The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

HIKAYAT SITI MARIAH Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 6:15 am

Hikayat Siti MariahHIKAYAT SITI MARIAH

Diterbitkan Pertama Kali sebagai cerita bersambung di Medan Prijaji,Bandung dari tahun 1910 – 1912, karangan Haji Mukti.

Di edit dan ditulis kembali oleh Pramoedya Ananta Toer, tahun 1987.

Novel ini bersetting pertengahan abad 19 didaerah Jawa Tengah terutama di perkebunan – perkebunan tebunya. Alkisah jalan hidup seorang anak manusia bernama Siti Mariah dengan berbagai nama yang lain yaitu Urip, Mardi, Jongos Salimin, Babu Salimah, Nyonya janda Esobier. Ia adalah anak hasil pergundikan yang akhirnya melahirkan anak lewat pergundikan pula. Lika liku kehidupan yang berputar bak roda kehidupan dari satu masa ke masa, dari satu tempat ke tempat lain. Anaknya pun juga mengalami hal yang sama. Begitu pula orang – orang disekitarnya.

Siti Mariah lahir dari pergundikan lalu dibuang dan dipelihara mandor pabrik gula. Kemudian besar dan jatuh cinta serta menjadi gundik dari opsiner pabrik gula. Namun seperti yang lazim terjadi ketika seorang bangsa asing telah siap menikah maka bangsa asing itu wajib menikah dengan bangsanya sendiri lalu mencampakkan gundiknya. Siti Mariah yang bukan saja tercampakkan oleh cintanya juga oleh buah hatinya yang menurut lazimnya – anak indo – mengikuti ayahnya. Siti Mariah pun menghilang mencari kehidupannya untuk menghilangkan luka hatinya. Sang anak ternyata tak jauh nasibnya seperti Siti Mariah, bersama ibu tiri akhirnya tercampakkan, mengembara tak tentu arah. Sampai suatu ketika takdir merubah nasib semua anggota keluarga ini.

Novel ini banyak bercerita didaerah Jawa Tengah, penggambaran akan keadaan saat itu sebenarnya sangat cermat dan mirip. Kita akan menjadi banyak tahu seperti apa kehidupan Perkebunan Tebu dan Pabrik Gula saat itu. Seperti kita tahu, Hindia Belanda dahulu adalah raja dari segala raja Gula didunia pada jaman pertengahan abad ke – 19. Agaknya Pram disini ingin memotret kehidupam pergundikan atau disebut per-Nyai-an, yang dahulu sangat lazim terjadi, sehingga kita paham bagaimana keturunan keturunan “indo” itu awalnya ada. Juga memotret bagaimana bangsa penjajah memperlakukan kita dan bangsa kita sendiri memperlakukan dirinya.

Aneh sebenarnya, novel ini tidak begitu jelas siapa pengarangnya. Pram sendiri kesulitan melacaknya dan semua tentang jati diri penulis ini hanyalah rekontruksi Pram pribadi. Bahkan beberapa bagian novel ini hilang sehingga ada cerita yang terpotong disini. Walau begitu, karya sastra ini layak untuk diselamatkan sebagai “sangu” sejarah kita. Berterima kasihlah pada Pram.

 

DOKTRIN REVOLUSI INDONESIA Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 6:03 am

Doktrin Revolusi IndonesiaDOKTRIN REVOLUSI INDONESIA

Diterbitkan oleh CV NARSIH, Surabaya, 1962.

Kutipan :

“Aan Java’s strand verdrongen zich de volken;

Steeds daagden nieuwe meesters over het meer;

Zij volgden op elkaar, gelijk aan het zwerk de wolken;

De telg des lands allen was nooit zijn heer”.

Artinya :

“Dipantainja tanah Djawa jang berdesak-desakan;

Datang selalu Tuan-tuannja setiap masa;

Mereka beruntun-runtun sebagai runtunan awan;

Tapi anak pribumi sendiri tak pernah kuasa”.

(Mentjapai Indonesia Merdeka, Soekarno, 1933)

Buku ini merupakan kumpulan pidato – pidato Presiden Soekarno yang akhirnya dijadikan landasan pemikiran dan ideologi revolusi Indonesia. Disini juga ada penjelasan dan penjabaran akan amanat Presiden yang tertuang lewat pidatonya. Inilah landasan Indoktrinisasi atau “cuci otak” segenap bangsa Indonesia akan gagasan besar Proklamator kita.

Lewat buku ini kita sebenarnya dapat menyelami sebagian kecil isi pikiran Presiden Soekarno. Ide – idenya akan nation character building bisa kita dapatkan disini. Buku ini diperluas dan diperbanyak hampir oleh beberapa penerbit saat itu guna indoktrinisasi untuk memperdalam keyakinan akan jiwa revolusi yang terus digelorakan saat itu.

Tidak berlebihan memang kalau Presiden Soekarno disebut sebagai orator ulung. Lewat pidatonya yang bergelora banyak rakyat yang terkesima mendengarkan berjam – jam. Memang dibuku ini kita jumpai naskah teks lengkap pidato beliau meskipun saat berpidato beliau tak pernah mengonsepnya terlebih dahulu. Buku ini pernah dilarang beredar dan dimusnahkan semenjak kejatuhan kekuasaan beliau saat orba lalu kembali dicari setelah orba runtuh. Merupakan satu gandengan dengan buku “Dibawah Bendera Revolusi” yang harganya awal – awal reformasi sempat menyentuh puluhan juta.

 

DESERSI Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 5:57 am

Desersi

DESERSI

menembus rimba raya kalimantan.

Diterbitkan Pertama Kali di Rotterdam, 1861 dengan judul “Borneo van Zuid naar Noord” karya Michaël Theophile Hubert (MTH) Perelaer.

Diterjemahkan oleh Helius Sjamsuddin kedalam bahasa Indonesia.

Kutipan :

“… Tapi masih ada utang darah lain di antara kita. Ketika saya menyerang rombonganmu, saya bermaksud mengambil kepala – kepala kalian. Selama pergumulan itu salah seorang anggotamu mati terbunuh, beberapa orangku sendiri lenyap – darah dibalas darah…”

Novel ini sebenarnya novel yang sudah sangat lama sekali terpendam di perpustakaan National Library, Canberra, Australia. Berterima kasihlah kepada Helius Sjamsuddin, yang secara tidak sengaja ketika menyelesaikan disertasinya, menemukan novel ini. Berkat jari jemarinya novel ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Novel ini berkisah tentang empat serdadu bayaran Belanda VOC di Kuala Kapuas (Kalimantan Tengah saat ini), yaitu Schlickeisen (Swiss), Wienersdorf (Swiss), La Cuille (Belgia) dan Yohannes (pribumi Indo keturunan Nias). Mereka melarikan diri dari dinas militer dari bentengnya di Kuala Kapuas. Mereka merasa ditipu oleh kontrak pemerintah Belanda yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik daripada di negara asalnya. Semua ternyata hanyalah bohong belaka, hampir mirip dengan kondisi TKI kita.

Dalam pelarian mereka kearah utara kalimantan, mereka bukan hanya bertemu dengan suku – suku Dayak pedalaman yang barbar tapi juga akhirnya berbaur dengan mereka. Dalam pelarian yang dikejar – kejar oleh militer Belanda mereka juga menyaksikan indahnya alam asli perawan hutan – hutan Kalimantan. Mereka juga turut menjadi saksi dan ikut andil dalam perlawanan rakyat Kalimantan kepada penjajahan Belanda. Dalam pelarian ini pula dikisahkan banyak hal tentang adat istiadat suku Dayak masa lampau, terutama adat pengayauan atau potong kepala.

Meskipun cerita pelarian dalam novel ini fiktif namun setting cerita, nama – nama tokoh, adat istiadat dan catatan sejarahnya adalah benar dan sama persis dengan keadaan saat itu. Sehingga penggambaran dalam novel ini bisa menjadi pijakan sejarah bagi pembacanya. Perelaer sendiri adalah opsir Belanda dengan pangkat terakhir Mayor pada 1879. Ia pernah ikut ambil bagian dalam Perang Banjarmasin dan Perang Aceh. Di Kuala Kapuas sendiri yang dijadikan setting awal cerita ini ia menjadi komandan pos dengan pangkat Lentan Satu selama 4 tahun. Oleh karena pengetahuannya yang sangat luas akan dunia Kalimantan ia banyak menulis tentang suku Dayak. Salah satu yang terlengkap adalah Etnographische Beschrijiving der Dajaks (1870).

Oleh karenanya, siapa saja yang ingin mengenal sejarah Kalimantan dan Dayak, sebagai perkenalan bolehlah membaca novel ini.

 

CERITA CALON ARANG Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 4:29 am

Seri Pramoedya Ananta Toer

CERITA CALON ARANG

Diterbitkan Pertama Kali oleh NV. Nusantara, 1954.

Kutipan :

“Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu setiap orang yang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan, karena itu satu sama lain adalah saudara”

Ini sebenarnya sebuah dongeng rakyat yang sudah sering diceritakan dari mulut ke mulut. Namun kini coba diceritakan kembali oleh Pram dengan gaya tulisannya sendiri. Dongeng yang berkisah di negara Daha atau kediri pada masa – masa kerajaan Hindu. Cerita ini sebenarnya ada dua versi yaitu cerita dari Bali dan Jawa. Cerita yang dipakai adalah yang berasal dari Jawa yang pernah diterjemahkan ke bahasa belanda oleh R.Ng. Purbatjaraka dalam Bidjr. K.I. deel 82 halaman 110-180, kemudian ini dimacapatkan atau dilagukan oleh Raden Wiradat lalu diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1931.

Alkisah di negeri Daha kekuasaan Erlangga, hiduplah seorang peneluh sakti bernama calon arang. Ia meneluh begitu banyak penduduk kerajaan dan kekuatan militer sang raja tak mampu mengalahkannya. Calon Arang dengan “kaki tangannya” membasmi dengan keji semua lawan – lawan politiknya. Sampai akhirnya seorang Empu, bernama Empu Baradah mampu mengalahkannya dengan kekuatan kebaikan.

Mengapa cerita calon arang pernah dilarang beredar pada masa orba ? Apakah terkait penulisnya yang dikaitkan dengan komunis ? Seperti semua karya Pram yang dilarang dan dibakar, Cerita Calon Arang juga mengalami hal yang sama. Satu hal yang pasti, disini Pram ingin menyampaikan pesan terselubung bahwasanya kekuatan hitam yang menghalalkan segala cara yang seringkali digunakan untuk membasmi sesama manusia adalah diakibatkan karena pemiliknya tak ingin ada orang lain yang berseberangan pemikiran dengannya. Dan satu hal yang pasti, sekuat – kuatnya kekuatan jahat itu suatu ketika akan musnah oleh kekuatan kebaikan.

 

BUKAN PASAR MALAM Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 4:14 am

Seri Pramoedya Ananta Toer

BUKAN PASAR MALAM

Diterbitkan Pertama Kali oleh Balai Pustaka, Jakarta, 1951

Kutipan :

“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun – duyun lahir di dunia dan berduyun – duyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasar malam. Seorang – seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas – cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana”

Roman ini berkisah pada awal – awal revolusi perang kemerdekaan dengan setting di Blora, Jawa Tengah. Menceritakan mantan tentara revolusi yang miskin terpaksa harus meninggalkan Jakarta yang memberi harapan dan hiruk pikuk oleh karena panggilan ayahnya yang sakit keras akibat TBC.

Di kampung halamannya tidak hanya ia menemukan kenyataan hidup yang sebenarnya namun juga realitas bangsanya sendiri yang masih baru lahir. Disini Pram melalui tokoh “aku” dapat begitu menggambarkan aura kesedihan, kegeraman, kegamangan, kemiskinan dan nestapa. Roman ini juga dengan gamblang menggambarkan bagaimana tokoh politik kita memang busuk sejak negara ini dilahirkan.

Roman yang singkat dengan aura mistis yang bisa benar – benar dirasakan oleh hati pembacanya. Cerdas.

 

AGRESI MILITER BELANDA Agustus 14, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 4:11 am

 


AGRESI MILITER BELANDA

Memperebutkan Pending Zamrud Sepanjang Khatulistiwa 1945/1949

Diterbitkan Pertama Kali oleh Unieboek b.v., Bussum, 1979. Oleh Pierre Heijboer. Dengan judul, “De Politionele Acties. De strijd om “Indie” 1945/1949″

Sebuah buku sejarah dengan sudut pandang yang berbeda. Seperti kita ketahui sejarah seringkali memuat pro dan kontra. Ada dua kepentingan yang bermain, antara pihak yang satu dengan yang lain. Seringkali kita membaca sejarah hanya melalui satu sumber informasi saja. Dalam buku yang didukung penuh oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Tall, -Land- en Volkenkunde) ini memuat catatan sejarah dari pihak Belanda seputar Agresi Militer Belanda menurut sejarah Indonesia atau Aksi Kepolisian menurut sejarah Belanda sejak 1945 sampai 1949.

 

Disini diceritakan bagaimana susah payahnya tentara Belanda yang telah babak belur sebagai korban Perang Dunia Ke-2 harus kembali berjibaku untuk merebut kembali apa yang pernah dibangun dan dimiliki di tanah Hindia Belanda. Dunia telah berubah, bangsa Indonesia yang dahulu dikenal sebagai het zachtste volk op aarde atau bangsa yang paling halus di bumi, sekarang telah berani melawan “tuannya”. Begitu banyak kenangan, begitu banyak kepentingan dan kekuasaan yang harus kembali direbut dari mantan “babunya”, membuat Belanda harus memeras keringat dan membanting tulang untuk kembali kerumah keduanya. Walau dengan hutang dan pinjaman, dengan sisa – sisa kekuatan, dengan protes dari pihak manapun dan perlawanan sengit pihak republik (menurut Indonesia) atau ekstremis (menurut Belanda), mereka berusaha mati – matian untuk kembali.

 

Memang tujuan utama dari aksi ini yang sebenarnya adalah ekonomi dan politik untuk membantu kembali kejayaan Netherland. Buku ini benar – benar cerita yang mendetail dan memiliki sisi humanis dari pihak tentara Belanda. Buku ini membuka cakrawala pikiran kita akan masa – masa perang kemerdekaan dari sisi yang berbeda. Dari sinilah kita mendapatkan dua hal yang penting yang berbeda, apabila menurut Indonesia kemerdekaan kita adalah 17 Agustus 1945, maka menurut Belanda, kita baru merdeka pada 19 Desember 1949.

 

Maryamah Karpov, Blunder Andrea Februari 10, 2009

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 3:04 am
Tags: , , , , , , ,

Posting ini sebenarnya agak terlambat. Sudah beberapa bulan lalu seri tetralogi Laskar Pelangi yang terakhir yaitu Maryamah Karpov dijual dipasaran. Saya sih ndak beli bukunya cuma pinjam bukunya di persewaan buku. Maklum bukan pembaca yang berlimpah uang dan termasuk pengikut gratisan.

Sejatinya saya mempunyai over predicted terhadap Maryamah Karpov. Sebagai seri pamungkas maka tentunya semua kemampuan Andrea Hirata disini akan dikeluarkan atau paling tidak seperti semua cerita serial maka semua dahaga penasaran pembaca pasti akan dipuaskan. Mungkin ini juga dirasakan oleh semua pencinta laskar pelangi. Apalagi pemanasan buku Maryamah Karpov sudah sejak lama, dipanaskan oleh Laskar Pelangi on the movie yang meledak, ditambah pengunduran jadwal terbitnya.

Namun ternyata seperti kata – kata Andrea sendiri dalam buku Maryamah Karpov bahwasanya dia juga over valued dalam menaksir kehidupannya dan asal namanya. Maka bagi saya pribadi buku seri terakhir ini menjadi sedikit blunder bagi Andrea. Isinya tidak seperti yang kita harapkan bahwasanya disinilah puncak petualang hidup Andrea atau cintanya dipuaskan.

Cerita A Ling yang dicari keberbagai penjuru dunia ditampilkan disini lagi namun lebih bertele – tele pada masalah pembuatan kapalnya, setelah Andrea dapat mencari A Ling maka ceritanya pun hanya sampai disitu. Cerita cintanya dengan A Ling seakan dipercepat langsung ketika Andrea meminta restu ayahnya. Tercatat hanya satu kali saja A Ling diceritakan lagi setelah kembali lagi ke Belitong. Ini tentu tidak sebanding dengan cerita ketika ia mencari – cari A Ling di seri – seri yang lain. Sejak seri pertama saja sudah di ceritakan bagaimana pencarian Andrea akan A Ling.

Cerita Lintang pun demikian. Memang Lintang banyak disebutkan disini, terutama saat mendampingi Andrea dalam pembuatan kapal dari pertama sampai akhir. Namun Andrea lupa menceritakan bagaimana perjuangan bocah nelayan Lintang itu bisa bangkit dari supir truk menjadi juragan kelapa. Padahal bagi saya itu yang saya tunggu – tunggu.

Kita sejak seri pertama Laskar Pelangi mungkin juga bertanya – tanya siapa Maryamah Karpov itu ? Bagi pembaca mungkin ketika melihat cover depan buku Maryamah Karpov mungkin menduga itu foto A Ling, karena memang wajah wanita di cover itu sedikit berwajah etnis tionghoa. Namun akhirnya kita semua tahu di buku terakhir ini, tapi hanya segelintir saja si Maryamah ini diungkap. Ternyata Maryamah hanyalah orang yang banyak tahu betul tentang taktik catur bukan wanita yang lahir di Rusia.

Jadi …. buku terakhir Andrea memang sedikit melenceng dari dugaan saya atau bahkan pembaca yang lain. Buku ini sebenarnya lebih bersifat buku antropologi budaya. Karena dibuku ini memang banyak dijlentrehkan bagaimana budaya sehari – hari masyarakat Belitong. Kita jadi tahu bagaimana sifat – sifat suku melayu, Khek, Tionghoa disana. Kita jadi tahu seperti apa kehidupan warung kopi disana dan permasalahannya. Kita jadi tahu seperti apa Belitong setelah melarat. Kita jadi tahu sejarah Belitong dan sekitarnya. Tak kalah lucu kita jadi tahu kenapa orang disana memiliki gelar yang lucu – lucu, apakah Andrea sudah minta izin kepada semua orang warung kopi itu ?? hehehehe…..

Memang Andrea adalah penulis dadakan. Karyanya baru Tetralogi Pelangi ini dan baru kali ini dia menulis dan menjadi best seller. Karyanya memang patut diacungi jempol bisa menenggelamkan Kang Habiburahman yang lebih dulu ngetop meski pasarnya sedikit berbeda. Tapi mungkin Andrea masih perlu terus bertansformasi untuk menjadi penulis legenda. Masih perlu waktu mungkin. Jujur bila disuruh memilih buku mana yang paling menunjukkan Andrea dan yang paling berkualitas dari segi sastra maka seri Sang Pemimpi adalah yang terbaik.

Teruslah membuat karya Andrea.

 

LELAKI JAHANAM Maret 11, 2008

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 7:45 am
Tags: , , ,

          Hujan yang berderai tercurah dari langit yang kelam. Butir air hujan membasahi diriku, kubiarkan ia mengalir melewati kedua mataku. Bercampur dengan air mataku yang mulai turun membasahi pipiku. Hatiku dingin, sedingin air hujan yang membasahi jiwaku. Hatiku hancur seirama dengan tetes air hujan yang menerpa badanku. Mataku menerawang, padanganku kabur, tertutup kabut – kabut amarah yang mulai melingkupi hatiku.

          Aku berteriak. Berlomba dengan suara guruh yang membahana. Telingaku tuli. Lidahku kelu untuk ucapan kata – kata manis. Ia sudah habis terbawa semua memori. Hanyut dalam linangan air mata.

Ingin rasanya kurobek hatiku. Dimana memori semua tentang dirinya bersemayam. Aku tak peduli apakah aku masih memiliki hati atau tidak. Aku berubah. Aku berubah menjadi lelaki jahanam.

————

Jam 2 siang. Handphoneku berbunyi. Lagu pendek dari Frank Sinatra mengalun. Sebuah photo terpampang. Foto termanis dari dirinya.

“Halo maniss…. Apa kabarmu hari ini ?”

“Nggak baik.” “Kok nggak baik ? Sakit ?”

“Aku nggak baik karena kangen kamu……..” Suara manja diujung sana langsung membuatku terbang keawang – awang.

“Aku pingin obat. Obatnya itu dirimu. Ketemuan yukkk … ditempat biasa.”

“OK. Jam berapa ?”

“Aku tunggu jam 8 yach. Jangan telat lho sayang.”

“Pastilah. See you, jam 8”.

“Muachhhh”, ciuman manja terdengar menutup percakapan.

Gila. Mimpi apa semalam ? Suntuk –suntuk begini dapat telpon dari dia. Aku langsung bangun dari pulau kapukku. Bergegas mandi dan mencari – cari baju terbaik dilemari. Mencukur jambangku yang tumbuh liar. Memakai parfum yang tergeletak di bawah meja. Kartu kredit dari dalam lemari kumasukkan kedalam dompet. Aku siap tempur.

30 menit waktu perjalanan ke tempat pertemuan. Sepeda motorku masuk kepelataran parkir. Dengan tergesa – gesa aku menaiki eskalator. Kulihat jam tangan. 19:50.

“hai …” Suara manis dari belakangku menyapa. Wajah manis yang tak kan kulupa muncul dihadapanku.

“Jam 8. Ndak telat khan ?”, ujarku.

“Yup…. Ayo jalan – jalan dulu.” Ia berkata seraya menggandeng tanganku. Senangnya. Sudah lama aku tidak merasakan lembutnya jemari dia menyentuh lenganku.

“Tumben kamu telpon mau ketemu aku ?”

“Kamu ndak ingat apa ?”

“Ingat apa ?”

“Besok khan ulang tahunku.”

“Ya ingat lah… , tapi itu khan baru besok.”

“Iya emang … tapi hadiahnya kan boleh hari ini,” pintanya dengan suara yang sangat manja.

Ahhh ….. all about a gift rupanya. “emang kamu mau minta apaan sih ?”

“Ya …. Kita jalan – jalan aja dulu, sapa tahu ntar ada yang bagus.”

Deretan butik – butik berkilauan diterpa lampu – lampu sorot yang ditata sedemikian rupa. Merek – merek luar negeri menghiasi matanya, terpantul di matanya yang indah. Mata yang dahulu meluluhkan hatiku dan kini turut meluluhkan isi dompetku.

Zara. Nama itu terpampang jelas diatas butik. Dengan huruf warna hitam besar. Kaki putih mulusnya melangkah masuk kedalam dan aku mengikutinya. Sejenak kemudian jemari lentiknya sibuk memilah – milah gantungan baju. Kemudian satu gaun dibawa masuk kedalam kamar pas.

“Bagus ndak ?” dirinya keluar dari kamar pas memamerkan tubuh seksinya.

“aku nggak bisa berkata – kata, bajunya yang cantik atau orangnya yang cantik ?”

“ahhh … kamu. Aku pilih yang ini ya, sayang.”

Kartu kredit tergesek. 350 ribu rupiah.

Tangannya menggandeng lagi. Kini berpindah ke butik sepatu. Vis n Vis. Kaki indah itu menggesek kartu kredit lagi. 250 ribu rupiah.

Kami masuk lagi ke sebuah butik kecil. Chic. Satu bawahan menempel dipinggulnya yang bak biola. Mesin kartu kredit berbunyi lagi. 200 ribu rupiah.

Kini toko tas menggoda matanya lagi. Tas kulit Braun Buffel menggantung di bahunya. Sekali lagi kartu kredit digesek. 450 ribu rupiah.

Jam 21:45. Kartu kreditku terselamatkan dari kelelahan.

“Besok ketemu lagi ya.. sayang,” pintanya sebelum kami berpisah.

“Dimana ?”

“Ehhhmmmm ….. gimana kalo di Shangrilla, di chetau ?”

“Okey…. Sampai ketemu besok yah.” Satu ciuman lembut mendarat di pipiku.

Ia menghilang di balik pintu kaca, menenteng tas – tas belanjaan dikedua tangannya. Diriku ? Pulang dengan perasaan bahagia. Bahagia ?

Esok hari. Jam 16:45. Aku duduk di restaurant Prancis, remang – remang oleh lilin dimeja. Musik jazz mengalun lembut dari band dipojok ruangan. Sudah 15 menit aku duduk dimeja. Kemudian dari balik partisi muncul seorang gadis, dengan gaun mahal bermerek. Indah. Seksi.

“Selamat Ulang Tahun ya…,” ujarku. Senyum manisnya menghiasi wajah cantik dengan polesan make up. Bibirnya merah lembut.

Kata – kata terus meluncur. Ucapan mesra bak air bah yang membanjiri perasaanku. Cinta lama yang telah layu seakan mekar kembali. Subur, disirami oleh senyuman dirinya dan mekar, disinari oleh binar matanya. Sungguh membuatku terbang ke awang – awang.

Desert sudah keluar. Banana Split with Ice Cream meluncur mulus ditenggorokanku, mendinginkan hatiku yang terbakar asmara.

Kami berpisah dilobby bawah. Ciuman manis mendarat lagi dipipi. “Thanks honey…. You are always the best,” ucapnya lembut di telingaku.

Aku pulang dengan perasaan bahagia. Kakiku melangkah ringan ke tempat parkir. Sesampainya di sepeda motor, kurogoh kantong celana. Sial …. Kunciku ketinggalan.

Bergegas aku ke lantai 5. “Kunci ?” ujar resepsionis didepan.

Ahhh….. “Terima kasih.”

Aku masuk lift. Tombol UG kutekan. Lift menutup. 4,3,2,1, dan UG. Pintu lift terbuka. Kakiku melangkah keluar. Seorang pria necis dengan kemeja putih dan celana panjang coklat tua menggandeng wanita yang menggelayut mesra didepanku. Wanita dengan gaun hitam yang sangat kukenal karena wanita itu memang sangat kukenal.

“Rena …….. ?????”

Wanita itu terbelalak. Wajahnya pucat seketika namun dengan cepat roman mukanya berubah.

“Ehhh… eka. Apa kabar ?,” ujarnya membuatku bingung. Bukankah itu Rena yang dua hari ini membuat cinta lamaku bersemi kembali. Wanita yang tadi menemaniku makan malam. Wanita yang menghabiskan isi dompetku. Wanita yang ….. ahhh ….. wanita bangsattttttttt……..

Pintu lift menutup. Wanita itu hilang dari pandangan.

Aku pulang dengan dendam. Hatiku panas membara, namun kali ini bukan karena asmara, karena angkara murka. Semurka alam yang mencurahkan hujan dan petir dilangit malam. Ia mengiringi kepulanganku. Mengiringi sedihku, marahku, kecewaku dan dendamku.

Mengapa aku selalu menjadi kerbau yang dicokok hidungnya. Kerbau yang dungu terjerat tali asmaranya. Dikekang oleh impian – impian akan dirinya. Dipenuhi oleh harapan palsu. Harapan untuk memiliki cintanya.

———

 

6 bulan kemudian.

Handphoneku berbunyi. Satu pesan masuk dari Rena. Kubaca dengan senyum puas. Puas akan dendamku. Pesan itu berbunyi :

“BANGSAT KAMU EKA. KAU TELAH MEMBUATKU HAMIL”

 

 

 

 

 

 

SUARA KERBAU Maret 11, 2008

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 7:36 am
Tags: , ,

Bagian Ke-Tiga

 

 

Mimpi semalam mulai mengganggu diriku, sepanjang hari mataku hanya menatap rumah Tuan.  Rumah berdinding gedek itu keemasan ditimpa matahari pagi. Tetes air masih membasahi lumut – lumut yang mulai memenuhi  genting rumah. Asap mengepul tipis dari balik atap rumah. Nyonya memasak tempe kesukaan Tuan. Den Paimin mandi di balik tutup gedek dibelakang rumah. Sumur yang selalu melayani hausnya Keluarga Tuan dan diriku.

          Den Paimin selesai mandi dan berpakaian putih merah. Sepatu hitamnya mulai kusam dimakan waktu. Tasnya pun juga mulai dimakan cahaya. Namun wajahnya bahagia, semringah menatap hidup diterpa matahari pagi. Ia masuk kedalam rumah, tak berapa lama keluar kembali bersama Nyonya.

          “Bu … Paimin berangkat dulu ya.”

          “Iya. Beritahu Pak guru, suruh mampir nanti sore sepulang mengajar agar mampir kerumah”

          “Baik bu”, ujar Den Paimin seraya bersalaman mencium tangan Nyonya.

          Setiap pagi Den Paimin selalu pergi melalui belakang rumah, menengok diriku dirumahku. “Pagi … Item.” “kamu kok masih tiduran ?”

          “item …  sakit ? “ “ Item lemes ? “item nggak makan ?” Cecaran pertanyaan yang melegakan hatiku.

Lega oleh karena mimpi hanyalah mimpi yang menghampiri di kehidupan yang lain. Mimpi yang bukan nyata. Dan jangan menjadi kenyataan.

          Aku bangun dan menggosokkan tandukku ketangan Den Paimin. Ia menggosokkan tangannya ke kepalaku. “Aku sekolah dulu ya, tem .. “

          Den Paimin berlalu disamping rumah. Berlompatan ia menghindari kubangan air. Lalu hilang dibalik pohon mangga dan muncul lagi dijalan kecil didepan rumah lalu kembali hilang dibalik turunan jalan. Lalu terdengar suara anak kecil yang lain, teman main bola setiap sore.

 

——–

 

          Matahari mulai terang. Cahaya menerobos dibalik atap rumpunku. Udara juga mulai hangat. Tuan keluar dari balik pintu belakang rumah. Membawa parang dan memakai sepatu lars. Sebotol air dan tas dipunggung. Aku ingat hari ini Tuan akan berburu bersama orang – orang dibalik bukit didepan kampung. Orang – orang berambut cepak dan tegap. Menenteng bedil. Terkadang naik mobil bersuara menakutkan. Beriringan sebanyak 3 – 4 mobil. Mengepulkan asap pongah.

Tuan sering ikut naik diatasnya. Berdiri sambil berbicara dengan orang yang berseragam loreng dan bertopi. Tuan terkadang ikut menenteng bedil yang diberikan oleh orang – orang itu. Masuk hutan lalu keluar lagi beberapa hari kemudian.

Aku sering menyaksikan dari balik kandangku. Rumah Tuan berada di atas bukit kecil. Bagian depannya menghadap kearah matahari terbit. Jalannya menurun tapi tidak terlalu tinggi. Jalan didepan rumah mengular dinaungi jajaran pohon ditepian sungai. Diseberangnya terhampar sawah. Diseberang sawah terdapat bukit yang berjajar beberapa rumah. Jalanan menyeberangi sungai yang berisi batu – batu kali besar. Airnya tidak dalam pun tak deras. Beberapa alirannya masuk kedalam sawah. Jembatan kayu besar melintang menghubungkan dua bagian kampung. Rumah kepala desa diseberang sana, begitu juga sekolah Den paimin, namun tidak terlihat dari bukit rumah.

Dikampung seberang sungai juga terdapat lapangan luas. Lapangan tempat orang – orang kampung terkadang berkumpul semalam suntuk sampai pagi. Didepan lapangan itu terdapat balai kampung. Disini orang – orang menyaksikkan pertunjukkan dengan bahasa yang aku tak begitu mengerti. Terkadang saja Tuan mengucapkannya, ketika ia bertemu orang – orang seumurnya. Den paimin juga berbicara bahasa tersebut namun bila bertemu orang yang lebih tua. Disini seseorang memainkan pertunjukkan dengan disaksikan berpuluh – puluh pasang mata. Anak kecil terkadang turut serta duduk menonton disela – sela orang tua sambil terkantuk – kantuk.

Dilapangan juga sering ada pertunjukkan disiang hari. Bermacam – macam acara, mulai dari manusia yang membaca doa – doa sampai manusia yang terkadang kehilangan akal memakan pecahan kaca. Di waktu – waktu tertentu teman – temanku yang lain dari rumpun sapi mereka bunuh dilapangan itu juga. Digorok dengan pisau tajam dilehernya. Aku mendengarnya dari sapi – sapi yang lewat di jalan kampung, mereka bercerita bahwasanya mereka bahagia untuk mati. Mereka yakin bahwa mereka mati ditangan manusia untuk pergi ke surga.

Oh ya … mungkin kalian bingung, kami kerbau juga mengenal surga ? Kami kenal itu, apakah kami juga kenal Neraka ? Ya … Tapi kami selalu diberitahu bahwa kami selalu menuju surga, kembali menemani manusia dialam sana. Kami juga selalu yakin bahwa hanya kaum Manusia yang bisa masuk neraka. Kami pasti masuk surga, atas semua balasan jasa – jasa kami didunia yang setia menemani manusia. Kami tidak pernah peduli apakah kami hidup bahagia ataukah hidup menderita dialam dunia. Kami pasti masuk surga. Karena itu sapi – sapi yang kutemui untuk dibunuh itu selalu tersenyum dan gembira. Bagi mereka, dengan mereka mati ditangan manusia dihari itu mereka telah menjalankan kesetiaan yang paling tinggi. Ujar mereka juga, Manusia – manusia akan menaiki mereka disurga dengan wajah – wajah gembira.

Terkadang aku pun iba melihat manusia. Mereka yang hidup bahagia belum tentu masuk surga. Pun begitu, mereka yang selalu hidup menderita belum tentu masuk ke surga. Apakah itu adil bagi mereka ? Hidup menderita di dunia dan juga menderita di Neraka ? Namun tetua kami selalu bilang katanya itu adalah dosa manusia kala didalam surga dahulu. Dosa yang pernah melanggar perintahNya. Aku selalu berharap Tuan, Nyonya dan Den Paimin dapat aku selalu temani sampai di surga nanti.

Karena itulah mimpiku tadi malam mengganggu diriku. Aku takut bila aku berpisah dengan Keluarga Tuan. Aku takut bila Tuan masuk Neraka. Itu melebihi takutku bila tak bisa bersua dengan Ibu lagi seperti dalam mimpi. Karena aku yakin aku pasti bertemu Ibu di surga nanti.

 

——–

Tuan berjalan kekandangku, diiringi Nyonya yang memanggul keranjang bekerja keladangnya. Tuan juga punya ladang di belakang rumah. Ladangnya berisi jagung, ubi, dan berpuluh pohon aneka buah. Ladang tuan juga pernah  dirusak babi hutan, padahal Tuan sudah membuat parit dan pembatas pagar yang tinggi dipinggiran ladang. Masih saja terkadang ada celah yang bisa membuat babi hutan itu masuk. Oleh karenanya Nyonya sering memeriksa kondisinya, selain merawat ladangnya.

Tuan berpamitan dengan Nyonya. Ia berkata akan masuk hutan selama 2 hari. Oleh itulah Nyonya akan sendiri dirumah. Sebenarnya Tuan selalu keberatan untuk meninggalkan rumah. Namun demi hubungan baik dengan orang – orang berambut cepak, ia selalu menuruti kemauan mereka. Tuan memang mengenal hutan di pinggir kampung. Konon, orang tua Tuan adalah penjaga hutan dahulunya. Kakeknya juga begitu dahulunya.

Dahulu hutan itu selalu dijaga oleh orang – orang kampung. Dijaga selayaknya harta kampung. Air sungai yang berkelok – kelok itu keluar dari dalam perut hutan. Hutan itu merambat naik keatas punggung pegunungan. Letaknya persis dibelakang perkampungan. Dari belakang bukit rumah ia terlihat indah. Kabut sering turun lamat – lamat dari punggung pegunungan keperkampungan. Dari balik kabut itulah dikala malam keluar babi hutan itu. Dan kesanalah nanti tuan masuk hutan. Diujung sungai, terdapat jalan tanah yang lebar masuk kedalam perut hutan. Terus naik perlahan mengikuti belahan sungai.

Aku tidak pernah melalui jalan itu. Aku dahulu masuk kekampung ini lewat muka kampung. Aku hanya pernah mendengar cerita dari anak – anak kecil dikampung. Konon katanya, jalan itu masuk berliku – liku di punggung pegunungan dan menghilang dibaliknya. Dibalik punggung itu terdapat lembah. Lembah itu tidak terhampar luas. Lembah itu adalah permulaan dari punggung gunung yang sebenarnya. Disana hutan sangat rapat. Sungai dikampung berhulu di gunung sana, airnya deras namun karena menuruni lembah itu alirannya melambat. Orang kampung menyebutnya Sungai Hitam dan gunung itu mereka sebut Gunung Merapi.  Sungai Hitam disebut hitam karena airnya seolah bewarna hitam karena batu kali berwarna hitam dan gelapnya hutan disana.

Dari arah matahari terbit punggung gunung Merapi akan memutar. Disana terdapat sungai lagi, Sungai Putih namanya. Alirannya lebih tenang karena alirannya mengikuti lembah yang menantang mentari pagi lalu berkelok menuruni lembah ke padang luas. Disanalah katanya terdapat kaum kerbau yang lain, kaum kerbau seperti cerita Ibuku, yang hidup bersama.

Tuan tidak akan pergi sejauh itu. Ia hanya akan sejauh lembah kecil dibalik punggung pegunungan. Disana terdapat kawanan babi hutan yang sering masuk kampung melalui sungai Hitam. Kini ia berjalan ke halaman depan rumah dan Nyonya berjalan kejalan kecil dibelakang rumah. Aku bisa menyaksikan keduanya dari kandangku yang berada tepat diatas bukit. Tuan hilang dibalik turunan dan Nyonya hilang dibalik pepohonan masuk ke jalan ladang yang samar – samar tertutup pohon.

Aku kembali duduk dikandang memakan rumput menghabiskan hari, seraya menunggu Den Paimin datang. Biasanya sore hari nanti ia mengajakku turun ke lapangan bola dipinggir sungai.

 

SUARA KERBAU Maret 11, 2008

Diarsipkan di bawah: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 7:26 am

Bagian Ke-dua

Tadi malam aku bermimpi. Ya …. Kerbau pun dapat bermimpi bukan hanya kalian manusia. Perkara seperti apa kerbau bila bermimpi tanyakan saja pada manusia yang pernah melihatnya. Semua mahkluk hidup pasti punya mimpi dan pernah bermimpi. Mimpiku ini belum pernah aku mimpikan tapi mimpi ini mengganggu diriku.

Dalam mimpi aku melihat ibu, ya … ibuku, ibu kerbau. Memang aku sudah lama tak bersua dengan ibu. Sudah 24 kali musim panen aku tidak bertemu dia. Sejak aku berpisah dengan dia di sebuah lapangan luas. Disana berpuluh kerbau berkumpul, namun beratus manusia juga berkumpul. Waktu itu kabut masih ada dilapangan. Manusia dengan berselempang sarung di dada dan dipinggang saling berbicara. Kala itu aku belum begitu paham bahasa manusia seperti saat ini. Beberapa yang kuingat ketika tuan bersalaman dengan orang lain berkumis tebal dengan raut muka yang tajam menyerahkan tali kekangku pada tuan. Mulai saat itulah aku berpisah dengan ibuku, tapi jangan kau bayangkan seperti sebuah perpisahan yang menyedihkan. Ibu selalu bilang bahwa semua kerbau – kerbau akan sendiri. Tidak ada kerbau yang selalu bersama ibunya sampai tua. Ibu pun juga seperti itu, berpisah dengan nenek yang tak pernah kukenal.

“Kita kerbau tak pernah menangis ketika berpisah”. Aku ingat sekali nasihat ibu yang selalu diucapkannya.

“Bukankah kau pernah bercerita bahwa kerbau dipadang rumput yang luas dahulu kala selalu bersama ?”

“Ya … aku memang pernah bercerita tentang itu. Tapi itu tentang kerbau dizaman dahulu kala. Aku belum pernah bertemu kerbau yang selalu bersama saat ini”

“Apakah itu berarti masih ada kerbau yang bersama disuatu tempat, ibu ? tanyaku keheranan.

“Entahlah. Tapi kita adalah kerbau pekerja. Kita kerbau pekerja selalu sendiri. Kita hidup bersama manusia.”

“Tidak bisakah kita bekerja bersama, ibu ?”

“Tidak bisa anakku”

“Kenapa tidak ?”

“Karena kau kerbau jantan dan kau selalu hidup sendiri tanpa ibumu. Kerbau jantan tidak bersedih akan hal itu.”

Itulah yang selalu diucapkan ibu ketika aku kecil dahulu. Dan pagi itu pun aku berpisah dengan ibu. Ibu hanya menganggukkan kepalanya padaku dan aku pun berlalu dari dirinya dengan langkah tegap. Bayangan ibu lambat laun hilang bersama langkahku mengikuti tuanku membawaku kerumah ini. Rumah yang diberikan tuan untukku sendiri.

Oh ya …. Kembali pada mimpiku tadi malam. Begini ceritanya. Aku merasa berjalan pada suatu padang ditepian hutan. Tapi bukan tepian hutan disamping sawah, bukan pula padang dimana tempat Den Paimin sering bermain bola bersama anak – anak yang lain. Juga bukan hutan dimana tempat babi – babi hutan itu sering keluar. Hutan itu lebat sekali, rapat dengan pepohonan yang tinggi menjulang. Padang itu luas sekali sejauh mata memandang hanya rumput yang kulihat. Matahari bersinar terang sekali, seakan ia tidak akan pernah redup, hingga ujung padang rumput tak dapat kulihat, ujungnya putih bersih menyilaukan. Dari ujung padang rumput itu pula lah muncul bayangan yang berjalan kearahku. Aku ingin melihatnya lebih jelas namun mataku tak dapat melihatnya, sampai kupicingkan mataku pun tak dapat melihatnya dengan jelas. Akhirnya aku menunggu dan tak berapa lama bayangan itu semakin jelas dan jelas sehingga aku bisa mengenalinya.

“Ibu …. ??”

Kerbau itu mengangguk. Dibelakangnya nampak seekor kerbau lain. Kerbau itu memiliki tanduk yang besar. Sama besar seperti tanduk yang aku punya. Badannya besar seperti diriku, ototnya juga bermunculan dikulitnya. Kulitnya juga hitam legam seperti aku. Nampak jelas lecutan cemeti seperti bekas - bekas luka di diriku. Namun ia nampak lebih tua dari aku.

“Siapa dirimu yang berada dibelakang ibuku ?”, tanyaku keheranan.

“Aku ayahmu”

Aku tidak pernah melihat ayahku. Ibu selalu berkata bahwa ayahku pergi masuk hutan dan menghilang ditelan gelapnya malam. Ibu saat itu hanya berkata bahwa saat itu ayah lari dari kawanan manusia. Ayah lari dan berlari memasuki hutan. Ibu terpisah dengan ayah karena tak bisa berlari mengikutinya. Perut ibu besar mengandung diriku. Hingga ibu akhirnya tertangkap dan dibawa manusia. Ibu selalu bercerita ketika malam tiba, ketika diriku telah mulai mengantuk. Sehingga aku tertidur dan tak pernah tahu kelanjutan kisah ibu. Setiap kali ibu kutanyakan akhir cerita itu, ibu selalu berkata,

“Dan disinilah kita berada, disinilah kau juga dilahirkan, dikala fajar mulai menyingsing.”

Kerbau jantan yang mengaku ayahku itu maju kehadapanku. Ia mengajakku berjalan disisi sebelah kanannya dan ibu ada disisi sebelah kiriku. Kami berjalan bersama. Kami berjalan menuju hutan. Seketika kami mulai memasuki hutan, pepohonan seolah menyingkir. Benalu dan akar - akar rotan naik keatas pohon. Jalan kecil terhampar didepan kami. Berkelok kelok didalam hutan. Ujungnya tak pernah terlihat. Cahaya matahari lama - lama meredup. Sinarnya hanya berkerlip kerlip kecil meninggalkan temaram didalam hutan. Disisi hutan kabut seakan mengikuti langkah – langkah kami. Tiada suara. Sunyi. Senyap. Hanya langkah – langkah kami. Aku tak bersuara. Ibu tak bersuara. Kerbau yang mengaku ayahku pun tak bersuara.

Kami terus berjalan memasuki hutan. Semakin lama aku semakin tertinggal oleh langkah ibu dan kerbau yang mengaku ayahku. Aku mempercepat langkahku. Namun semakin cepat aku melangkah, semakin cepat pula keduanya meninggalkan aku. Akhirnya aku hanya bisa melihat punggung mereka dalam temaram. Aku berlari menyusul. Aku berlari dan berlari namun sama saja. Semakin lama aku berlari semakin mereka menghilang hingga akhirnya aku terhenti kelelahan. Nafasku tersengal. Nafasku sesak hingga kepalaku tertunduk. Mataku terpejam.

Udara menjadi panas. Mataku terbuka. Warna merah. Merah api. Api dimana – mana. Asap dimana – mana. Nafasku panas. Mataku perih. Disamping kananku, seberkas ujung dengan asap bergulung – gulung seakan meninggalkan sarangnya. Aku berlari mengikutinya. Nafasku berat. Langkahku berat. Tapi aku tetap ingin berlari. Lari karena takut.

Sampai akhirnya aku dapat keluar dari kepungan asap. Api tetap menjilat dimana – mana. Namun kali ini aku melihat rumah – rumah yang terbakar. Pohon turut terbakar. Aku berlari menghindari api yang menjilat – jilat. Kampung terbakar. Kampung ditelan api. Tapi aku sendiri.

Dimana manusia ? Dimana sapi ? Dimana kambing ? Dimana ayam ? Dimana ibu ?

“Iiibbbbuuuuuuu …… Iiiibbbuuuuuu….. !!!!”

Tenggorokanku perih. Asap masuk termakan. Tapi aku tetap berteriak. Aku berputar – putar kebingungan.

“Ibbbuuuuu ….. “

“TTuuaaaannnn………” Tetap tiada siapa pun.

Lambat laun kakiku tak kuat lagi berdiri. Lambat laun aku terduduk. Lambat laun aku mulai mengenali tempat yang terbakar. Rumah di tepian sawah, berdinding gedek, bergenting merah kehijauan dan bernaungkan pohon mangga besar. Tapi semua mulai terjilat api. Gentingnya roboh perlahan. Dindingnya terjilat api. Semakin besar dan besar sehingga akhirnya pohon mangga mulai terbakar. Rumah Tuan.

“Tu .. tu .. tu.. an”. Suaraku lirih keluar dari mulutku. Tapi, tuan tiada tampak. Nyonya tak tampak. Den Paimin tak tampak.

Dimana mereka ? Apakah mereka telah pergi ? Apakah mereka tahu rumahnya terbakar ?

Apakah ? Apakah ?

Jangan ! Jangan ! Jangan – jangan mereka turut terbakar.

Tidak ! Tidak ! Tidak !

Nafasku makin sesak. Paru – paruku makin panas oleh asap. Asap terus masuk dari hidungku. Asap seakan – akan masuk dengan sendirinya kedalam diriku. Makin lama, makin terasa pedih sampai kemata. Mataku akhirnya bercucuran air mata. Air mata antara perih dan sedih. Sedih akan rumah Tuan yang terbakar. Sedih akan kehilangan ibu. Sedih kehilangan kerbau yang mengaku ayahku. Tapi aku juga takut. Takut bila akupun hilang ditelan api. Aku pun menangis.

Menangis. Menangis dan akhirnya aku lemas. Lemas dan semua kembali gelap dalam tidur.