The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

MUDIK Oktober 3, 2008

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 2:43 am
Tags: , ,

Setiap tahun kita selalu disuguhi ritual yang sama yaitu mudik. Seperti menjadi hal yang sakral, mudik selalu menjadi panggilan kewajiban bagi semua insan muslim. Ada yang hilang apabila kita tidak mudik. Bagi insan – insan yang tidak mudik maka ada perasaan gundah, merasa kekurangan bahkan perasaan bersalah. Apalagi bila mendengar suara takbir bertalu – talu, hati serasa disayat – sayat kenangan masa lalu ketika bersama keluarga, bersama kenangan masa indah ketika kecil, ketika tumbuh bersama kampung halaman. Apapun namanya kota, baik itu kota kecil atau pun kota besar maka semua akan menyebut tanah tempat ia tumbuh menjadi kampung halaman.

Berapapun biaya yang dikeluarkan maka itu menjadi kompensasi yang layak untuk ditukar dalam dua hari bersama keluarga. Betapapun itu membuat menderita itu tidak dapat ditukar dengan merindunya hati akan suasana rumah keluarga. Jauhnya jarak tempuh, resiko yang besar, dan semua keselamatan diri akan diabaikan demi mudik. Maka berbondong bondonglah umat manusia untuk berganti kota dalam waktu 1 minggu. Berkejaran dengan kewajiban pulang kekota tempat mengais rejeki. Berkejaran dengan himbauan pemerintah untuk segera bekerja. Kampung halaman tempat tujuan berubah sesak, sesak oleh gegap gempita mudik.

Kota – kota tempat kita selalu berkejaran saat itu pulalah, ketika hari raya semua denyut kehidupan seolah melambat. Seolah darah kehidupan yang selalu berdegupan kencang menjadi jinak seperti diberi obat penenang. Semua berada didalam dunianya yang lain.

Kita menjadi sulit untuk mencari apa – apa saja yang dapat kita temukan ketika kehidupan normal. Makanan seolah menjadi langka dan mahal. Toko – toko tutup karena penjualnya juga turut larut dalam hipnotis massa. Jalanan sepi seolah merindukan untuk dipadati asap kendaraan.

Kita bangsa Indonesia memang bangsa melankolis. Selalu terbawa perasaan. Kita selalu menganggap sakral apa saja yang mengganjal didalam hati.

Namun bangsa kita juga bukan hanya berisi muslim. Ada sekitar 30% penduduk yang sebenarnya tidak terlalu larut dalam suasana mudik. Mereka terkadang ikut mudik karena terpaksa keadaan. Sebenarnya itulah suatu karunia yang diberikan Tuhan kepada bangsa ini. Kemajemukan itulah karunia Tuhan. Apabila kita bisa mengelola kemajemukan ini niscaya tradisi sakral kita menjadi lebih menyenangkan lagi. Kita tidak perlu mengkanibalisme kebahagiaan saudara kita yang seagama. Denyut kehidupan tidak perlu mandek karena ada bangsa kita yang lain yang dapat melanjutkan apa – apa yang mandek. Tuhan memang maha adil, karena Ia tidak perlu menciptakan hari besar agama seluruh umatnya menjadi sama harinya. Apa jadinya ?

Pluralisme. Kemampuan untuk dapat saling memahami antara penganut agama inilah yang penting. Sehingga kita slalu bisa saling menggantikan peran yang kita tinggalkan demi kebahagiaan kita untuk merayakan hari besar kita. Agar kita juga bisa berbagi lebih banyak bagi orang yang kita makan kebahagiaanya seperti penjaga rel kereta, penjaga tempat makan, polisi, pilot, dan semua yang tidak bisa meninggalkan arti sakral mudik karena tugasnya tak tergantikan.

Minal Aidzin wal Faidzin

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s