kita.

Lewat buku ini kita sebenarnya dapat menyelami sebagian kecil isi pikiran Presiden Soekarno. Ide – idenya akan nation character building bisa kita dapatkan disini. Buku ini diperluas dan diperbanyak hampir oleh beberapa penerbit saat itu guna indoktrinisasi untuk memperdalam keyakinan akan jiwa revolusi yang terus digelorakan saat itu.

Tidak berlebihan memang kalau Presiden Soekarno disebut sebagai orator ulung. Lewat pidatonya yang bergelora banyak rakyat yang terkesima mendengarkan berjam – jam. Memang dibuku ini kita jumpai naskah teks lengkap pidato beliau meskipun saat berpidato beliau tak pernah mengonsepnya terlebih dahulu. Buku ini pernah dilarang beredar dan dimusnahkan semenjak kejatuhan kekuasaan beliau saat orba lalu kembali dicari setelah orba runtuh. Merupakan satu gandengan dengan buku “Dibawah Bendera Revolusi” yang harganya awal – awal reformasi sempat menyentuh puluhan juta.

 

DESERSI Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 5:57 am

Desersi

DESERSI

menembus rimba raya kalimantan.

Diterbitkan Pertama Kali di Rotterdam, 1861 dengan judul “Borneo van Zuid naar Noord” karya Michaël Theophile Hubert (MTH) Perelaer.

Diterjemahkan oleh Helius Sjamsuddin kedalam bahasa Indonesia.

Kutipan :

“… Tapi masih ada utang darah lain di antara kita. Ketika saya menyerang rombonganmu, saya bermaksud mengambil kepala – kepala kalian. Selama pergumulan itu salah seorang anggotamu mati terbunuh, beberapa orangku sendiri lenyap – darah dibalas darah…”

Novel ini sebenarnya novel yang sudah sangat lama sekali terpendam di perpustakaan National Library, Canberra, Australia. Berterima kasihlah kepada Helius Sjamsuddin, yang secara tidak sengaja ketika menyelesaikan disertasinya, menemukan novel ini. Berkat jari jemarinya novel ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Novel ini berkisah tentang empat serdadu bayaran Belanda VOC di Kuala Kapuas (Kalimantan Tengah saat ini), yaitu Schlickeisen (Swiss), Wienersdorf (Swiss), La Cuille (Belgia) dan Yohannes (pribumi Indo keturunan Nias). Mereka melarikan diri dari dinas militer dari bentengnya di Kuala Kapuas. Mereka merasa ditipu oleh kontrak pemerintah Belanda yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik daripada di negara asalnya. Semua ternyata hanyalah bohong belaka, hampir mirip dengan kondisi TKI kita.

Dalam pelarian mereka kearah utara kalimantan, mereka bukan hanya bertemu dengan suku – suku Dayak pedalaman yang barbar tapi juga akhirnya berbaur dengan mereka. Dalam pelarian yang dikejar – kejar oleh militer Belanda mereka juga menyaksikan indahnya alam asli perawan hutan – hutan Kalimantan. Mereka juga turut menjadi saksi dan ikut andil dalam perlawanan rakyat Kalimantan kepada penjajahan Belanda. Dalam pelarian ini pula dikisahkan banyak hal tentang adat istiadat suku Dayak masa lampau, terutama adat pengayauan atau potong kepala.

Meskipun cerita pelarian dalam novel ini fiktif namun setting cerita, nama – nama tokoh, adat istiadat dan catatan sejarahnya adalah benar dan sama persis dengan keadaan saat itu. Sehingga penggambaran dalam novel ini bisa menjadi pijakan sejarah bagi pembacanya. Perelaer sendiri adalah opsir Belanda dengan pangkat terakhir Mayor pada 1879. Ia pernah ikut ambil bagian dalam Perang Banjarmasin dan Perang Aceh. Di Kuala Kapuas sendiri yang dijadikan setting awal cerita ini ia menjadi komandan pos dengan pangkat Lentan Satu selama 4 tahun. Oleh karena pengetahuannya yang sangat luas akan dunia Kalimantan ia banyak menulis tentang suku Dayak. Salah satu yang terlengkap adalah Etnographische Beschrijiving der Dajaks (1870).

Oleh karenanya, siapa saja yang ingin mengenal sejarah Kalimantan dan Dayak, sebagai perkenalan bolehlah membaca novel ini.

 

CERITA CALON ARANG Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 4:29 am

Seri Pramoedya Ananta Toer

CERITA CALON ARANG

Diterbitkan Pertama Kali oleh NV. Nusantara, 1954.

Kutipan :

“Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu setiap orang yang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan, karena itu satu sama lain adalah saudara”

Ini sebenarnya sebuah dongeng rakyat yang sudah sering diceritakan dari mulut ke mulut. Namun kini coba diceritakan kembali oleh Pram dengan gaya tulisannya sendiri. Dongeng yang berkisah di negara Daha atau kediri pada masa – masa kerajaan Hindu. Cerita ini sebenarnya ada dua versi yaitu cerita dari Bali dan Jawa. Cerita yang dipakai adalah yang berasal dari Jawa yang pernah diterjemahkan ke bahasa belanda oleh R.Ng. Purbatjaraka dalam Bidjr. K.I. deel 82 halaman 110-180, kemudian ini dimacapatkan atau dilagukan oleh Raden Wiradat lalu diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1931.

Alkisah di negeri Daha kekuasaan Erlangga, hiduplah seorang peneluh sakti bernama calon arang. Ia meneluh begitu banyak penduduk kerajaan dan kekuatan militer sang raja tak mampu mengalahkannya. Calon Arang dengan “kaki tangannya” membasmi dengan keji semua lawan – lawan politiknya. Sampai akhirnya seorang Empu, bernama Empu Baradah mampu mengalahkannya dengan kekuatan kebaikan.

Mengapa cerita calon arang pernah dilarang beredar pada masa orba ? Apakah terkait penulisnya yang dikaitkan dengan komunis ? Seperti semua karya Pram yang dilarang dan dibakar, Cerita Calon Arang juga mengalami hal yang sama. Satu hal yang pasti, disini Pram ingin menyampaikan pesan terselubung bahwasanya kekuatan hitam yang menghalalkan segala cara yang seringkali digunakan untuk membasmi sesama manusia adalah diakibatkan karena pemiliknya tak ingin ada orang lain yang berseberangan pemikiran dengannya. Dan satu hal yang pasti, sekuat – kuatnya kekuatan jahat itu suatu ketika akan musnah oleh kekuatan kebaikan.

 

BUKAN PASAR MALAM Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 4:14 am

Seri Pramoedya Ananta Toer

BUKAN PASAR MALAM

Diterbitkan Pertama Kali oleh Balai Pustaka, Jakarta, 1951

Kutipan :

“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun – duyun lahir di dunia dan berduyun – duyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasar malam. Seorang – seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas – cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana”

Roman ini berkisah pada awal – awal revolusi perang kemerdekaan dengan setting di Blora, Jawa Tengah. Menceritakan mantan tentara revolusi yang miskin terpaksa harus meninggalkan Jakarta yang memberi harapan dan hiruk pikuk oleh karena panggilan ayahnya yang sakit keras akibat TBC.

Di kampung halamannya tidak hanya ia menemukan kenyataan hidup yang sebenarnya namun juga realitas bangsanya sendiri yang masih baru lahir. Disini Pram melalui tokoh “aku” dapat begitu menggambarkan aura kesedihan, kegeraman, kegamangan, kemiskinan dan nestapa. Roman ini juga dengan gamblang menggambarkan bagaimana tokoh politik kita memang busuk sejak negara ini dilahirkan.

Roman yang singkat dengan aura mistis yang bisa benar – benar dirasakan oleh hati pembacanya. Cerdas.

 

AGRESI MILITER BELANDA Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 4:11 am

 


AGRESI MILITER BELANDA

Memperebutkan Pending Zamrud Sepanjang Khatulistiwa 1945/1949

Diterbitkan Pertama Kali oleh Unieboek b.v., Bussum, 1979. Oleh Pierre Heijboer. Dengan judul, “De Politionele Acties. De strijd om “Indie” 1945/1949″

Sebuah buku sejarah dengan sudut pandang yang berbeda. Seperti kita ketahui sejarah seringkali memuat pro dan kontra. Ada dua kepentingan yang bermain, antara pihak yang satu dengan yang lain. Seringkali kita membaca sejarah hanya melalui satu sumber informasi saja. Dalam buku yang didukung penuh oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Tall, -Land- en Volkenkunde) ini memuat catatan sejarah dari pihak Belanda seputar Agresi Militer Belanda menurut sejarah Indonesia atau Aksi Kepolisian menurut sejarah Belanda sejak 1945 sampai 1949.

 

Disini diceritakan bagaimana susah payahnya tentara Belanda yang telah babak belur sebagai korban Perang Dunia Ke-2 harus kembali berjibaku untuk merebut kembali apa yang pernah dibangun dan dimiliki di tanah Hindia Belanda. Dunia telah berubah, bangsa Indonesia yang dahulu dikenal sebagai het zachtste volk op aarde atau bangsa yang paling halus di bumi, sekarang telah berani melawan “tuannya”. Begitu banyak kenangan, begitu banyak kepentingan dan kekuasaan yang harus kembali direbut dari mantan “babunya”, membuat Belanda harus memeras keringat dan membanting tulang untuk kembali kerumah keduanya. Walau dengan hutang dan pinjaman, dengan sisa – sisa kekuatan, dengan protes dari pihak manapun dan perlawanan sengit pihak republik (menurut Indonesia) atau ekstremis (menurut Belanda), mereka berusaha mati – matian untuk kembali.

 

Memang tujuan utama dari aksi ini yang sebenarnya adalah ekonomi dan politik untuk membantu kembali kejayaan Netherland. Buku ini benar – benar cerita yang mendetail dan memiliki sisi humanis dari pihak tentara Belanda. Buku ini membuka cakrawala pikiran kita akan masa – masa perang kemerdekaan dari sisi yang berbeda. Dari sinilah kita mendapatkan dua hal yang penting yang berbeda, apabila menurut Indonesia kemerdekaan kita adalah 17 Agustus 1945, maka menurut Belanda, kita baru merdeka pada 19 Desember 1949.

 

Vuvuzela, bikin stadion serasa sarang lebah Juni 19, 2009

Diarsipkan di bawah: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 6:25 am

Mungkin agak sedikit aneh kalau kita saat ini menyaksikan tontonan sepak bola Piala Konfederasi Di Afrika Selatan. Bukan penontonnya yang memang kebanyakan berkulit hitam dan dandanan nyentrik ala gibol afrika. Tapi aura suara stadion seluruh Afrika Selatan yang bagi saya dan juga mungkin bagi semua penonton bola seluruh dunia agak aneh. Bagaimana ndak, sepanjang pertandingan mulai dari awal sampai akhir suara yang kita dengar cuma suara lebah yang mendengung – dengung. Dari semua sudut stadion suara ini membahana, sampai – sampai suara yang lain seperti supporter, kerasnya bola, bahkan suara komentator di televise terkadang kalah keras dengan dengungan lebah ini.

Suara dengungan lebah ini ternyata dihasilkan dari terompet yang ditiup hampir sebagian besar penonton bola di stadion. Terompet ini bernama Vuvuzela, berbentuk terompet panjang sepanjang 1 meter yang awalnya terbuat dari besi timah pada awal 90-an. Namun akhirnya klub – klub sepakbola local di Afrika selatan mempopulerkannya dengan memproduksi Vuvuzela berbahan plastic dan berwarna – warni seperti saat ini. Vuvuzela ini sebenarnya butuh tenaga kuat untuk meniupnya sehingga bisa berbunyi sekeras seperti yang kita dengar saat ini.

Memang sih banyak sekali protes yang dilayangkan kepada stadion – stadion di Afsel agar melarang penontonnya membawa dan meniup Vuvuzela. Selain mengganggu pemain, official, juga wartawan dan juga mungkin bagi kita – kita yang tidak terbiasa mendengarnya. Bagaimana tidak, sepanjang pertandingan kita dipaksa mendengarkan dengungan lebah yang memekakkan. Bagaimana dengan orang sakit gigi coba ?? hehehe…. Tetapi FIFA tetap member kelonggaran akan hal ini karena argument dari Otoritas Sepakbola Afsel yang mengatakan inilah kultur sepakbola Afsel. Ini Afsel bung. Suka – suka orang Afsel lah mau bergembira dengan cara seperti apa. Kalau di Brazil kita selalu meyaksikan suara gendang bertalu – talu, di Inggris kita mendengar nyayian, di meksiko terkenal dengan wave of handnya. So…. Ini Afrika Selatan, jadinya ya terbiasalah dengan Vuvuzela-nya.

Tapi menurut saya sih tetap saja Vuvuzela ini mengganggu karena ditiup sekerasnya – kerasnya tanpa aturan. Katanya sih ini terkait cerita mulut ke mulut yang konon katanya, awalnya vuvuzela digunakan untuk mengusir Gorila dengan cara menakut – nakutinya dengan suara terompet yang memekakkan telinga. So … jadi maunya penonton, mereka juga mau menakut – nakuti tim tamu yang datang dengan cara mengganggunya lewat tiupan Vuvuzela sepanjang pertandingan. Bukannya ini juga mengganggu tim kita sendiri juga ???

Jadi sih menurut saya perlu ada kursus singkat bagi penonton Afsel yang meniup Vuvuzela supaya berirama dan nyaman didengar. Bukan ditiup sekenanya dan seenak udelnya. Jadi ya suara lebah itu juga yang keluar. Jadi Vuvuzela ini bisa terkenal seluruh dunia dan tidak mengganggu.