The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

Berputar – putar kota (Seri Banjarmasin) September 17, 2008

Filed under: TRAVELLING — nikkiputrayana @ 12:25 am
Tags: , ,

Hari ini sudah mulai berputar – putar melihat situasi kota. Ternyata banyak perubahan disana – sini gedung – gedung banyak sudah berubah meskipun saya masih bisa mengenalinya ketika diperhatikan benar – benar.

Markas Polresta Banjarmasin di Ayani sekarang sudah disaingi oleh RS Bhayangkara disebelahnya. Padahal dahulu RS ini hanyalah RS kecil untuk UGD kecelakaan, itupun tidak memadai. RS Sari Mulia di Jl. P. Antasari sudah selesai pembangunannya, sehingga sekarang sungguh besar, dahulu padahal hanya berasal dari sebuah rumah praktek sekaligus kediaman dari dr. Darto, spesialis kandungan. Dahulu RS Sari Mulia hanyalah RS Bersalin sekarang sudah lengkap dan bisa berkategori RS tipe B.

Berlanjut ke Ujung Jl. P. Antasari dimana terdapat Plaza Mitra. Ternyata sekarang tampak kusam dan kurang menarik, meskipun masih terdapat Hero Swalayan. Kelihatannya Mitra Plaza sudah kalah bersaing dengan Duta Mall yang lebih Modern meskipun berjauhan lokasinya.

Selanjutnya adalah Tower Air PDAM didaerah Teluk Dalam kalau dahulu hanya bercat biru kusam sekarang sudah berwarna warni. Dahulu tower ini dibangun karena daerah Teluk Dalam dansekitarnya kesulitan air akibat tidak terjangkau pipanisasi PDAM.

Kantor Walikota tetap seperti dahulu kala tidak ada perubahan, sama halnya Arjuna Plaza tempat hiburan pertama kali di Banjarmasin ketika masa kecil saya, juga tidak berubah dan memang sudah sangat lama telah mati.Ada penambahan satu mall (kalau mau disebut seperti itu)di Jl. Lambung Mangkurat yaitu disebelah Kantor Pos Utama.

Stadion 17 Mei sekarang sudah tidak begitu terurus dan kelihatannya sudah tidak menjadi kebanggaan urang banua lagi. Mungkin dikarenakan klub kebanggaan orang Banjarmasin, Barito Putera, kini hanya menghuni divisi 2. Uang bagi Barito Putera juga sudah seret seiring pemodal utamanya dari kayu dan Haji Leman sudah tidak seroyal dan sekaya dahulu lagi.

Dua masjid legendaris di Banjarmasin. Yang kuning Masjid Sabillal Muhtadin atau dikenal dengan nama Masjid Raya. Yang Hijau Masjid Jami, Sungai Jingah.

Masjid Raya ini sebenarnya berdiri di lapangan merdeka, nama awal ketika kemerdekaan dahulu, yang sebelumnya lagi saat jaman Belanda berupa Benteng Belanda yang dikenal dengan nama Vort van Tatas karena berdiri diatas Pulau Tatas. Kenapa disebut Pulau karena sebenarnya Lapangan Merdeka ini berada diatas pulau endapan yang dikelilingi sungai kecil dibagian barat dan Sungai Martapura di bagian Timurnya. Sedang Masjid Jami adalah Masjid tersohor sejak jaman Belanda ada. Daerah Sungai Jingah dan sekitarnya dahulu kala adalah tempat kediaman para bangsawan dan orang – orang kaya Banjar. Sehingga bila Masjid Raya perlambang Banjar masa kini, maka Masjid Jami perlambang Banjar masa lampau.

Ini adalah beberapa dari bentuk rumah lama di daerah Sungai Jingah. Banyak rumah lama ini dibangun sekitar tahun 1920-an. Suatu masa jaya Banjar dimasa lampau. Sekarang rumah ini kebanyakan sudah tidak terurus atau hancur dimakan usia. Namun ada satu penanda mudah untuk mencari rumah lama Banjar, kebanyakan berada di tepian Sungai – sungai besar dan legendaris kota Banjarmasin. Kebanyakan rumah lama pada tahun 1920-an berarsitekturkan melayu bukan rumah Banjar seperti rumah dinas gubernur dan Mahligai Pancasila dikompleks kediaman dinas Gubernur Banjarmasin.

Saya juga melihat – lihat SD Hippindo, SD saya ketika kecil yang masih saja tidak ada perubahan. Masih sama bentuknya dan masih saja terbuat dari kayu. Sedangkan SMP saya, SMPN 6, yang ada didalam gang Merpati yang sempit. Sudah ada perubahan karena dibangun gedung dari beton semua. Termasuk kelas 2E, kelas saya dulu, sudah tidak ada lagi. Namanya pun sudah meningkat jadi Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional.

Terakhir saya berkunjung ke Perpustakaan Daerah Kalimantan Selatan di Pal 6. Ternyata sungguh miris. Gedungnya sudah semakin tidak terawat. Koleksi buku – bukunya pun sudah banyak yang rusak dan berdebu disana sini. Praktis tidak ada perubahan semenjak gedung ini didirikan. Iseng – iseng mencoba mencari buku sejarah kota Banjarmasin, ternyata tidak ketemu karena seperti mencari jarum ditumpukkan jerami. Malah saya ketemu buku atlas Anatomi berbahasa Rusia, terbitan tahun 1950-an, setelah saya lihat peminjam terakhir adalah pada tahun 1971.

Dari hari pertama saya berputar – putar Banjarmasin sepintas lalu, karena belum semua terjelajahi maka banyak perubahan kota. Yang paling mencolok adalah banyaknya hotel bintang 2 yang bertebaran dipenjuru kota. Juga bendera – bendera parpol dengan ukuran raksasa berkibar – kibar. Satu hal yang masih belum berubah adalah kesemrawutan jalannya yang bertambah parah.

 

3 Responses to “Berputar – putar kota (Seri Banjarmasin)”

  1. anas Says:

    hmmm lengkap jg liputan nya.
    banjarmasin emang bertahap berubah wajahnya.

  2. ya …. saya sendiri sampai bingung dengan kota saya sendiri. Tapi sedihnya kebingungan saya bukan yang menggembirakan tapi menyedihkan.

  3. husin Says:

    masih banyak yg kurang seperti pulau kembang,Dm,dll


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s