Lagu ini dahulu sangat populer saat tahun 1960-an, namun sebenarnya diciptakan jauh dari tahun itu dan jauh dari kota Jakarta lewat corong RRI yang mempopulerkannya. Dahulu lagu ini adalah best hits di radio – radio dan juga dipopulerkan penyanyi terkenal saat itu seperti Lilis Suryani dan Bing Slamet. Lagu ini awalnya diciptakan saat jaman pendudukan Jepang di Banyuwangi, Jawa Timur. Di tengah keperihatinan penduduk saat perang yang susah mencari makan, maka genjer alias kangkung yang banyak tumbuh liar di rawa – rawa atau sawah, menjadi makanan pengganjal perut. Untuk menggambarkan keadaan itulah maka diciptakan lagu ini oleh para seniman dari Banyuwangi.
Setelah perang kemerdekaan, penciptanya Muhammad Arief, seniman dari Banyuwangi, bergabung di Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA) yang merupakan underbouw alias anak organisasi kebudayaan dari PKI. Sebenarnya Lekra dan sayap – sayap PKI lainnya diberikan kebebasan yang luas tanpa pengaturan yang membelenggu. Jadi artinya semua kegiatannya walau ada selipan gambar sponsor komunis namun semua kegiatan dan anggotanya bebas berekspresi. Termasuk lagu genjer – genjer ini sebenarnya tidak ada selipan pesan – pesan komunis sedikit pun. Benar – benar pure asli lagu rakyat, seperti inilah lirik Lagu Genjer – Genjer dengan bahasa Jawa dialek Banyuwangi :
Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih
Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih
Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
emake djebeng tuku gendjer wadahi etas
gendjer-gendjer saiki arep diolah
Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
setengah mateng dientas digawe iwak
setengah mateng dientas digawe iwak
sega sa piring sambel penjel ndok ngamben
gendjer-gendjer dipangan musuhe sega
artinya :
(Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan
Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer
ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Gendjer-gendjer sekarang sudah dibawa pulang
Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas
Gendjer-gendjer sekarang akan dimasak
Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak
Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak
setengah matang ditiriskan dijadikan lauk
setengah matang ditiriskan dijadikan lauk
nasi sepiring sambal pecel duduk di ambin
Gendjer-gendjer dimakan musuhnya nasi)
Jelas sekali bahwasanya tidak ada pesan komunis disana. Jadi mengapa lagu ini menjadi lagu yang sangat tabu untuk dinyanyikan saat orba ? Jawabannya adalah karena fobia yang berlebihan dan represif orba agar bibit perlawanan kepada penguasa benar – benar bungkam. Saat setelah G30S, maka semua hal berbau komunis baik yang benar – benar bau atau hanya kena cipratan baunya adalah DILARANG dan semuanya menjadi ketakutan dan momok yang wajib dijauhi.
Sebagai anggota LEKRA maka M. Arief mempunyai hubungan dekat dengan Njoto, pentolan seniman di Lekra. Njoto yang pertama kali mendengarnya saat dinyanyikan dalam sambutannya saat lewat di Banyuwangi untuk berkunjung ke Denpasar, memprediksi bahwa lagu ini akan terkenal, bukan hanya karena liriknya namun karena musiknya yang mengena dan pas dengan selera musik saat itu. Akhirnya lagu ini pun menjadi digemari oleh petinggi PKI dan masuk dalam daftar lagu kerakyatan dalam setiap kegiatan politik PKI seperti yang tertera dalam Kumpulan Lagu PKI. Walau, lagu ini masuk dalam lagu – lagu PKI namun sebelumnya sudah sangat terkenal di seluruh pendengar lewat radio. Mirip lagu Jamrud, Pelangi di Matamu, saat ini, yang sering dibawakan Presiden SBY dikala kunjungannya.
Akibatnya, setelah PKI dilibas maka lagu ini selalu dikaitkan dengan komunis. Sama seperti semua yang berbau China (saat itu kiblat kita adalah poros Moskow – Beijing – Jakarta ) juga adalah komunis, karena itu barongsai dilarang. Lagu – lagu yang sering dinyanyikan PKI adalah DILARANG juga semua lagu yang ada hubungannya. Ini juga diperparah dengan Lagu Genjer – Genjer yang diplesetkan oleh entah siapa, dimulai sejak kapan dan darimana. Lagu Plesetan Genjer – Genjer itu adalah sebagi berikut :
Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
Jendral Jendral saiki wes dicekeli
Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
Dijejer ditaleni dan dipelosoro
Emake Gerwani, teko kabeh milu ngersoyo
Jendral Jendral maju terus dipateni
Konon katanya lagu ini diplesetkan Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) yang menjadi motor aksi demo besar – besaran menjatuhkan Soekarno, turut pula mereka memfitnah bahwasanya Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia, sayap organisasi wanita PKI) menyanyikan lagu ini saat menyiksa Jendral – Jendral di Lubang Buaya.
Sebenarnya bukan hanya lagu Genjer – Genjer yang DILARANG orba, baik diperdengarkan, disebarkan, atau hanya dinyanyikan. Ada lagu – lagu lain, terutama lagu yang ada didalam Kumpulan Lagu PKI. Seperti lagu Anti Nekolim, toek Paduka Jang Moelia, dll.
Sekarang adalah jaman demokrasi, kita semua bebas berekspresi dan wajib saling menghargai. Yang Dilarang adalah bila kita memaksakan ideologi dan paham kita kepada orang lain dan melanggar privasinya. Artinya ideologi apapun wajib kita hargai, terlebih bila ternyata itu hanya kecipratan baunya saja. Artinya lagi, Lagu Genjer – genjer dan lagu – lagu lainnya mempunyai hak untuk kembali hidup dan diapresiasi. Kita tidak ingin menjadi bangsa yang lupa akan sejarah dan akarnya. Jangan lagi mau dicuci otak kita dan dibelokkan sejarah kita oleh sistem yang salah seperti orde baru. JANGAN MAU.
Bagi kawan – kawan yang ingin mendownload lagu Genjer – Genjer dan yang lain bisa klik link dibawah :
1. GENJER – GENJER oleh Lilis Suryani
2. GENJER – GENJER oleh Bing Slamet
3. Anti Nekolim





Nik…masih jadi aktivis kampus ya…hehhehe
#eblogurl
ndak juga… membela kebenaran seperti batman saja hehehehe
Kayak poco-poco, itu lagu osing banyu wangi, yang di angkat oleh kaum muda pada jamannya.
Soeharto pernah di suguhi lagu ini waktu di myanmar,
hahahahahahahahahahahhahaaaaaaaa
paginya Boediarjo langsung di pecat, wakwkwkwkwkwkwkwk
yang nyanyi saja bangsa lain yang punya harusnya bangga dong kok menterinya di pecat.
Dasar otak Keledai wakwkwkwkwkwkwkwk