The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

HASTA MITRA SAHABAT PRAMOEDYA ANANTA TOER November 12, 2008

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 8:43 am
Tags: , , , ,

Bila kita sering membaca – baca buku Pram dan sering mencari – cari info terkait tentang buku – buku Pram maka seringkali kita mendapat satu nama yaitu Hasta Mitra. Ya… memang Hasta Mitra tidak lepas dari Pram dan begitu pula sebaliknya.

Hasta Mitra memang adalah penerbit yang dibangun oleh tiga serangkai Joesoef Isak, Hasjim Rahman dan Pramoedya Ananta Toer. Ketiganya adalah rekan seperjuangan eks tapol (tahanan politik). Sekeluarnya dari penjara dan pembuangan di Pulau Buru tahun 1979 mereka ini walaupun dibebaskan namun tetap wajib lapor ke Kodim Setempat dan KTP mereka mendapat tanda El yang memiliki arti eks Tapol. Saat orde baru maka mendapat predikat eks tapol merupakan suatu kelas yang berbahaya dan tersisihkan di semua segi kehidupan. Mereka difitnah dan terus ditekan sebagai antek komunis.

Oleh karena latar belakang masing – masing yang sebagai jurnalis maka hati mereka selamanya akan tetap untuk menulis. Mereka sadar bahwasanya semua tulisan eks tapol adalah haram pada masa orde baru dan tiada penerbit yang berani atau sudi menerbitkan tulisan – tulisan mereka. Maka mereka akhirnya pada April 1980 mereka bersepakat untuk mendirikan penerbitan Hasta Mitra yang berarti tangan sahabat. Dana pendirian ini berasal dari patungan para eks tapol yang bertekad untuk menyebarkan hasil tulisan mereka dan ingin dianggap setara dan bebas seperti masyarakat yang lainnya.

Sebelum penahanan mereka pada tahun 1965 setelah PKI dibubarkan, mereka – mereka ini memang berasal dari dunia jurnalistik dan sastra. Dimana Joesoef Isak awalnya adalah mantan Ketua PWI
Cabang Jakarta (1959-1963), Wakil Presiden International Organization of Journalist dan kepala editor harian Merdeka. Hasjim Rahman adalah direktur harian Bintang Timur. Pram sendiri adalah anggota Lekra dan penulis besar saat itu.

Dengan hanya berbekal semangat, pengalaman dan ketenaran Pram maka mereka memberanikan diri mendirikan penerbitan yang beresiko. Awalnya mereka juga mempekerjakan 20 eks tapol yang memiliki semangat yang sama. Itu tercermin dari kata – kata Joesoef Isak, “Tetapi itu merupakan bagian dari cara kami untuk memperjuangkan hak asasi sebagai orang Indonesia. Kami orang bebas, kami merasa berhak untuk menerbitkan buku.”

Sebagai tes awal maka mereka mencoba mencetak dan menerbitkan seri awal dari tetralogi Buru yaitu Bumi Manusia. Ini didasari karangan Pram yang bereputasi Internasional dan seorang yang dinominasikan mendapat nobel sastra, walau Pram dipenjara dan diasingkan, tetapi dunia Internasional selalu menghargai beliau. Namun 2 hari setelah terbit Bumi Manusia sudah mendapat surat dari Dinas Intelejen Kejaksaan Agung RI yang berbunyi : Jangan dijual sampai mendapat sensor.

Namun Hasta Mitra memiliki keyakinan bahwasanya bila menunggu sensor yang tak tentu kapan selesainya atau malah dilarang maka sampai kapan pun Bumi Manusia tidak akan pernah beredar sehingga mereka nekad untuk melawan. Ini juga mereka yakini oleh karena Bumi Manusia isinya tidak sedikit pun menyinggung dan berisi tentang orde lama ataupun orde baru, hanya berisi cerita tentang jaman kolonialisme.

Setelah 2 minggu mendapat peringatan, Bumi Manusia terjual 10rb kopi dan terus menjadi best seller. Dalam 6 bulan berikutnya terjual 60rb kopi. Ini membuat Hasta Mitra mencetak buku seri kedua dari Tetralogi Buru yaitu Anak Semua Bangsa. Hanya dalam waktu 10 bulan Bumi Manusia cetak lima kali dan Anak Semua Bangsa dicetak 3 kali dalam 6 bulan serta terjual 400ribu kopi. Ini membuat Pram semakin percaya bahwasanya penahanan dia selama 14 tahun tidak mematikan jiwa beliau dan masyarakat masih menaruh ekpektasi yang tinggi kepada beliau.

Disisi lain ini juga menambah ketakutan rezim orde baru akan ketenaran Hasta Mitra dan terlebih Pram. Maka pada tanggal 29 Mei 1981 keluarlah larangan resmi untuk kedua buku tersebut. Sebenarnya di level birokrat terjadi tarik ulur oleh karena orde baru takut akan tekanan Internasional bahwasanya Indonesia sudah menjadi lebih demokrasi dan memberi kebebasan kepada semua rakyatnya. Ini juga bersumber dari tekanan investor dari eropa dan amerika. Ini yang menyebabkan larangan baru berjalan setelah Kepala Kejagung dan Wapres Adam Malik diganti.

Sebenarnya pelarangan ini adalah Ironi bagi rezim karena isi buku yang tidak berkaitan sama sekali dengan orde baru. Oleh karenanya rezim orde baru berpropaganda bahwasanya Hasta Mitra adalah penyebar komunis dan bibit komunis gaya baru. Selain itu penjualan turut ditekan dengan jalan meneror semua media agar tidak pernah memberitakan buku terbitan Hasta Mitra. Ini semua berjalan lancar karena tekanan yang sangat kuat di zaman orde baru. Semua yang bersimpati kepada Hasta Mitra dianggap berhaluan kiri. Joesoef dan Hasyim turut pula diinterogasi selama sebulan.

Pada bulan September 1981, masalah besar menimpa Hasta Mitra dimana Pram mendapat undangan untuk berbicara di seminar tentang masalah bangsa di Universitas UI yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Ilmu Sospol. Akhirnya Joesoef, Hasyim, Pram dan 4 mahasiswa diinterogasi dan ditahan. Joesoef ditahan 4 bulan dan wajib lapor 3 kali seminggu dikodim setempat. Empat mahasiswa yang lain juga ditahan 2 minggu dan setelahnya diawasi. Keempat mahasiswa ini juga dipaksa Drop Out dari UI, salah satunya adalah anak Joesoef sendiri.

Akibat pelarangan, tekanan dan teror yang terus menerus maka Hasta Mitra dengan sendirinya menuju kebangkrutan. Ini karena banyak toko buku takut menjual dan mengembalikan buku – buku tersebut kembali. Ini membuat perputaran uang menjadi tidak sehat. Sampai akhirnya satu – satunya yang menjual buku Hasta Mitra hanyalah di penerbitan itu sendiri di jalan Duren Tiga. Padahal ketika awal penerbitan yang menghebohkan, banyak tawaran kerjasama seperti bantuan kredit dari BNI dan tawaran dari Toyota Foundation untuk menerbitkan karya Pram di Jepang. Namun semua itu hilang ketika tekanan rezim terus menguat. Sampai dana untuk memutar penerbitan adalah dana patungan bersama, seperti kata Joesoef, “Akhirnya kami mengumpulkan uang dapur yang dikumpulkan para isteri kami untuk bisa menerbitkan karya-karya Pram selanjutnya.”

Untuk menyelamatkan roda bisnis maka Hasjim mencoba menawarkan ke penerbit diluar negeri. Dengan bantuan rekan – rekan pelarian di luar negeri maka terkumpulah uang sebanyak 50ribu gulden, lalu dibangun cabang penerbitan di Amsterdam dengan nama Manus Amici.

Walaupun buku Hasta Mitra dilarang keras di Indonesia maka berkebalikan diluar negeri. Buku Pram dialih bahasakan dibanyak negara. Banyak juga yang sebenarnya ilegal karena tidak membayar royalti kepada Pram.

Setelah rezim orde baru tumbang maka mulailah tekanan hilang sehingga Hasta Mitra mulai bisa berjalan kembali. Ini dimulai dengan buku Arok Dedes. Bulan oktober 1999, Hasjim meninggal karena kanker tenggorokan.

Sampai akhirnya kini karya Pram diambil alih oleh putri pram sendiri untuk diterbitkan oleh Lentera Dipantara, usaha penerbitan putri pram dan anak – anak muda pengagum Pram.

Saat dahulu ketika dilarang dan ditekan pernah disarankan agar Pram mengganti nama samaran di bukunya seperti Multatuli-nya Max Havelaar. Namun Pram berujar,

“Tiap buku adalah anak-anak rohani saya. Masing-masing menjalani nasibnya sendiri,”

 

One Response to “HASTA MITRA SAHABAT PRAMOEDYA ANANTA TOER”

  1. […] kebebasan lewat karya tulis. Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan saya sebelumnya “Hasta Mitra Sahabat Pramoedya Ananta Toer” . Ia adalah pejuang kemanusian yang teguh memperjuangkan antidiskriminasi sampai akhir […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s