The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

LELAKI JAHANAM Maret 11, 2008

Filed under: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 7:45 am
Tags: , , ,

          Hujan yang berderai tercurah dari langit yang kelam. Butir air hujan membasahi diriku, kubiarkan ia mengalir melewati kedua mataku. Bercampur dengan air mataku yang mulai turun membasahi pipiku. Hatiku dingin, sedingin air hujan yang membasahi jiwaku. Hatiku hancur seirama dengan tetes air hujan yang menerpa badanku. Mataku menerawang, padanganku kabur, tertutup kabut – kabut amarah yang mulai melingkupi hatiku.

          Aku berteriak. Berlomba dengan suara guruh yang membahana. Telingaku tuli. Lidahku kelu untuk ucapan kata – kata manis. Ia sudah habis terbawa semua memori. Hanyut dalam linangan air mata.

Ingin rasanya kurobek hatiku. Dimana memori semua tentang dirinya bersemayam. Aku tak peduli apakah aku masih memiliki hati atau tidak. Aku berubah. Aku berubah menjadi lelaki jahanam.

————

Jam 2 siang. Handphoneku berbunyi. Lagu pendek dari Frank Sinatra mengalun. Sebuah photo terpampang. Foto termanis dari dirinya.

“Halo maniss…. Apa kabarmu hari ini ?”

“Nggak baik.” “Kok nggak baik ? Sakit ?”

“Aku nggak baik karena kangen kamu……..” Suara manja diujung sana langsung membuatku terbang keawang – awang.

“Aku pingin obat. Obatnya itu dirimu. Ketemuan yukkk … ditempat biasa.”

“OK. Jam berapa ?”

“Aku tunggu jam 8 yach. Jangan telat lho sayang.”

“Pastilah. See you, jam 8”.

“Muachhhh”, ciuman manja terdengar menutup percakapan.

Gila. Mimpi apa semalam ? Suntuk –suntuk begini dapat telpon dari dia. Aku langsung bangun dari pulau kapukku. Bergegas mandi dan mencari – cari baju terbaik dilemari. Mencukur jambangku yang tumbuh liar. Memakai parfum yang tergeletak di bawah meja. Kartu kredit dari dalam lemari kumasukkan kedalam dompet. Aku siap tempur.

30 menit waktu perjalanan ke tempat pertemuan. Sepeda motorku masuk kepelataran parkir. Dengan tergesa – gesa aku menaiki eskalator. Kulihat jam tangan. 19:50.

“hai …” Suara manis dari belakangku menyapa. Wajah manis yang tak kan kulupa muncul dihadapanku.

“Jam 8. Ndak telat khan ?”, ujarku.

“Yup…. Ayo jalan – jalan dulu.” Ia berkata seraya menggandeng tanganku. Senangnya. Sudah lama aku tidak merasakan lembutnya jemari dia menyentuh lenganku.

“Tumben kamu telpon mau ketemu aku ?”

“Kamu ndak ingat apa ?”

“Ingat apa ?”

“Besok khan ulang tahunku.”

“Ya ingat lah… , tapi itu khan baru besok.”

“Iya emang … tapi hadiahnya kan boleh hari ini,” pintanya dengan suara yang sangat manja.

Ahhh ….. all about a gift rupanya. “emang kamu mau minta apaan sih ?”

“Ya …. Kita jalan – jalan aja dulu, sapa tahu ntar ada yang bagus.”

Deretan butik – butik berkilauan diterpa lampu – lampu sorot yang ditata sedemikian rupa. Merek – merek luar negeri menghiasi matanya, terpantul di matanya yang indah. Mata yang dahulu meluluhkan hatiku dan kini turut meluluhkan isi dompetku.

Zara. Nama itu terpampang jelas diatas butik. Dengan huruf warna hitam besar. Kaki putih mulusnya melangkah masuk kedalam dan aku mengikutinya. Sejenak kemudian jemari lentiknya sibuk memilah – milah gantungan baju. Kemudian satu gaun dibawa masuk kedalam kamar pas.

“Bagus ndak ?” dirinya keluar dari kamar pas memamerkan tubuh seksinya.

“aku nggak bisa berkata – kata, bajunya yang cantik atau orangnya yang cantik ?”

“ahhh … kamu. Aku pilih yang ini ya, sayang.”

Kartu kredit tergesek. 350 ribu rupiah.

Tangannya menggandeng lagi. Kini berpindah ke butik sepatu. Vis n Vis. Kaki indah itu menggesek kartu kredit lagi. 250 ribu rupiah.

Kami masuk lagi ke sebuah butik kecil. Chic. Satu bawahan menempel dipinggulnya yang bak biola. Mesin kartu kredit berbunyi lagi. 200 ribu rupiah.

Kini toko tas menggoda matanya lagi. Tas kulit Braun Buffel menggantung di bahunya. Sekali lagi kartu kredit digesek. 450 ribu rupiah.

Jam 21:45. Kartu kreditku terselamatkan dari kelelahan.

“Besok ketemu lagi ya.. sayang,” pintanya sebelum kami berpisah.

“Dimana ?”

“Ehhhmmmm ….. gimana kalo di Shangrilla, di chetau ?”

“Okey…. Sampai ketemu besok yah.” Satu ciuman lembut mendarat di pipiku.

Ia menghilang di balik pintu kaca, menenteng tas – tas belanjaan dikedua tangannya. Diriku ? Pulang dengan perasaan bahagia. Bahagia ?

Esok hari. Jam 16:45. Aku duduk di restaurant Prancis, remang – remang oleh lilin dimeja. Musik jazz mengalun lembut dari band dipojok ruangan. Sudah 15 menit aku duduk dimeja. Kemudian dari balik partisi muncul seorang gadis, dengan gaun mahal bermerek. Indah. Seksi.

“Selamat Ulang Tahun ya…,” ujarku. Senyum manisnya menghiasi wajah cantik dengan polesan make up. Bibirnya merah lembut.

Kata – kata terus meluncur. Ucapan mesra bak air bah yang membanjiri perasaanku. Cinta lama yang telah layu seakan mekar kembali. Subur, disirami oleh senyuman dirinya dan mekar, disinari oleh binar matanya. Sungguh membuatku terbang ke awang – awang.

Desert sudah keluar. Banana Split with Ice Cream meluncur mulus ditenggorokanku, mendinginkan hatiku yang terbakar asmara.

Kami berpisah dilobby bawah. Ciuman manis mendarat lagi dipipi. “Thanks honey…. You are always the best,” ucapnya lembut di telingaku.

Aku pulang dengan perasaan bahagia. Kakiku melangkah ringan ke tempat parkir. Sesampainya di sepeda motor, kurogoh kantong celana. Sial …. Kunciku ketinggalan.

Bergegas aku ke lantai 5. “Kunci ?” ujar resepsionis didepan.

Ahhh….. “Terima kasih.”

Aku masuk lift. Tombol UG kutekan. Lift menutup. 4,3,2,1, dan UG. Pintu lift terbuka. Kakiku melangkah keluar. Seorang pria necis dengan kemeja putih dan celana panjang coklat tua menggandeng wanita yang menggelayut mesra didepanku. Wanita dengan gaun hitam yang sangat kukenal karena wanita itu memang sangat kukenal.

“Rena …….. ?????”

Wanita itu terbelalak. Wajahnya pucat seketika namun dengan cepat roman mukanya berubah.

“Ehhh… eka. Apa kabar ?,” ujarnya membuatku bingung. Bukankah itu Rena yang dua hari ini membuat cinta lamaku bersemi kembali. Wanita yang tadi menemaniku makan malam. Wanita yang menghabiskan isi dompetku. Wanita yang ….. ahhh ….. wanita bangsattttttttt……..

Pintu lift menutup. Wanita itu hilang dari pandangan.

Aku pulang dengan dendam. Hatiku panas membara, namun kali ini bukan karena asmara, karena angkara murka. Semurka alam yang mencurahkan hujan dan petir dilangit malam. Ia mengiringi kepulanganku. Mengiringi sedihku, marahku, kecewaku dan dendamku.

Mengapa aku selalu menjadi kerbau yang dicokok hidungnya. Kerbau yang dungu terjerat tali asmaranya. Dikekang oleh impian – impian akan dirinya. Dipenuhi oleh harapan palsu. Harapan untuk memiliki cintanya.

———

 

6 bulan kemudian.

Handphoneku berbunyi. Satu pesan masuk dari Rena. Kubaca dengan senyum puas. Puas akan dendamku. Pesan itu berbunyi :

“BANGSAT KAMU EKA. KAU TELAH MEMBUATKU HAMIL”

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s