The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

Tambang Belerang Kawah Ijen Februari 6, 2009

Ini bukan Hulk hogan, ini bukan Ade rai, ini juga bukan cerita kuat si Samson. Ini cerita nyata dari kawah Ijen. Kawah dari sebuah kaldera gunung yang setiap saat selalu memuntahkan berkilo – kilo bahkan berton – ton belerang murni dari perut gunung setiap harinya.

Dialirkan melalui pipa besar berdiameter 30 cm. Ujung lubang pipa itu dimasukkan kedalam sumur – sumur sumber belerang. Lalu keluar dalam bentuk belerang cair yang sangat panas langsung dari dapur magma kawah, berpijar berwarna biru muda seperti kompor gas kita, lalu disela – selanya meleleh belerang cair berwarna oranye. Tambang belerang didunia yang dilakukan seluruhnya dengan tenaga manusia terbesar di dunia, catat di dunia
!

Pekerjaan yang sangat sederhana namun penuh resiko mulai dari saat mereka berangkat bekerja sampai pulang bekerja.

Pekerjaan dimulai dari pos paltunding tempat mereka didrop dari truk yang mengantarkan mereka pada jam 3 pagi. Inilah pos pendakian awal karena kendaraan selain sangat sulit untuk menuju puncak juga tidak diperkenankan.

Perjalanan sejauh 3 km ini ditempuh sejauh 1 jam perjalanan dengan sudut elevasi rata – rata 60⁰, inilah yang menguras tenaga para turis amatir. Sampai pada pos timbang pertama yang juga berada disamping pos pengamatan pengairan kawah ijen (lebih dikenal sebagai pos bundar) yang sudah ada sejak jaman belanda atau seusia dengan perkebunan kopi dibawah kaki gunung Ijen. Pos ini memantau kegiatan kawah Ijen setiap waktu karena ada kalanya gas beracun keluar. Pekerjaan hari ini dimulai dari sini dimana juga terdapat gubuk istirahat.

Dari gubuk ini para pekerja bersiap – siap dengan peralatannya. Ada beberapa pekerja yang meninggalkan peralatannya disini. Dari gubuk sampai di bibir kawah biasanya memakan waktu 1 jam.

Tiba dibibir kawah maka biasanya berbarengan dengan terbitnya matahari. Maka cahaya keemasan mulai menyinari tebing terjal dimana terdapat jalan berliku menuruni kawah sampai ditempat gas belerang keluar, tempat bekerja sepanjang hari. Pekerjaan menuruni jalan kekawah bukan suatu hal yang tidak berbahaya. Jalan ini seringkali hanya berupa batu – batu kecil yang disusun agar menyerupai anak tangga. Namun karena sudah hapal maka kaki mereka seolah telah tahu dimana batu yang goyah berada.

Ditengah kepulan asap yang menjadi – jadi mereka mencongkel belerang yang telah padat dan dingin tanpa perlindungan apa pun. Seringkali mereka ditelan asap belerang pekat yang kehitaman dan bertahan dari pengaruh racun yang menyesakkan dada dan memerihkan mata hanya dengan bermodal kain lusuh seadanya. Apabila pipa saluran dianggap terlalu panas maka mereka harus sigap untuk menyiramnya dengan air agar cepat menjadi dingin, apabila tidak maka ini dapat memecahkan pipa saluran belerang. Para pencongkel ini berlainan dengan para pembawa beban, mereka tidak membawa beban, mereka hanya bekerja mencongkel dan memuat kedalam keranjang beban. Tidak jauh dari tempat mereka bekerja terdapat kemah berterpal biru seadaanya tempat mereka beristirahat karena biasanya sekitar jam 10 pagi, asap mulai menebal lalu kembali tipis menjelang tengah hari.

Tidak jauh dari tempat mereka bekerja terdapat danau kawah dengan tingkat keasaman tinggi sehingga berwarna indah, hijau jamrud dengan bercak keputihan. Namun mereka tidak akan sempat dan hirau dengan keindahan ini akibat tenggelam dalam beratnya hidup.

Pekerjaan manusia super maka dimulailah dari anak tangga terbawah. Pekerjaan yang benar – benar memaksa kekuatan maksimal manusia. 100 kg per pikulan adalah rekor, rata – rata beban adalah 70 kg. Dibawa mendaki menuju atas jalan lereng berliku sejauh 1 km yang terkadang bersudut elevasi hampir 90⁰ alias tegak lurus. Dijalur terberat inilah manusia diuji, kaki menaiki anak tangga selangkah demi selangkah setiap helaan nafas. Mata mereka hanya tertuju pada batu – batu pijakan akan benar – benar menapak. Seringkali mereka tidak kuat pada anak tangga ke 10 setiap jalur terberatnya. Dipundak mereka beban berderit – derit didalam keranjang bambu sedang batu berderak – derak dipijak beratnya beban.

Oleh karena itu dengan pengaturan sederhana dibuatlah peraturan unik, one for all, all for one, satu untuk semua, semua bahu membahu sesaudara. Pikulan diletakkan ditiap – tiap tikungan terjal kemudian diangkut bergantian, ini dapat menghemat waktu turun naik dan tenaga tentunya. Seringkali para pekerja yang telah tua tidak sesegar pekerja muda. 2 kali angkut setiap harinya adalah pekerjaan maksimal sedang pekerja muda maksimal 4 kali angkut. Oleh karenanya seringkali yang muda membantu mengangkat pada jalur – jalur berat dan pekerja tua melanjutkannya dijalur – jalur yang ringan. Pengaturan sederhana dan unik. Pekerjaan inilah yang paling beresiko, seringkali jalur ini hanya cukup untuk satu kaki melangkah. Apabila anda tidak kuat atau salah menapakkan kaki maka hanya ada 2 pilihan, lemparkan bawaan anda atau anda yang terlempar ke bawah. Pekerja yang mati memang katanya belum ada namun kecelakaan adalah hal yang sering terjadi. Walau belum ada penelitian akan kualitas paru para penambang namun masalah kesehatan yang sering terjadi hanyalah linu – linu pada lutut, biasanya mereka memilih beristirahat keesokan harinya karena bila dilanjutkan maka dapat menjadi dislokasi lutut yang akibatnya mereka akan menganggur lama atau bahkan pensiun. Pundak dan lutut adalah asuransi hidup yang teramat penting bagi mereka.

Sesampainya dibibir kawah maka mereka juga biasa melakukan pengaturan unik. Pekerja meletakkan beberapa keranjang diberbagai tempat. Setelah terkumpul banyak mereka akan memikul secepatnya menuju pos timbang pertama untuk ditimbang. Disini mereka dapat beristirahat sejenak atau memilih kembali secepatnya mengambil keranjang – keranjang lain. Nampaknya jam 10 memang jam istirahat saat asap belerang bertambah pekat sejenak.

Dari pos timbang pertama maka pikulan ini akan dibawa menuju ke Paltunding kembali dimana disini terdapat pos timbang kedua yang akan mengecek kembali berat pikulan. Ini agar para pekerja tidak mengelabui perusahaan pembeli dengan membuang beban dari pos timbang pertama sampai paltunding. Dijalur ini ternyata ada pekerja yang memanfaatkan jauhnya jarak ini dengan membantu membawakan pikulan hanya di jalur pos timbang 1 – paltunding dengan harga angkut 5 ribu per pikulan. Pekerja ini tidak akan naik sampai sejauh setengah jarak ke pos timbang 1 dan biasanya mereka adalah pelari – pelari cepat yang mampu membawa beban sambil berlari.

Pekerjaan melelahkan dan berbahaya ini dilakukan sejak jam 3 pagi sampai jam 3 sore dengan harga perkilo yang hanya 600 rupiah. Sehingga apabila mereka sanggup membawa beban rata – rata 70kg perpikulan dengan 3 pikul yang artinya 3 kali pulang pergi maka mereka hanya mendapat 126ribu perhari. Namun hari kerja mereka rata – rata adalah 2 hari kerja 1 hari libur. Sbagai tambahan pendapatan mereka seringkali menjual souvenir patung cetakan dari belerang murni mereka dengan harga 5ribu perbiji. Juga seringkali mereka bertindak materilistis dengan meminta bayaran 10ribu perpose apabila mereka dipotret utuh ketika bekerja. Memang mungkin bila dihitung kasar pekerjaan marabahaya ini begitu menggiurkan namun kelihatannya ada beberapa potongan lain yang tak terceritakan. Yang membuat mereka tetap saja miskin. Lain kali akan saya coba ungkap.

Para pekerja ini tidak dapat sembarangan menambang karena harus terdaftar pada perusahaan pembeli. Perusahaan ini pula yang terkadang merawat pekerja apabila terjadi kecelakaan kerja. Hasil tambang mereka akhirnya dibawa denga truk menuju Banyuwangi melalui jalan Paltunding – Jambu – Licin melewati jalan yang terjal dan rusak parah terlebih pada musim hujan akibat beratnya beban truk. Hasilnya akan dijual lagi ke pabrik gula sebagai pemutih gula atau ke pabrik obat sebagai campuran obat kulit.

Sungguh suatu cerita perjalan belerang yang benar – benar menguji kekuatan manusia. Manusia yang berkerja seperti budak ekonomi di masa modern saat ini. Inilah gambaran sesungguhnya dari kata – kata Pram,

“Indonesia adalah negeri budak. Budak diantara bangsa dan budak bagi bangsa – bangsa lain”

 

3 Responses to “Tambang Belerang Kawah Ijen”

  1. debby Says:

    trus, dengan kondisi yang seperti itu.. knp mrk msih mau bekerja sbagai kuli belerang??? knp dijadikan sbg sumber mata pencaharian mrk padahal upah yg dperoleh relatif rendah??? knp mrk gag mau mncr pekerjaan lain sj??? apa ada alasan tersendiri??

    • @debby
      Ya… alasan klise, pekerjaan mudah (walau menurut kita berat) dalam artian tinggal congkel, angkat dan bawa… lumayan penghasilan 600rb ampe 800rb.. didaerah terpencil uang yang mudah dan cepat seperti itu kan susah dicari… bagi mereka mencari uang dalam angka ratusan itu sangat susah dan itu sudah cukup bagi mereka, jangan dibandingkan dengan dikota. apalagi dengan tingkat pendidikan rendah.

      kabar menyedihkan bagi mereka. Baru2 ini tahun 2009, para penampung belerang mereka yaitu perusahaan gula di banyuwangi kebanyakan sudah mulai mengurangi pembelian mereka akan belerang kawah ijen, ini dikarenakan mengimpor belerang dari singapura lebih murah. Jadi bila hal ini dibiarkan terus menerus maka kemungkinan tahun2 berikut kita bisa saja tidak melihat aktivitas ini. Walau memang aktivitas ini sejatinya kurang beradab.

  2. jokzheng Says:

    to all:
    memang begitulah keadaan disana kebetulan aku dekat wilayah kawah ijen aq arek banyuwangi lho tulen”wong oseng” smoga yang berjasa dalam bidang farmasi menjadi pemikiran orang yang duduk di pemerintahan .


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s