The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

SUARA KERBAU Maret 11, 2008

Filed under: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 7:26 am

Bagian Ke-dua

Tadi malam aku bermimpi. Ya …. Kerbau pun dapat bermimpi bukan hanya kalian manusia. Perkara seperti apa kerbau bila bermimpi tanyakan saja pada manusia yang pernah melihatnya. Semua mahkluk hidup pasti punya mimpi dan pernah bermimpi. Mimpiku ini belum pernah aku mimpikan tapi mimpi ini mengganggu diriku.

Dalam mimpi aku melihat ibu, ya … ibuku, ibu kerbau. Memang aku sudah lama tak bersua dengan ibu. Sudah 24 kali musim panen aku tidak bertemu dia. Sejak aku berpisah dengan dia di sebuah lapangan luas. Disana berpuluh kerbau berkumpul, namun beratus manusia juga berkumpul. Waktu itu kabut masih ada dilapangan. Manusia dengan berselempang sarung di dada dan dipinggang saling berbicara. Kala itu aku belum begitu paham bahasa manusia seperti saat ini. Beberapa yang kuingat ketika tuan bersalaman dengan orang lain berkumis tebal dengan raut muka yang tajam menyerahkan tali kekangku pada tuan. Mulai saat itulah aku berpisah dengan ibuku, tapi jangan kau bayangkan seperti sebuah perpisahan yang menyedihkan. Ibu selalu bilang bahwa semua kerbau – kerbau akan sendiri. Tidak ada kerbau yang selalu bersama ibunya sampai tua. Ibu pun juga seperti itu, berpisah dengan nenek yang tak pernah kukenal.

“Kita kerbau tak pernah menangis ketika berpisah”. Aku ingat sekali nasihat ibu yang selalu diucapkannya.

“Bukankah kau pernah bercerita bahwa kerbau dipadang rumput yang luas dahulu kala selalu bersama ?”

“Ya … aku memang pernah bercerita tentang itu. Tapi itu tentang kerbau dizaman dahulu kala. Aku belum pernah bertemu kerbau yang selalu bersama saat ini”

“Apakah itu berarti masih ada kerbau yang bersama disuatu tempat, ibu ? tanyaku keheranan.

“Entahlah. Tapi kita adalah kerbau pekerja. Kita kerbau pekerja selalu sendiri. Kita hidup bersama manusia.”

“Tidak bisakah kita bekerja bersama, ibu ?”

“Tidak bisa anakku”

“Kenapa tidak ?”

“Karena kau kerbau jantan dan kau selalu hidup sendiri tanpa ibumu. Kerbau jantan tidak bersedih akan hal itu.”

Itulah yang selalu diucapkan ibu ketika aku kecil dahulu. Dan pagi itu pun aku berpisah dengan ibu. Ibu hanya menganggukkan kepalanya padaku dan aku pun berlalu dari dirinya dengan langkah tegap. Bayangan ibu lambat laun hilang bersama langkahku mengikuti tuanku membawaku kerumah ini. Rumah yang diberikan tuan untukku sendiri.

Oh ya …. Kembali pada mimpiku tadi malam. Begini ceritanya. Aku merasa berjalan pada suatu padang ditepian hutan. Tapi bukan tepian hutan disamping sawah, bukan pula padang dimana tempat Den Paimin sering bermain bola bersama anak – anak yang lain. Juga bukan hutan dimana tempat babi – babi hutan itu sering keluar. Hutan itu lebat sekali, rapat dengan pepohonan yang tinggi menjulang. Padang itu luas sekali sejauh mata memandang hanya rumput yang kulihat. Matahari bersinar terang sekali, seakan ia tidak akan pernah redup, hingga ujung padang rumput tak dapat kulihat, ujungnya putih bersih menyilaukan. Dari ujung padang rumput itu pula lah muncul bayangan yang berjalan kearahku. Aku ingin melihatnya lebih jelas namun mataku tak dapat melihatnya, sampai kupicingkan mataku pun tak dapat melihatnya dengan jelas. Akhirnya aku menunggu dan tak berapa lama bayangan itu semakin jelas dan jelas sehingga aku bisa mengenalinya.

“Ibu …. ??”

Kerbau itu mengangguk. Dibelakangnya nampak seekor kerbau lain. Kerbau itu memiliki tanduk yang besar. Sama besar seperti tanduk yang aku punya. Badannya besar seperti diriku, ototnya juga bermunculan dikulitnya. Kulitnya juga hitam legam seperti aku. Nampak jelas lecutan cemeti seperti bekas – bekas luka di diriku. Namun ia nampak lebih tua dari aku.

“Siapa dirimu yang berada dibelakang ibuku ?”, tanyaku keheranan.

“Aku ayahmu”

Aku tidak pernah melihat ayahku. Ibu selalu berkata bahwa ayahku pergi masuk hutan dan menghilang ditelan gelapnya malam. Ibu saat itu hanya berkata bahwa saat itu ayah lari dari kawanan manusia. Ayah lari dan berlari memasuki hutan. Ibu terpisah dengan ayah karena tak bisa berlari mengikutinya. Perut ibu besar mengandung diriku. Hingga ibu akhirnya tertangkap dan dibawa manusia. Ibu selalu bercerita ketika malam tiba, ketika diriku telah mulai mengantuk. Sehingga aku tertidur dan tak pernah tahu kelanjutan kisah ibu. Setiap kali ibu kutanyakan akhir cerita itu, ibu selalu berkata,

“Dan disinilah kita berada, disinilah kau juga dilahirkan, dikala fajar mulai menyingsing.”

Kerbau jantan yang mengaku ayahku itu maju kehadapanku. Ia mengajakku berjalan disisi sebelah kanannya dan ibu ada disisi sebelah kiriku. Kami berjalan bersama. Kami berjalan menuju hutan. Seketika kami mulai memasuki hutan, pepohonan seolah menyingkir. Benalu dan akar – akar rotan naik keatas pohon. Jalan kecil terhampar didepan kami. Berkelok kelok didalam hutan. Ujungnya tak pernah terlihat. Cahaya matahari lama – lama meredup. Sinarnya hanya berkerlip kerlip kecil meninggalkan temaram didalam hutan. Disisi hutan kabut seakan mengikuti langkah – langkah kami. Tiada suara. Sunyi. Senyap. Hanya langkah – langkah kami. Aku tak bersuara. Ibu tak bersuara. Kerbau yang mengaku ayahku pun tak bersuara.

Kami terus berjalan memasuki hutan. Semakin lama aku semakin tertinggal oleh langkah ibu dan kerbau yang mengaku ayahku. Aku mempercepat langkahku. Namun semakin cepat aku melangkah, semakin cepat pula keduanya meninggalkan aku. Akhirnya aku hanya bisa melihat punggung mereka dalam temaram. Aku berlari menyusul. Aku berlari dan berlari namun sama saja. Semakin lama aku berlari semakin mereka menghilang hingga akhirnya aku terhenti kelelahan. Nafasku tersengal. Nafasku sesak hingga kepalaku tertunduk. Mataku terpejam.

Udara menjadi panas. Mataku terbuka. Warna merah. Merah api. Api dimana – mana. Asap dimana – mana. Nafasku panas. Mataku perih. Disamping kananku, seberkas ujung dengan asap bergulung – gulung seakan meninggalkan sarangnya. Aku berlari mengikutinya. Nafasku berat. Langkahku berat. Tapi aku tetap ingin berlari. Lari karena takut.

Sampai akhirnya aku dapat keluar dari kepungan asap. Api tetap menjilat dimana – mana. Namun kali ini aku melihat rumah – rumah yang terbakar. Pohon turut terbakar. Aku berlari menghindari api yang menjilat – jilat. Kampung terbakar. Kampung ditelan api. Tapi aku sendiri.

Dimana manusia ? Dimana sapi ? Dimana kambing ? Dimana ayam ? Dimana ibu ?

“Iiibbbbuuuuuuu …… Iiiibbbuuuuuu….. !!!!”

Tenggorokanku perih. Asap masuk termakan. Tapi aku tetap berteriak. Aku berputar – putar kebingungan.

“Ibbbuuuuu ….. “

“TTuuaaaannnn………” Tetap tiada siapa pun.

Lambat laun kakiku tak kuat lagi berdiri. Lambat laun aku terduduk. Lambat laun aku mulai mengenali tempat yang terbakar. Rumah di tepian sawah, berdinding gedek, bergenting merah kehijauan dan bernaungkan pohon mangga besar. Tapi semua mulai terjilat api. Gentingnya roboh perlahan. Dindingnya terjilat api. Semakin besar dan besar sehingga akhirnya pohon mangga mulai terbakar. Rumah Tuan.

“Tu .. tu .. tu.. an”. Suaraku lirih keluar dari mulutku. Tapi, tuan tiada tampak. Nyonya tak tampak. Den Paimin tak tampak.

Dimana mereka ? Apakah mereka telah pergi ? Apakah mereka tahu rumahnya terbakar ?

Apakah ? Apakah ?

Jangan ! Jangan ! Jangan – jangan mereka turut terbakar.

Tidak ! Tidak ! Tidak !

Nafasku makin sesak. Paru – paruku makin panas oleh asap. Asap terus masuk dari hidungku. Asap seakan – akan masuk dengan sendirinya kedalam diriku. Makin lama, makin terasa pedih sampai kemata. Mataku akhirnya bercucuran air mata. Air mata antara perih dan sedih. Sedih akan rumah Tuan yang terbakar. Sedih akan kehilangan ibu. Sedih kehilangan kerbau yang mengaku ayahku. Tapi aku juga takut. Takut bila akupun hilang ditelan api. Aku pun menangis.

Menangis. Menangis dan akhirnya aku lemas. Lemas dan semua kembali gelap dalam tidur.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s