The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

Ada apa dengan “kaca mata“ Pram ?? November 12, 2008

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 8:42 am
Tags: , , , ,

Sebenarnya banyak dari kita yang apabila ditanya, Apakah pernah mendengar nama Pramoedya Ananta Toer ? Jawabannya adalah pernah dengar. Namun, apabila ditanya lebih lanjut siapa Pram dan apa saja karyanya, maka banyak juga yang tidak tahu. Kecuali mungkin para penikmat sastra yang dapat menjawabnya.

Tidak dapat disalahkan memang apabila banyak awam yang tidak tahu tentang sosok sebenar – benarnya dari Pramoedya Ananta Toer karena ia memang dibungkam sedemikian lama. Lebih menggelikan lagi maka banyak juga awam yang langsung teringat bahwa Pram adalah komunis. Ya…. Pramoedya dan Komunis, sudah menjadi cap yang begitu kental melekat.

Semua itu bukan salah orang awam karena memang selama 32 tahun orde baru berkuasa banyak orang yang dicap menjadi komunis ataupun orang berbahaya menurut orde baru. 32 tahun adalah waktu yang cukup untuk mengindoktrinasi pikiran orang banyak bagi sebuah kekuasaan.

Namun yang sebenar – benarnya, Pram sendiri tidak pernah mengatakan bahwa ia adalah Komunis. Adalah benar bila Pram bernaung dibawah Lekra, organisasi underbouw PKI. Namun seperti patut diketahui orang banyak bahwa Lekra adalah salah satu atau mungkin satu – satunya organisasi kebudayaan ciptaan partai politik yang benar – benar paham dan mengerti akan dunia budaya. Saya pikir sampai saat ini belum ada partai politik yang benar – benar memperhatikan budaya dan mengelola organisasi budaya sebaik Lekra. Sehingga bagi sastrawan tulen seperti Pram pasti akan mau bergabung dalam organisasi seperti Lekra. Tapi sekali lagi, Pram tidak pernah mengataka bahwa ia seorang komunis. Seperti yang sering diucapkannya bahwa ia selalu mengatakan bahwa ia hanya berpihak pada keadilan, kebenaran dan kemanusiaan. Pramisme, demikian katanya jika ditanya tentang ideologi yang dianutnya.

Seperti sudah kita ketahui bahwasanya seringkali sejarah sebenarnya adalah buatan orang – orang yang berkuasa. Sebuah kekuasaan dapat dengan mudahnya memutar balikkan fakta sejarah. Namun seperti analogi perang antara kebaikan dan kejahatan maka sejarah akan selalu memuat pro dan kontra sampai akhir dunia. Pro bagi sejarah yang ditulis oleh kekuasaan dan kontra bagi orang – orang yang berani bersuara walau dibungkam. Seperti itulah jalan yang ditempuh oleh Pramoedya Ananta Toer, dimana beliau dengan konsisten sejak awal ia menulis akan sejarah manusia indonesia khususnya lewat perspektif yang berbeda yaitu dari rakyat itu sendiri, bukan dari kaca mata kekuasaan.

Karena itulah Pramoedya harus bolak balik masuk penjara di tiga masa kekuasaan yang berbeda yaitu kolonial, orde lama dan orde baru. Dimasa kolonial dia dipenjara karena sering menulis keadaan bangsa yang sebenar – benaranya. Dimasa orde lama ia dipenjara karena sering menulis hal – hal kebobrokan pemerintah yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Lebih – lebih pada orde baru ia dipenjara selama 14 tahun tanpa peradilan karena ia anggota Lekra dan semua tulisannya bertentangan dengan sejarah yang ingin ditulis oleh orde baru itu sendiri. Padahal seperti kita ketahui banyak sejarah bangsa kita terasa janggal dan bertentangan dengan fakta yang ada.

Oleh karena kepolosan beliau akan tulisan sastra yang sebenarnya digali dari rakyat Indonesia itu sendiri maka tulisan beliau dikagumi diseluruh dunia. Tidak mengherankan bila memang banyak penghargaan sastra dan nominasi nobel sastra menghampiri beliau. Itu semua tidak lepas dari tulisan beliau yang sejujurnya akan sejarah bangsa kita. Itulah pula jawaban bahwa masyarakat dunia lebih senang akan tulisan – tulisan yang kontra kekuasaan Indonesia ketimbang tulisan sejarah resmi terbitan pemerintah. Mungkin pula itu jawaban mengapa kita sebagai bangsa terkadang tidak paham akan sejarahnya sendiri.

Salah satu karya beliau yang berjudul “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels”, yang mengupas tentang sejarah perkembangan kota – kota di seluruh jalan pantai utara jawa. Disana banyak diungkap sejarah – sejarah yang tidak kita dapat di bangku sekolah dahulu. Banyak pula sejarah kelam bangsa kita yang sebenarnya sedari dahulu bergelimang darah dan pertikaian yang tiada henti. Tanpa dibuat bosan akan membaca buku sejarah kita dapat membaca karya sastra Pram dan paham akan sejarah bangsa kita. Tidak perlu jauh – jauh mencari pembantaian besar yang bukan hanya milik NAZI di eropa sana. Di Indonesia sendiri berulang – ulang pembantaian besar seperti genosida di Banda Neira oleh kolonial VOC tahun 1621 dimana penduduk pulau – pulau di Banda Neira dihabiskan tak bersisa , pembangunan Jalan Raya Pos tahun 1809 yang berjumlah 12.000 jiwa, korban tanam paksa yang mati kelaparan, pembinasaan westerling tahun 1949 di sulawesi sejumlah 40.000, pembunuhan besar – besaran pengikut PKI yang menurut sumber – sumber luar sebanyak 1,5 juta jiwa, dan banyak kasus lainnya. Mungkin hal – hal seperti itulah yang ingin ditutup – tutupi kekuasaan bagi rakyatnya yang awam. Bagi kasus pembantaian pengikut PKI sendiri, mau tidak mau sebenarnya kita mengakui bahwa bangsa kita sendiri begitu banyak membunuh saudara kita sendiri. Begitu banyak cerita didaerah kita tentang pembunuhan besar – besaran pada akhir 60-an. Begitu banyak temuan kuburan masal setelah orde baru tumbang. Seperti inilah kiranya jawaban mengapa Pram dibungkam dan banyak orang – orang seperti Pram dibinasakan. Karena banyak fakta baik yang diselipkan ataupun ditulis lengkap dikarya sastranya.

Atau bagaimana kisah “Bukan Pasar Malam” yang banyak terselip kisah para birokrat yang menelikung ditikungan dengan memperkaya diri sendiri dan kroninya setelah perjuangan kemerdekaan. Alhasil kemerdekaan yang membebaskan rakyat dari kekuasaan kolonial hanya berpindah menjadi kekuasaan oleh bangsa sendiri yang korup. Inilah mungkin mengapa karya – karya Pram banyak memerahkan kuping pembaca dari pemegang kekuasaan.

Bagaimana pula kisah “Tetralogi Buru” yang terkenal diseantero dunia sehingga diterjemahkan 36 bahasa, yang dibuat di pengasingan Pram dengan jalan diceritakan oleh mulut Pram kepada kawan – kawan tapol. Disana selain berisi kebangkitan bangsa pada masa kolonial juga menjlentrehkan bagaimana kita terkungkung oleh budaya Jawa dahulu yang terhaegemoni kekuasaan dimana rakyat jelata hanyalah hamba bagi kaum bangsawan.

Namun jauh dari urusan memerahkan kuping dan fakta – fakta kontra kekuasaan. Maka sastra Pram sebenarnya berisi semangat kemandirian bangsa. Semangat akan lepas dari semua perasaan menjadi budak bagi bangsa – bangsa lain. Semangat akan keberanian bersuara untuk kebenaran. Semangat akan tumbuh maju sebagai bangsa yang terdidik. Semangat akan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia yang sebenarnya. Jangan sampai kita selalu menjadi apa yang dikatakan Pram tentang kondisi bangsa kita sedari dahulu sampai sekarang,

“Indonesia adalah negeri budak. Budak diantara bangsa dan budak bagi bangsa – bangsa lain.”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s