The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

DESERSI Agustus 14, 2009

Filed under: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 5:57 am

Desersi

DESERSI

menembus rimba raya kalimantan.

Diterbitkan Pertama Kali di Rotterdam, 1861 dengan judul “Borneo van Zuid naar Noord” karya Michaël Theophile Hubert (MTH) Perelaer.

Diterjemahkan oleh Helius Sjamsuddin kedalam bahasa Indonesia.

Kutipan :

“… Tapi masih ada utang darah lain di antara kita. Ketika saya menyerang rombonganmu, saya bermaksud mengambil kepala – kepala kalian. Selama pergumulan itu salah seorang anggotamu mati terbunuh, beberapa orangku sendiri lenyap – darah dibalas darah…”

Novel ini sebenarnya novel yang sudah sangat lama sekali terpendam di perpustakaan National Library, Canberra, Australia. Berterima kasihlah kepada Helius Sjamsuddin, yang secara tidak sengaja ketika menyelesaikan disertasinya, menemukan novel ini. Berkat jari jemarinya novel ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Novel ini berkisah tentang empat serdadu bayaran Belanda VOC di Kuala Kapuas (Kalimantan Tengah saat ini), yaitu Schlickeisen (Swiss), Wienersdorf (Swiss), La Cuille (Belgia) dan Yohannes (pribumi Indo keturunan Nias). Mereka melarikan diri dari dinas militer dari bentengnya di Kuala Kapuas. Mereka merasa ditipu oleh kontrak pemerintah Belanda yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik daripada di negara asalnya. Semua ternyata hanyalah bohong belaka, hampir mirip dengan kondisi TKI kita.

Dalam pelarian mereka kearah utara kalimantan, mereka bukan hanya bertemu dengan suku – suku Dayak pedalaman yang barbar tapi juga akhirnya berbaur dengan mereka. Dalam pelarian yang dikejar – kejar oleh militer Belanda mereka juga menyaksikan indahnya alam asli perawan hutan – hutan Kalimantan. Mereka juga turut menjadi saksi dan ikut andil dalam perlawanan rakyat Kalimantan kepada penjajahan Belanda. Dalam pelarian ini pula dikisahkan banyak hal tentang adat istiadat suku Dayak masa lampau, terutama adat pengayauan atau potong kepala.

Meskipun cerita pelarian dalam novel ini fiktif namun setting cerita, nama – nama tokoh, adat istiadat dan catatan sejarahnya adalah benar dan sama persis dengan keadaan saat itu. Sehingga penggambaran dalam novel ini bisa menjadi pijakan sejarah bagi pembacanya. Perelaer sendiri adalah opsir Belanda dengan pangkat terakhir Mayor pada 1879. Ia pernah ikut ambil bagian dalam Perang Banjarmasin dan Perang Aceh. Di Kuala Kapuas sendiri yang dijadikan setting awal cerita ini ia menjadi komandan pos dengan pangkat Lentan Satu selama 4 tahun. Oleh karena pengetahuannya yang sangat luas akan dunia Kalimantan ia banyak menulis tentang suku Dayak. Salah satu yang terlengkap adalah Etnographische Beschrijiving der Dajaks (1870).

Oleh karenanya, siapa saja yang ingin mengenal sejarah Kalimantan dan Dayak, sebagai perkenalan bolehlah membaca novel ini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s