The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

SUARA KERBAU Maret 11, 2008

Filed under: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 7:36 am
Tags: , ,

Bagian Ke-Tiga

 

 

Mimpi semalam mulai mengganggu diriku, sepanjang hari mataku hanya menatap rumah Tuan.  Rumah berdinding gedek itu keemasan ditimpa matahari pagi. Tetes air masih membasahi lumut – lumut yang mulai memenuhi  genting rumah. Asap mengepul tipis dari balik atap rumah. Nyonya memasak tempe kesukaan Tuan. Den Paimin mandi di balik tutup gedek dibelakang rumah. Sumur yang selalu melayani hausnya Keluarga Tuan dan diriku.

          Den Paimin selesai mandi dan berpakaian putih merah. Sepatu hitamnya mulai kusam dimakan waktu. Tasnya pun juga mulai dimakan cahaya. Namun wajahnya bahagia, semringah menatap hidup diterpa matahari pagi. Ia masuk kedalam rumah, tak berapa lama keluar kembali bersama Nyonya.

          “Bu … Paimin berangkat dulu ya.”

          “Iya. Beritahu Pak guru, suruh mampir nanti sore sepulang mengajar agar mampir kerumah”

          “Baik bu”, ujar Den Paimin seraya bersalaman mencium tangan Nyonya.

          Setiap pagi Den Paimin selalu pergi melalui belakang rumah, menengok diriku dirumahku. “Pagi … Item.” “kamu kok masih tiduran ?”

          “item …  sakit ? “ “ Item lemes ? “item nggak makan ?” Cecaran pertanyaan yang melegakan hatiku.

Lega oleh karena mimpi hanyalah mimpi yang menghampiri di kehidupan yang lain. Mimpi yang bukan nyata. Dan jangan menjadi kenyataan.

          Aku bangun dan menggosokkan tandukku ketangan Den Paimin. Ia menggosokkan tangannya ke kepalaku. “Aku sekolah dulu ya, tem .. “

          Den Paimin berlalu disamping rumah. Berlompatan ia menghindari kubangan air. Lalu hilang dibalik pohon mangga dan muncul lagi dijalan kecil didepan rumah lalu kembali hilang dibalik turunan jalan. Lalu terdengar suara anak kecil yang lain, teman main bola setiap sore.

 

——–

 

          Matahari mulai terang. Cahaya menerobos dibalik atap rumpunku. Udara juga mulai hangat. Tuan keluar dari balik pintu belakang rumah. Membawa parang dan memakai sepatu lars. Sebotol air dan tas dipunggung. Aku ingat hari ini Tuan akan berburu bersama orang – orang dibalik bukit didepan kampung. Orang – orang berambut cepak dan tegap. Menenteng bedil. Terkadang naik mobil bersuara menakutkan. Beriringan sebanyak 3 – 4 mobil. Mengepulkan asap pongah.

Tuan sering ikut naik diatasnya. Berdiri sambil berbicara dengan orang yang berseragam loreng dan bertopi. Tuan terkadang ikut menenteng bedil yang diberikan oleh orang – orang itu. Masuk hutan lalu keluar lagi beberapa hari kemudian.

Aku sering menyaksikan dari balik kandangku. Rumah Tuan berada di atas bukit kecil. Bagian depannya menghadap kearah matahari terbit. Jalannya menurun tapi tidak terlalu tinggi. Jalan didepan rumah mengular dinaungi jajaran pohon ditepian sungai. Diseberangnya terhampar sawah. Diseberang sawah terdapat bukit yang berjajar beberapa rumah. Jalanan menyeberangi sungai yang berisi batu – batu kali besar. Airnya tidak dalam pun tak deras. Beberapa alirannya masuk kedalam sawah. Jembatan kayu besar melintang menghubungkan dua bagian kampung. Rumah kepala desa diseberang sana, begitu juga sekolah Den paimin, namun tidak terlihat dari bukit rumah.

Dikampung seberang sungai juga terdapat lapangan luas. Lapangan tempat orang – orang kampung terkadang berkumpul semalam suntuk sampai pagi. Didepan lapangan itu terdapat balai kampung. Disini orang – orang menyaksikkan pertunjukkan dengan bahasa yang aku tak begitu mengerti. Terkadang saja Tuan mengucapkannya, ketika ia bertemu orang – orang seumurnya. Den paimin juga berbicara bahasa tersebut namun bila bertemu orang yang lebih tua. Disini seseorang memainkan pertunjukkan dengan disaksikan berpuluh – puluh pasang mata. Anak kecil terkadang turut serta duduk menonton disela – sela orang tua sambil terkantuk – kantuk.

Dilapangan juga sering ada pertunjukkan disiang hari. Bermacam – macam acara, mulai dari manusia yang membaca doa – doa sampai manusia yang terkadang kehilangan akal memakan pecahan kaca. Di waktu – waktu tertentu teman – temanku yang lain dari rumpun sapi mereka bunuh dilapangan itu juga. Digorok dengan pisau tajam dilehernya. Aku mendengarnya dari sapi – sapi yang lewat di jalan kampung, mereka bercerita bahwasanya mereka bahagia untuk mati. Mereka yakin bahwa mereka mati ditangan manusia untuk pergi ke surga.

Oh ya … mungkin kalian bingung, kami kerbau juga mengenal surga ? Kami kenal itu, apakah kami juga kenal Neraka ? Ya … Tapi kami selalu diberitahu bahwa kami selalu menuju surga, kembali menemani manusia dialam sana. Kami juga selalu yakin bahwa hanya kaum Manusia yang bisa masuk neraka. Kami pasti masuk surga, atas semua balasan jasa – jasa kami didunia yang setia menemani manusia. Kami tidak pernah peduli apakah kami hidup bahagia ataukah hidup menderita dialam dunia. Kami pasti masuk surga. Karena itu sapi – sapi yang kutemui untuk dibunuh itu selalu tersenyum dan gembira. Bagi mereka, dengan mereka mati ditangan manusia dihari itu mereka telah menjalankan kesetiaan yang paling tinggi. Ujar mereka juga, Manusia – manusia akan menaiki mereka disurga dengan wajah – wajah gembira.

Terkadang aku pun iba melihat manusia. Mereka yang hidup bahagia belum tentu masuk surga. Pun begitu, mereka yang selalu hidup menderita belum tentu masuk ke surga. Apakah itu adil bagi mereka ? Hidup menderita di dunia dan juga menderita di Neraka ? Namun tetua kami selalu bilang katanya itu adalah dosa manusia kala didalam surga dahulu. Dosa yang pernah melanggar perintahNya. Aku selalu berharap Tuan, Nyonya dan Den Paimin dapat aku selalu temani sampai di surga nanti.

Karena itulah mimpiku tadi malam mengganggu diriku. Aku takut bila aku berpisah dengan Keluarga Tuan. Aku takut bila Tuan masuk Neraka. Itu melebihi takutku bila tak bisa bersua dengan Ibu lagi seperti dalam mimpi. Karena aku yakin aku pasti bertemu Ibu di surga nanti.

 

——–

Tuan berjalan kekandangku, diiringi Nyonya yang memanggul keranjang bekerja keladangnya. Tuan juga punya ladang di belakang rumah. Ladangnya berisi jagung, ubi, dan berpuluh pohon aneka buah. Ladang tuan juga pernah  dirusak babi hutan, padahal Tuan sudah membuat parit dan pembatas pagar yang tinggi dipinggiran ladang. Masih saja terkadang ada celah yang bisa membuat babi hutan itu masuk. Oleh karenanya Nyonya sering memeriksa kondisinya, selain merawat ladangnya.

Tuan berpamitan dengan Nyonya. Ia berkata akan masuk hutan selama 2 hari. Oleh itulah Nyonya akan sendiri dirumah. Sebenarnya Tuan selalu keberatan untuk meninggalkan rumah. Namun demi hubungan baik dengan orang – orang berambut cepak, ia selalu menuruti kemauan mereka. Tuan memang mengenal hutan di pinggir kampung. Konon, orang tua Tuan adalah penjaga hutan dahulunya. Kakeknya juga begitu dahulunya.

Dahulu hutan itu selalu dijaga oleh orang – orang kampung. Dijaga selayaknya harta kampung. Air sungai yang berkelok – kelok itu keluar dari dalam perut hutan. Hutan itu merambat naik keatas punggung pegunungan. Letaknya persis dibelakang perkampungan. Dari belakang bukit rumah ia terlihat indah. Kabut sering turun lamat – lamat dari punggung pegunungan keperkampungan. Dari balik kabut itulah dikala malam keluar babi hutan itu. Dan kesanalah nanti tuan masuk hutan. Diujung sungai, terdapat jalan tanah yang lebar masuk kedalam perut hutan. Terus naik perlahan mengikuti belahan sungai.

Aku tidak pernah melalui jalan itu. Aku dahulu masuk kekampung ini lewat muka kampung. Aku hanya pernah mendengar cerita dari anak – anak kecil dikampung. Konon katanya, jalan itu masuk berliku – liku di punggung pegunungan dan menghilang dibaliknya. Dibalik punggung itu terdapat lembah. Lembah itu tidak terhampar luas. Lembah itu adalah permulaan dari punggung gunung yang sebenarnya. Disana hutan sangat rapat. Sungai dikampung berhulu di gunung sana, airnya deras namun karena menuruni lembah itu alirannya melambat. Orang kampung menyebutnya Sungai Hitam dan gunung itu mereka sebut Gunung Merapi.  Sungai Hitam disebut hitam karena airnya seolah bewarna hitam karena batu kali berwarna hitam dan gelapnya hutan disana.

Dari arah matahari terbit punggung gunung Merapi akan memutar. Disana terdapat sungai lagi, Sungai Putih namanya. Alirannya lebih tenang karena alirannya mengikuti lembah yang menantang mentari pagi lalu berkelok menuruni lembah ke padang luas. Disanalah katanya terdapat kaum kerbau yang lain, kaum kerbau seperti cerita Ibuku, yang hidup bersama.

Tuan tidak akan pergi sejauh itu. Ia hanya akan sejauh lembah kecil dibalik punggung pegunungan. Disana terdapat kawanan babi hutan yang sering masuk kampung melalui sungai Hitam. Kini ia berjalan ke halaman depan rumah dan Nyonya berjalan kejalan kecil dibelakang rumah. Aku bisa menyaksikan keduanya dari kandangku yang berada tepat diatas bukit. Tuan hilang dibalik turunan dan Nyonya hilang dibalik pepohonan masuk ke jalan ladang yang samar – samar tertutup pohon.

Aku kembali duduk dikandang memakan rumput menghabiskan hari, seraya menunggu Den Paimin datang. Biasanya sore hari nanti ia mengajakku turun ke lapangan bola dipinggir sungai.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s