The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

SUARA KERBAU Maret 11, 2008

Filed under: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 7:22 am
Tags: , ,

Bagian Pertama

Siang hari. Matahari tinggi, kuning emas, menyilaukan. Membakar tubuh legam, berpeluh keringat, otot – otot baja dariku menyembul dibawah kulit tebal. Cemeti menggelegar, suaranya membelah udara, merobek kulit ari. Semakin aku berlari kencang, lidah terjulur, ingin menjilat setitik air, namun hanya air peluh yang asin kukecap. Kakiku semakin lama terbenam dalam lumpur, semakin berat pula beban yang kutarik, semakin keras cemeti mendera. Ahhh ….. ini bukan apa – apa, aku berkawan dengan derita setiap hari, nyeri cemeti adalah sahabat yang selalu berceloteh mengajak bercanda padaku.

“Hai, kawan apakah kau masih kuat ? “, “Cuma itu kemampuanmu ?” , ”Kuberi lebih dan lebih bagimuuuu ….” Dan “Tttaaaaarrrr……..” Suara cemeti menggelegar lagi, semakin merobek angkasa. Burung – burung diseberang tadi yang awalnya nyaman bercengkrama kini sibuk pergi ketakutan oleh suara sang cemeti.

Akulah si Kerbau. Jangan panggil aku si Kerbau dungu. Aku tidak dungu seperti yang sering orang bilang, atau manusia bilang tepatnya. Aku kuat. Aku perkasa. Aku tegar. Ya … ya … panggil saja aku Kerbau Karang. Begitulah kawan – kawanku yang lain memanggil.

Suatu ketika, si tua Kerbau Danau menghampiri aku. “ Masih setia kau membajak ?”

“Ya…. Kenapa tidak ? Lihat saja diriku, tetap berotot dan berdaging bukan ?”, jawabku.

“Sampai berapa lama ?, sampai kau tua seperti aku ? Dibuangnya kau nanti setelah cacat dirimu.”

Seraya mengangkat kakinya, Kerbau Danau berceloteh lagi, “ Lihat kakiku yang patah ini, akibat membajak berpuluh tahun, memanggul dan berkawan dengan cemeti itu. Apa yang kudapat sekarang ?”

“ Kau bukannya mendapat ketenaran ?”, aku keheranan.

“ Omong kosong ! Makan saja cerita tenar itu. Lihat mataku yang buta sebelah, tubuhku penuh dengan sabetan cemeti. Dimana rumahku ? Tak punya rumah aku. Dibuangnya saja aku oleh si bangsat itu.”

“ Ah … itu memang kau saja yang apes. Tuanmu memang paling berengsek di kampung ini”. Ujarku membela tuanku.

“ Semua pasti akan berkahir derita seperti aku. Dikala muda memang kau disayang bak anak sendiri. Lihat saja nanti. “. Si tua Kerbau Danau berlalu dengan tersenyum kecut, bersenandung kecil ia pergi. Lagu derita.

Langkah tegap dalam lumpur

Cemeti menggelegar

Ucapkan selamat datang

Dalam dunia penuh derita

Pagi hari. Kabut putih memeluk pohon – pohon. Tetes embun berkilauan diujung daun. Burung berkicau dan terbang menari. Burung jalak terbang hinggap mencari batang ranting. Anak – anak kecil berlarian diatas jalan tanah. Seonggok rumput menemani sarapan pagi dengan seember air dari sumur ditepian rumah. Ah…. Nyamannya.

Bulan ini bulan bahagia. Padi telah subur tinggi menghijau. Tuan setiap hari sibuk dengan nyonya menebar pupuk, di semua sawah yang berhektar – hektar itu. Den Paimin, sibuk dengan sabitnya diujung sawah mencari rumput buat aku esok. Terkadang bila ia senang diajak pula aku keladang tempat ia bermain bola. Di biarkannya aku ditepian mencari rumput berbunga yang kusenangi. Tak ada tali yang mencekik leher karena untuk apa aku lari ? Toh hidupku indah, walau tidur dipojok halaman rumah, namun hangat dan nyaman.

Suatu ketika pernah melintas, kawanan babi hutan ditepian sawah yang berbatasan dengan hutan. Aku tak mengenalnya, namun aku tahu dari kabar berita bahwa mereka adalah gerombolan pencuri. Mencuri makan diladang – ladang dikala malam, merusak tanaman sampai habis tercerabut akarnya. Satu dua pernah tertangkap oleh teman – teman tuan. Mati tertembak ataupun mati dalam lubang penuh jebakan. Tapi sore itu aku melihat yang paling besar diantara yang pernah kudengar. Perut Besar, kawan – kawannya memanggil. Ia rupanya disegani, karena yang lain hanya mengekor ketika keluar dari balik hutan.

“Ha.. ha .. ha … Lihat si kerbau dungu. Bangga dengan rumputnya”. Suaranya mengejek dari ujung tepian hutan.

“ Hooooiii …. Kerbau Dungu ….. masuklah kehutan, bukan hanya rumput dan kawan cemeti yang kau dapat. Beribu – ribu buah dan berjuta – juta macam daun kau makan atau kau mau turut serta memakan ubi – ubi diladang ? Bukan hanya tuanmu yang boleh makan, kaupun boleh makan. Ha… ha … ha …”. Yang lain juga tertawa dan mengejek.

Ingin rasanya membungkam mulut kotor mereka, tapi ahh…. untuk apa, disini lebih nyaman. Toh minggu esok tuan dan teman – temannya akan masuk kehutan dengan lelaki – lelaki tegap berambut cepak masuk menenteng bedil mencari siapa saja yang melintas. Terkadang babi – babi hutan itu turut serta mati ditenteng diatas pikulan.

Sore hari. Matahari keemasan. Bayang pohon membuat siluet hitam. Kerlip – kerlip cahaya menyembul dibalik dahan. Suara sungai mendesah. Air dingin mengalir di sela kakiku. Kadang ikan ikut menari – nari di permukaan air.

Den Paimin duduk diatas batu besar. Dengan baju kumal hitamnya dan celana pendek merah sekolahnya, ia duduk sambil membuat ukiran kayu. Teman – temannya yang lain asik bermain bola di atas ladang.

“Mau mandi kau …. Tem ?”. Den Paimin selalu memanggilku dengan nama Item.

Aku hanya mengangguk.

Meloncat ia dari batu seraya membuka bajunya. Disiramnya aku dengan air. Dingin membasuh peluhku. Mengkilap badanku diterpa cahaya. Digosoknya badanku dengan rerumputan. Nyaman benar rasanya apalagi bila Den Paimin menggosok luka – lukaku.

“Wah … bapak keterlaluan, kau dicambuknya dengan keras rupanya”. Aku mengangguk lagi.

“Bukankah kamu sebenarnya tetap berjalan tanpa perlu dicemeti kan Tem… ?”

Kali ini aku menengadahkan kepala dan tandukku. “ Ngooooh………. “, aku melenguh dengan pongah. Ingin rasanya kukatakan. Aku Kerbau Karang. Aku perkasa. Aku Tegar. Aku berkawan derita. Cemeti tuan itu hanya semut – semut kecil yang menggigit. Lihat ototku. Lihat tandukku. Lihat sorot mataku. Merah dan Tajam.

Den Paimin naik keatas punggung. Berjalan malas aku naik ketepian sungai, ingin rasanya berlama – lama didalam air. Namun matahari makin condong keufuk barat. Bayang – bayang pohon kian panjang. Udara makin dingin. Burung – burung sibuk pulang, berlomba – lomba terbang sampai kesarang. Aku pun berjalan meliuk – liuk diatas jalan kecil ditepian sawah. Padi sudah memunculkan benihnya. Diujung jalan, di tepian sawah, sebuah rumah berdinding gedek, bergenting merah kehijauan dan bernaungkan pohon mangga besar. Itulah rumah tuan. Dibelakangnya, dibalik pohon asam, berdinding balok kayu dan beratap jerami. Itulah letak istanaku. Istana kecil yang nyaman dan hangat. Pasti telah menunggu rumput hijau untuk makan malam nanti.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s