Akhirnya rasa penasaran itu terpuaskan sudah. Setelah hanya mendengar kabar, melihat dikoran, dan melihat trailer fimnya. Akhirnya hari ini dengan semangat membara maka saya sudah mengantri semenjak pukul 10 pagi di depan XXI Tunjungan, Surabaya. Ternyata banyak juga para pengantri yang telah menunggu yang serupa dengan saya, penggila dan penasaran dengan Laskar Pelangi yang difilmkan.
Layar – layar monitor yang menggoda sedari tadi telah menayangkan gambar laskar pelangi. Tepat Pukul 11 siang, pintu XXI dibuka. Saya langsung lari beradu cepat dengan pengantri lainnya. Pertanyaan mbak ticketing, “Mau nonton apa ?” Saya jawab dengan tegas dan percaya diri, “Studio 1, laskar pelangi, 2 orang !” dan yang membuatku keluar dari antrian dengan langkah bangga adalah saya orang
pertama yang memesan. Laskar pelangi, Premiere, Orang pertama hehehehe …. cinta banget keliatannya sama laskar pelangi ya hehehehee…..
Studio Satu XXI lumayan penuh, terbukti hanya beberapa bangku terdepan kosong. Mayoritas penonton adalah anak muda umur belasan dan dua puluhan, sisanya adalah orang tua dengan umur tiga puluhan. Artinya penonton adalah kaum muda dan sepertinya memang fans berat laskar pelangi, karena banyak yang memang rela mengantri seperti saya.
Bagi pembaca novelnya maka film ini memang menjadi pemuas dahaga akan imajinasinya tentang anak – anak laskar pelangi. Hampir seluruh isi cerita ditampilkan. Mulai dari hari pertama masuk SD, Kisah Samson dan ikal dengan bola tenisnya, lintang dengan perjalanan pergi sekolahnya, karnaval, hilangnya flo, cerdas cermat, pertemuan tuk bayan tula, pertemuan aling dan ikal, dll. Hanya beberapa yang tidak ditampilkan seperti Bapak mahar yang lari dimalam hari untuk mencari jawaban anaknya, perjalanan dilaut untuk mencari tuk bayan tula, cerita rumah flo, anggota karnaval yang gatal – gatal mencebur ke kubangan air dan beberapa kisah pendek lainnya. Sehingga secara keseluruhan semua isi buku ditampilkan disini.
Namun dari sisi peran di film, titik berat peran memang berkisar hanya pada Ikal, Bu Mus, Kepala Sekolah, Mahar, dan Lintang. Sedikit banyak diceritakan adalah Aling, Samson, dan flo. Yang lain, boleh dibilang sedikit saja disinggung, ambil contoh Sahara dan Trapani.
Dilema dalam pembuatan film dari novel laris adalah imajinasi pembacanya seringkali berbeda dan tidak terpuaskan. Terus terang saya sendiri juga terganggu akan imajinasi saya, seperti kok begini ya , kok begitu, loh yang ini mana, kok langsung kejadian ini. Riri riza memang sudah berusaha maksimal, namun juga boleh dibilang sedikit terjebak pada obsesi menampilkan semua cerita novel secara utuh, lengkap dan real di semua adegan film. Sehingga terkadang adegan ceritanya cenderung melompat – lompat dan kurang linier antara satu adegan dengan yang lain, terutama di tengah film. Pada akhir film barulah film mulai terasa mengalir.
Bintang film terkenal yang dipasang memang boleh diacungi jempol, sip markisip. Seolah – olah seluruh bintang filmnya berubah seketika menjadi orang Belitong. Logatnya benar – benar pas, terutama Slamet Rahardjo dan Jajang C. Noer, kecuali Tora yang agak kesulitan beradaptasi dengan dialek Belitong. Bintang film anak boleh dibilang beberapa masih agak kaku, termasuk si Ikal sendiri. Yang paling menjiwai memang adalah Mahar, sedang yang terlihat gugup adalah A ling dan A kiong. Kalau Harun tidak usah ditanya, memang luar biasa dari sononya.
Ternyata adalah benar ujar Andrea Hirata bahwa Belitong memang mengagumkan. Pemandangannya Indah, terutama pantai dengan batu gigantiknya dan padang rumput yang mempesona.
Namun dari kesemuanya, film Laskar Pelangi boleh dan layak dibilang sebuah film yang dapat mengajak semua penontonnya sadar dan berpikir bahwasanya semua anak bangsa berhak untuk mendapat pendidikan yang layak. Bahwa melalui pendidikanlah semua nasib bisa diubah, meskipun terkadang takdir bisa berkata lain seperti Lintang. Namun kita semua harus mempunyai cita – cita dan pantang menyerah dengan keadaan. Kemiskinan bukan satu alasan untuk berpasrah dan menyesali nasib, tapi melalui pendidikanlah kita semua bisa terbebas dari kemiskinan. Seperti kata – kata difilm Laskar Pelangi bahwa Anak miskin pun layak untuk bersekolah.
Kabar gembira bagi para maniak Laskar Pelangi. Sudah beberapa kali di berbagai stasiun TV ditayangkan klip – klip pendek dan wawancara dengan mira lesmana tentang film laskar pelangi. Bahkan di koran – koran sudah ada iklan premiere filmnya. Laskar Pelangi on the movie ini disutradarai Riri Riza dan Mira Lesmana. Dimana kedua orang ini terkenal dalam idealismenya membuat film. Untuk film yang bertemakan anak bangsa yang realis sebenarnya Mira lesmana sudah pernah bikin film seperti itu yaitu Denias. Namun memang terkadang harus kita sadari bahwa penonton Indonesia tidak begitu menyukai film – film yang berat dan serius. Ambil contoh seperti Denias, Biru, Daun diatas Bantal yang bikin bioskop tidak seramai seperti
Ayat-ayat cinta, AADC, Love is cinta.




