The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

Genjer – Genjer, bukan komunis April 4, 2009

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 5:46 pm
Tags: , , , , ,

Lagu ini dahulu sangat populer saat tahun 1960-an, namun sebenarnya diciptakan jauh dari tahun itu dan jauh dari kota Jakarta lewat corong RRI yang mempopulerkannya. Dahulu lagu ini adalah best hits di radio – radio dan juga dipopulerkan penyanyi terkenal saat itu seperti Lilis Suryani dan Bing Slamet. Lagu ini awalnya diciptakan saat jaman pendudukan Jepang di Banyuwangi, Jawa Timur. Di tengah keperihatinan penduduk saat perang yang susah mencari makan, maka genjer alias kangkung yang banyak tumbuh liar di rawa – rawa atau sawah, menjadi makanan pengganjal perut. Untuk menggambarkan keadaan itulah maka diciptakan lagu ini oleh para seniman dari Banyuwangi.

Setelah perang kemerdekaan, penciptanya Muhammad Arief, seniman dari Banyuwangi, bergabung di Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA) yang merupakan underbouw alias anak organisasi kebudayaan dari PKI. Sebenarnya Lekra dan sayap – sayap PKI lainnya diberikan kebebasan yang luas tanpa pengaturan yang membelenggu. Jadi artinya semua kegiatannya walau ada selipan gambar sponsor komunis namun semua kegiatan dan anggotanya bebas berekspresi. Termasuk lagu genjer – genjer ini sebenarnya tidak ada selipan pesan – pesan komunis sedikit pun. Benar – benar pure asli lagu rakyat, seperti inilah lirik Lagu Genjer – Genjer dengan bahasa Jawa dialek Banyuwangi :

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih
Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
emake djebeng tuku gendjer wadahi etas
gendjer-gendjer saiki arep diolah

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
setengah mateng dientas digawe iwak
setengah mateng dientas digawe iwak
sega sa piring sambel penjel ndok ngamben
gendjer-gendjer dipangan musuhe sega

artinya :

(Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan
Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer
ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Gendjer-gendjer sekarang sudah dibawa pulang

Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas
Gendjer-gendjer sekarang akan dimasak

Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak
Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak
setengah matang ditiriskan dijadikan lauk
setengah matang ditiriskan dijadikan lauk
nasi sepiring sambal pecel duduk di ambin
Gendjer-gendjer dimakan musuhnya nasi)

Jelas sekali bahwasanya tidak ada pesan komunis disana. Jadi mengapa lagu ini menjadi lagu yang sangat tabu untuk dinyanyikan saat orba ? Jawabannya adalah karena fobia yang berlebihan dan represif orba agar bibit perlawanan kepada penguasa benar – benar bungkam. Saat setelah G30S, maka semua hal berbau komunis baik yang benar – benar bau atau hanya kena cipratan baunya adalah DILARANG dan semuanya menjadi ketakutan dan momok yang wajib dijauhi.

Sebagai anggota LEKRA maka M. Arief mempunyai hubungan dekat dengan Njoto, pentolan seniman di Lekra. Njoto yang pertama kali mendengarnya saat dinyanyikan dalam sambutannya saat lewat di Banyuwangi untuk berkunjung ke Denpasar, memprediksi bahwa lagu ini akan terkenal, bukan hanya karena liriknya namun karena musiknya yang mengena dan pas dengan selera musik saat itu. Akhirnya lagu ini pun menjadi digemari oleh petinggi PKI dan masuk dalam daftar lagu kerakyatan dalam setiap kegiatan politik PKI seperti yang tertera dalam Kumpulan Lagu PKI. Walau, lagu ini masuk dalam lagu – lagu PKI namun sebelumnya sudah sangat terkenal di seluruh pendengar lewat radio. Mirip lagu Jamrud, Pelangi di Matamu, saat ini, yang sering dibawakan Presiden SBY dikala kunjungannya.

Akibatnya, setelah PKI dilibas maka lagu ini selalu dikaitkan dengan komunis. Sama seperti semua yang berbau China (saat itu kiblat kita adalah poros Moskow – Beijing – Jakarta ) juga adalah komunis, karena itu barongsai dilarang. Lagu – lagu yang sering dinyanyikan PKI adalah DILARANG juga semua lagu yang ada hubungannya. Ini juga diperparah dengan Lagu Genjer – Genjer yang diplesetkan oleh entah siapa, dimulai sejak kapan dan darimana. Lagu Plesetan Genjer – Genjer itu adalah sebagi berikut :

Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
Jendral Jendral saiki wes dicekeli

Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
Dijejer ditaleni dan dipelosoro
Emake Gerwani, teko kabeh milu ngersoyo
Jendral Jendral maju terus dipateni

Konon katanya lagu ini diplesetkan Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) yang menjadi motor aksi demo besar – besaran menjatuhkan Soekarno, turut pula mereka memfitnah bahwasanya Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia, sayap organisasi wanita PKI) menyanyikan lagu ini saat menyiksa Jendral – Jendral di Lubang Buaya.

Sebenarnya bukan hanya lagu Genjer – Genjer yang DILARANG orba, baik diperdengarkan, disebarkan, atau hanya dinyanyikan. Ada lagu – lagu lain, terutama lagu yang ada didalam Kumpulan Lagu PKI. Seperti lagu Anti Nekolim, toek Paduka Jang Moelia, dll.

Sekarang adalah jaman demokrasi, kita semua bebas berekspresi dan wajib saling menghargai. Yang Dilarang adalah bila kita memaksakan ideologi dan paham kita kepada orang lain dan melanggar privasinya. Artinya ideologi apapun wajib kita hargai, terlebih bila ternyata itu hanya kecipratan baunya saja. Artinya lagi, Lagu Genjer – genjer dan lagu – lagu lainnya mempunyai hak untuk kembali hidup dan diapresiasi. Kita tidak ingin menjadi bangsa yang lupa akan sejarah dan akarnya. Jangan lagi mau dicuci otak kita dan dibelokkan sejarah kita oleh sistem yang salah seperti orde baru. JANGAN MAU.

Bagi kawan – kawan yang ingin mendownload lagu Genjer – Genjer dan yang lain bisa klik link dibawah :

1. GENJER – GENJER oleh Lilis Suryani

2. GENJER – GENJER oleh Bing Slamet

3. Anti Nekolim

 

11 Responses to “Genjer – Genjer, bukan komunis”

  1. eblogurl Says:

    Nik…masih jadi aktivis kampus ya…hehhehe

  2. sundoro Says:

    Kayak poco-poco, itu lagu osing banyu wangi, yang di angkat oleh kaum muda pada jamannya.
    Soeharto pernah di suguhi lagu ini waktu di myanmar,
    hahahahahahahahahahahhahaaaaaaaa
    paginya Boediarjo langsung di pecat, wakwkwkwkwkwkwkwk
    yang nyanyi saja bangsa lain yang punya harusnya bangga dong kok menterinya di pecat.
    Dasar otak Keledai wakwkwkwkwkwkwkwk

  3. Badai Selatan Says:

    Bung,
    link nya mati ya???

    mohon kirimkan lagi ya
    lewat surat elektrik saja…

    • #badai selatan
      bisa ambil di blog saya satunya di nikkiputrayana.multiply.com… ini saya kasih linknya
      or juga saya kirim ke email anda juga…

      • Badai Selatan Says:

        Bung,, saya minta link bwt download lagu nekolim dong…
        mohon segera dibalas..

        terima kasih…

      • Badai Selatan Says:

        Bung,
        multiply tampaknya sedang gangguan sepertinya… mohon link download lagunya dikirim via email saya saja… terima kasih banyak sebelumnya… maju terus dunia pergerakan pemuda indonesia!!
        hancurkan sisa2 feodalisme yang masih mengakar di bumi pertiwi… wkwkwk

  4. ImUmPh Says:

    Saya baru tau lagu ini dari temen hari ini. Katanya ini OST-nya PKI. makanya saya cari referensinya.
    Dab ternyata ini cuma lagu rakyat biasa…
    Makasih atas infonya Om!

    • @ImUmPh
      betul sekali, cuma karena dulu Lekra memang sangat concern dalam hal kebudayaan rakyat, maka lagu rakyat ini sering dinyanyikan lewat corong Lekra. Tapi bukan berarti lagu itu PKI kan ?? Logika orba memang agak susah dinalar..

  5. ade saputra Says:

    gendjer / genjer dalam bhs tiongkok kuno dibaca zhudhong / shudong / zedong / sodong [kalo ga salah cara bacanya begono] nah artinya adalah “tanpa dewa / tanpa tuhan / atheis / no God”
    – biasanya perkaataan ini di tunjukkan kepada seseorang yg berzina / mabuk / bubuk surga [kokain] / berjudi dengan istri [taruhannya istri] serta para pembunuh.
    – di Tibet, para sesepuh dalai lama adalah pemuka agama yg melarang orang dengan berbuat seperti itu dan menyuruh kepada kebajikan
    – nah, para penduduk yg tidak suka dengan semua aturan kebajikan yg di ajarkan oleh orang bijak. Mereka turun bukit / gunung dan mendirikan kaum “KEBEBASAN” [menurut beberapa sumber, pemikiran ini sampai ke eropa dan disana disebut kaum “HYPPIS”
    – dan inilah yg jadi dasar pemikiran komunis didunia, semua Bebas tanpa ada peraturan,
    – jika kita dalami, dan hayati…..
    adakah didunia ini agama yang TANPA PERATURAN ????
    —————————-
    semua dikembalikan kepada diri kita masing-masing…

    • Kalau mau dihubung – hubungkan, semua hal didunia ini bisa saja terhubung, tergantung khayalan masing – masing manusia. Namun ada baiknya kita tetap kembali kepada hal – hal fositip saja. Bukankah kita perlu energi positif untuk melangkah maju…. ???

      Btw, trims buat komentarnya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s