The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

Joesoef Isak Meninggal Dunia Agustus 16, 2009

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 1:08 pm

Saya pernah menulis tentang Joesoef Ishak di blog saya. Yaitu tiga serangkai jebolan tahanan politik yang mendirikan penerbitan buku Hasta Mitra. Pada hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2009 pada jam 01.30 di kediamannya Jalan Duren Tiga, Jakarta. Beliau dimakamkan di TPU Jeruk Purut pada siang harinya.

Karyanya yang terakhir dan belum sempat diedarkan adalah Memoir Ang Jang Goan, seorang tokoh pers tiga jaman dan pendiri Rumah Sakit terkemuka di Jakarta, seorang keturunan Tionghoa yang pada masa orde baru turut tersingkir keluar negeri dan wafat di Kanada.

Bersama Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim Rahman, ia berjuang untuk bisa menyuarakan kebebasan lewat karya tulis. Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan saya sebelumnya “Hasta Mitra Sahabat Pramoedya Ananta Toer” . Ia adalah pejuang kemanusian yang teguh memperjuangkan antidiskriminasi sampai akhir hayatnya.

Semoga ia damai dalam sisi lindungan-Nya

 

Vuvuzela, bikin stadion serasa sarang lebah Juni 19, 2009

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 6:25 am

Mungkin agak sedikit aneh kalau kita saat ini menyaksikan tontonan sepak bola Piala Konfederasi Di Afrika Selatan. Bukan penontonnya yang memang kebanyakan berkulit hitam dan dandanan nyentrik ala gibol afrika. Tapi aura suara stadion seluruh Afrika Selatan yang bagi saya dan juga mungkin bagi semua penonton bola seluruh dunia agak aneh. Bagaimana ndak, sepanjang pertandingan mulai dari awal sampai akhir suara yang kita dengar cuma suara lebah yang mendengung – dengung. Dari semua sudut stadion suara ini membahana, sampai – sampai suara yang lain seperti supporter, kerasnya bola, bahkan suara komentator di televise terkadang kalah keras dengan dengungan lebah ini.

Suara dengungan lebah ini ternyata dihasilkan dari terompet yang ditiup hampir sebagian besar penonton bola di stadion. Terompet ini bernama Vuvuzela, berbentuk terompet panjang sepanjang 1 meter yang awalnya terbuat dari besi timah pada awal 90-an. Namun akhirnya klub – klub sepakbola local di Afrika selatan mempopulerkannya dengan memproduksi Vuvuzela berbahan plastic dan berwarna – warni seperti saat ini. Vuvuzela ini sebenarnya butuh tenaga kuat untuk meniupnya sehingga bisa berbunyi sekeras seperti yang kita dengar saat ini.

Memang sih banyak sekali protes yang dilayangkan kepada stadion – stadion di Afsel agar melarang penontonnya membawa dan meniup Vuvuzela. Selain mengganggu pemain, official, juga wartawan dan juga mungkin bagi kita – kita yang tidak terbiasa mendengarnya. Bagaimana tidak, sepanjang pertandingan kita dipaksa mendengarkan dengungan lebah yang memekakkan. Bagaimana dengan orang sakit gigi coba ?? hehehe…. Tetapi FIFA tetap member kelonggaran akan hal ini karena argument dari Otoritas Sepakbola Afsel yang mengatakan inilah kultur sepakbola Afsel. Ini Afsel bung. Suka – suka orang Afsel lah mau bergembira dengan cara seperti apa. Kalau di Brazil kita selalu meyaksikan suara gendang bertalu – talu, di Inggris kita mendengar nyayian, di meksiko terkenal dengan wave of handnya. So…. Ini Afrika Selatan, jadinya ya terbiasalah dengan Vuvuzela-nya.

Tapi menurut saya sih tetap saja Vuvuzela ini mengganggu karena ditiup sekerasnya – kerasnya tanpa aturan. Katanya sih ini terkait cerita mulut ke mulut yang konon katanya, awalnya vuvuzela digunakan untuk mengusir Gorila dengan cara menakut – nakutinya dengan suara terompet yang memekakkan telinga. So … jadi maunya penonton, mereka juga mau menakut – nakuti tim tamu yang datang dengan cara mengganggunya lewat tiupan Vuvuzela sepanjang pertandingan. Bukannya ini juga mengganggu tim kita sendiri juga ???

Jadi sih menurut saya perlu ada kursus singkat bagi penonton Afsel yang meniup Vuvuzela supaya berirama dan nyaman didengar. Bukan ditiup sekenanya dan seenak udelnya. Jadi ya suara lebah itu juga yang keluar. Jadi Vuvuzela ini bisa terkenal seluruh dunia dan tidak mengganggu.

 

Bukan Buat Kampanye, memang lagunya bagus Juni 11, 2009

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 5:06 am

Sekarang lagi musimnya kampanye Pilpres. Banyak cara yang dilakukan para pasangan calon. Mulai dari iklan gencar di TV, iklan baliho raksasa di jalanan, acara talk show di TV, kampanye akbar di lapangan, dan masih banyak lagi yang dilakukan kecil – kecilan oleh tim sukses masing2 calon.

Namun cara yang di tempuh SBY, Buapak Presiden kita yang terhormat, hampir mirip dengan kampanyenya tahun lalu yaitu Politik Pencitraan. Dimana baik beliau atau tim suksesnya mencoba untuk selalu mencitrakan SBY dengan berbagai macam cara. Yang paling gampang adalah dengan jingle – jingle iklannya bukan saja hanya lewat jargon alias kalimat pendek yang selalu didengungkan.

Untuk urusan membuat lagu, Pak SBY memang bukan hanya jago tapi memang bakat beliau. Bukan lagi seperti saat orde baru yang lampau dimana apapun yang dilakukan pimpinan harus diapresiasi baik oleh bawahan, namun hasil karya seni Pak SBY memang patut diapresiasi baik dan indah terlepas siapa beliau.

Lagu – lagu pak SBY memang diciptakan secara sungguh – sungguh oleh beliau, diaransemen secara apik dan beliau memang pintar untuk memilih penyanyi yang membawakan lagu ciptaan beliau. Sehingga karakter lagu ciptaannya terbawakan dengan baik.

Lagu ciptaannya bukan saja monoton untuk usia sepantaran beliau tapi diciptakan untuk segala usia, kondisi dan mood. Aransemennya juga dibuat sedemikian rupa sehingga bisa diterima semua lapisan usia. Lihat saja lagu seperti “Ku Yakin Sampai Di Sana” yang dinyanyikan Rio Febrian atau lagu “Kawan” yang dinyanyikan Grup Band Krispatih. Keduanya saya yakin bisa diterima kalangan muda baik beat maupun ketenaran penyanyinya. Kalangan tua juga siapa sih yang tidak kenal dengan Bung Ebiet G. Ade yang membawakan lagu salah satunya “Mengarungi Keberkahan Tuhan” saya juga yakin orang – orang tua akan senang mendengarkan lagu itu dikala malam sambil beristirahat.

Jadi singkat kata, apapun yang ingin dikatakan orang tentang cara kampanye Pak SBY, untuk urusan karya seni suara ini Pak SBY boleh kita acungi jempol, dua jempollah kalau perlu. Terlepas dari siapa beliau, kita boleh bilang beliau hebat untuk urusan yang satu ini, bukan cuma aji mumpung belaka seperti lagu Hancur hancur hatiku yang seperti kaset mbulet….

Kalau mau cari or download lagu – lagu ciptaan beliau saya cuma saran cari aja dengan ketik di Google, takut kasih link bajakannya, malu ma Pak SBY hehehehehe…..

 

Genjer – Genjer, bukan komunis April 4, 2009

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 5:46 pm
Tags: , , , , ,

Lagu ini dahulu sangat populer saat tahun 1960-an, namun sebenarnya diciptakan jauh dari tahun itu dan jauh dari kota Jakarta lewat corong RRI yang mempopulerkannya. Dahulu lagu ini adalah best hits di radio – radio dan juga dipopulerkan penyanyi terkenal saat itu seperti Lilis Suryani dan Bing Slamet. Lagu ini awalnya diciptakan saat jaman pendudukan Jepang di Banyuwangi, Jawa Timur. Di tengah keperihatinan penduduk saat perang yang susah mencari makan, maka genjer alias kangkung yang banyak tumbuh liar di rawa – rawa atau sawah, menjadi makanan pengganjal perut. Untuk menggambarkan keadaan itulah maka diciptakan lagu ini oleh para seniman dari Banyuwangi.

Setelah perang kemerdekaan, penciptanya Muhammad Arief, seniman dari Banyuwangi, bergabung di Lembaga Kesenian Rakyat (LEKRA) yang merupakan underbouw alias anak organisasi kebudayaan dari PKI. Sebenarnya Lekra dan sayap – sayap PKI lainnya diberikan kebebasan yang luas tanpa pengaturan yang membelenggu. Jadi artinya semua kegiatannya walau ada selipan gambar sponsor komunis namun semua kegiatan dan anggotanya bebas berekspresi. Termasuk lagu genjer – genjer ini sebenarnya tidak ada selipan pesan – pesan komunis sedikit pun. Benar – benar pure asli lagu rakyat, seperti inilah lirik Lagu Genjer – Genjer dengan bahasa Jawa dialek Banyuwangi :

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih
Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
emake djebeng tuku gendjer wadahi etas
gendjer-gendjer saiki arep diolah

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
setengah mateng dientas digawe iwak
setengah mateng dientas digawe iwak
sega sa piring sambel penjel ndok ngamben
gendjer-gendjer dipangan musuhe sega

artinya :

(Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan
Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer
ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Gendjer-gendjer sekarang sudah dibawa pulang

Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas
Gendjer-gendjer sekarang akan dimasak

Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak
Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak
setengah matang ditiriskan dijadikan lauk
setengah matang ditiriskan dijadikan lauk
nasi sepiring sambal pecel duduk di ambin
Gendjer-gendjer dimakan musuhnya nasi)

Jelas sekali bahwasanya tidak ada pesan komunis disana. Jadi mengapa lagu ini menjadi lagu yang sangat tabu untuk dinyanyikan saat orba ? Jawabannya adalah karena fobia yang berlebihan dan represif orba agar bibit perlawanan kepada penguasa benar – benar bungkam. Saat setelah G30S, maka semua hal berbau komunis baik yang benar – benar bau atau hanya kena cipratan baunya adalah DILARANG dan semuanya menjadi ketakutan dan momok yang wajib dijauhi.

Sebagai anggota LEKRA maka M. Arief mempunyai hubungan dekat dengan Njoto, pentolan seniman di Lekra. Njoto yang pertama kali mendengarnya saat dinyanyikan dalam sambutannya saat lewat di Banyuwangi untuk berkunjung ke Denpasar, memprediksi bahwa lagu ini akan terkenal, bukan hanya karena liriknya namun karena musiknya yang mengena dan pas dengan selera musik saat itu. Akhirnya lagu ini pun menjadi digemari oleh petinggi PKI dan masuk dalam daftar lagu kerakyatan dalam setiap kegiatan politik PKI seperti yang tertera dalam Kumpulan Lagu PKI. Walau, lagu ini masuk dalam lagu – lagu PKI namun sebelumnya sudah sangat terkenal di seluruh pendengar lewat radio. Mirip lagu Jamrud, Pelangi di Matamu, saat ini, yang sering dibawakan Presiden SBY dikala kunjungannya.

Akibatnya, setelah PKI dilibas maka lagu ini selalu dikaitkan dengan komunis. Sama seperti semua yang berbau China (saat itu kiblat kita adalah poros Moskow – Beijing – Jakarta ) juga adalah komunis, karena itu barongsai dilarang. Lagu – lagu yang sering dinyanyikan PKI adalah DILARANG juga semua lagu yang ada hubungannya. Ini juga diperparah dengan Lagu Genjer – Genjer yang diplesetkan oleh entah siapa, dimulai sejak kapan dan darimana. Lagu Plesetan Genjer – Genjer itu adalah sebagi berikut :

Jendral Jendral Nyang ibukota pating keleler
Emake Gerwani, teko teko nyuliki jendral
Oleh sak truk, mungkir sedot sing toleh-toleh
Jendral Jendral saiki wes dicekeli

Jendral Jendral isuk-isuk pada disiksa
Dijejer ditaleni dan dipelosoro
Emake Gerwani, teko kabeh milu ngersoyo
Jendral Jendral maju terus dipateni

Konon katanya lagu ini diplesetkan Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI) yang menjadi motor aksi demo besar – besaran menjatuhkan Soekarno, turut pula mereka memfitnah bahwasanya Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia, sayap organisasi wanita PKI) menyanyikan lagu ini saat menyiksa Jendral – Jendral di Lubang Buaya.

Sebenarnya bukan hanya lagu Genjer – Genjer yang DILARANG orba, baik diperdengarkan, disebarkan, atau hanya dinyanyikan. Ada lagu – lagu lain, terutama lagu yang ada didalam Kumpulan Lagu PKI. Seperti lagu Anti Nekolim, toek Paduka Jang Moelia, dll.

Sekarang adalah jaman demokrasi, kita semua bebas berekspresi dan wajib saling menghargai. Yang Dilarang adalah bila kita memaksakan ideologi dan paham kita kepada orang lain dan melanggar privasinya. Artinya ideologi apapun wajib kita hargai, terlebih bila ternyata itu hanya kecipratan baunya saja. Artinya lagi, Lagu Genjer – genjer dan lagu – lagu lainnya mempunyai hak untuk kembali hidup dan diapresiasi. Kita tidak ingin menjadi bangsa yang lupa akan sejarah dan akarnya. Jangan lagi mau dicuci otak kita dan dibelokkan sejarah kita oleh sistem yang salah seperti orde baru. JANGAN MAU.

Bagi kawan – kawan yang ingin mendownload lagu Genjer – Genjer dan yang lain bisa klik link dibawah :

1. GENJER – GENJER oleh Lilis Suryani

2. GENJER – GENJER oleh Bing Slamet

3. Anti Nekolim

 

NEKOLIM masih berjaya, Ayo dilibas

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 6:16 am
Tags: ,

Sekarang jamannya kebebasan. Semua bebas untuk bersuara dan berpendapat. Partai kita sudah multi partai, banyak partai. Mulut kita tidak lagi dibungkam. Pikiran kita tidak lagi dikungkung. Orde baru yang penuh penindasan sudah barang lama yang kita tinggalkan.

Tapi masih banyak penindasan oleh bangsa asing. Bangsa kita masih seperti nusantara dahulu kala, masih menggiurkan buat banyak bangsa. Kita bangsa besar. Rakyat kita kuat dan banyak. Tidak perlu kita bersusah hati menjadi orang Indonesia. Kita harus bangga menjadi manusia Indonesia.

Yang perlu kita libas adalah peran asing dengan antek2nya yang selalu coba melemahkan kita. Menghasut bangsa kita. Mencuci pikiran pemimpin2 kita. Mari kita semua bangkit menjadi Bangsa Indonesia yang seutuhnya. Berdikari, Mandiri, Kuat dan Bermartabat.

 

HASTA MITRA SAHABAT PRAMOEDYA ANANTA TOER November 12, 2008

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 8:43 am
Tags: , , , ,

Bila kita sering membaca – baca buku Pram dan sering mencari – cari info terkait tentang buku – buku Pram maka seringkali kita mendapat satu nama yaitu Hasta Mitra. Ya… memang Hasta Mitra tidak lepas dari Pram dan begitu pula sebaliknya.

Hasta Mitra memang adalah penerbit yang dibangun oleh tiga serangkai Joesoef Isak, Hasjim Rahman dan Pramoedya Ananta Toer. Ketiganya adalah rekan seperjuangan eks tapol (tahanan politik). Sekeluarnya dari penjara dan pembuangan di Pulau Buru tahun 1979 mereka ini walaupun dibebaskan namun tetap wajib lapor ke Kodim Setempat dan KTP mereka mendapat tanda El yang memiliki arti eks Tapol. Saat orde baru maka mendapat predikat eks tapol merupakan suatu kelas yang berbahaya dan tersisihkan di semua segi kehidupan. Mereka difitnah dan terus ditekan sebagai antek komunis.

Oleh karena latar belakang masing – masing yang sebagai jurnalis maka hati mereka selamanya akan tetap untuk menulis. Mereka sadar bahwasanya semua tulisan eks tapol adalah haram pada masa orde baru dan tiada penerbit yang berani atau sudi menerbitkan tulisan – tulisan mereka. Maka mereka akhirnya pada April 1980 mereka bersepakat untuk mendirikan penerbitan Hasta Mitra yang berarti tangan sahabat. Dana pendirian ini berasal dari patungan para eks tapol yang bertekad untuk menyebarkan hasil tulisan mereka dan ingin dianggap setara dan bebas seperti masyarakat yang lainnya.

Sebelum penahanan mereka pada tahun 1965 setelah PKI dibubarkan, mereka – mereka ini memang berasal dari dunia jurnalistik dan sastra. Dimana Joesoef Isak awalnya adalah mantan Ketua PWI
Cabang Jakarta (1959-1963), Wakil Presiden International Organization of Journalist dan kepala editor harian Merdeka. Hasjim Rahman adalah direktur harian Bintang Timur. Pram sendiri adalah anggota Lekra dan penulis besar saat itu.

Dengan hanya berbekal semangat, pengalaman dan ketenaran Pram maka mereka memberanikan diri mendirikan penerbitan yang beresiko. Awalnya mereka juga mempekerjakan 20 eks tapol yang memiliki semangat yang sama. Itu tercermin dari kata – kata Joesoef Isak, “Tetapi itu merupakan bagian dari cara kami untuk memperjuangkan hak asasi sebagai orang Indonesia. Kami orang bebas, kami merasa berhak untuk menerbitkan buku.”

Sebagai tes awal maka mereka mencoba mencetak dan menerbitkan seri awal dari tetralogi Buru yaitu Bumi Manusia. Ini didasari karangan Pram yang bereputasi Internasional dan seorang yang dinominasikan mendapat nobel sastra, walau Pram dipenjara dan diasingkan, tetapi dunia Internasional selalu menghargai beliau. Namun 2 hari setelah terbit Bumi Manusia sudah mendapat surat dari Dinas Intelejen Kejaksaan Agung RI yang berbunyi : Jangan dijual sampai mendapat sensor.

Namun Hasta Mitra memiliki keyakinan bahwasanya bila menunggu sensor yang tak tentu kapan selesainya atau malah dilarang maka sampai kapan pun Bumi Manusia tidak akan pernah beredar sehingga mereka nekad untuk melawan. Ini juga mereka yakini oleh karena Bumi Manusia isinya tidak sedikit pun menyinggung dan berisi tentang orde lama ataupun orde baru, hanya berisi cerita tentang jaman kolonialisme.

Setelah 2 minggu mendapat peringatan, Bumi Manusia terjual 10rb kopi dan terus menjadi best seller. Dalam 6 bulan berikutnya terjual 60rb kopi. Ini membuat Hasta Mitra mencetak buku seri kedua dari Tetralogi Buru yaitu Anak Semua Bangsa. Hanya dalam waktu 10 bulan Bumi Manusia cetak lima kali dan Anak Semua Bangsa dicetak 3 kali dalam 6 bulan serta terjual 400ribu kopi. Ini membuat Pram semakin percaya bahwasanya penahanan dia selama 14 tahun tidak mematikan jiwa beliau dan masyarakat masih menaruh ekpektasi yang tinggi kepada beliau.

Disisi lain ini juga menambah ketakutan rezim orde baru akan ketenaran Hasta Mitra dan terlebih Pram. Maka pada tanggal 29 Mei 1981 keluarlah larangan resmi untuk kedua buku tersebut. Sebenarnya di level birokrat terjadi tarik ulur oleh karena orde baru takut akan tekanan Internasional bahwasanya Indonesia sudah menjadi lebih demokrasi dan memberi kebebasan kepada semua rakyatnya. Ini juga bersumber dari tekanan investor dari eropa dan amerika. Ini yang menyebabkan larangan baru berjalan setelah Kepala Kejagung dan Wapres Adam Malik diganti.

Sebenarnya pelarangan ini adalah Ironi bagi rezim karena isi buku yang tidak berkaitan sama sekali dengan orde baru. Oleh karenanya rezim orde baru berpropaganda bahwasanya Hasta Mitra adalah penyebar komunis dan bibit komunis gaya baru. Selain itu penjualan turut ditekan dengan jalan meneror semua media agar tidak pernah memberitakan buku terbitan Hasta Mitra. Ini semua berjalan lancar karena tekanan yang sangat kuat di zaman orde baru. Semua yang bersimpati kepada Hasta Mitra dianggap berhaluan kiri. Joesoef dan Hasyim turut pula diinterogasi selama sebulan.

Pada bulan September 1981, masalah besar menimpa Hasta Mitra dimana Pram mendapat undangan untuk berbicara di seminar tentang masalah bangsa di Universitas UI yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Ilmu Sospol. Akhirnya Joesoef, Hasyim, Pram dan 4 mahasiswa diinterogasi dan ditahan. Joesoef ditahan 4 bulan dan wajib lapor 3 kali seminggu dikodim setempat. Empat mahasiswa yang lain juga ditahan 2 minggu dan setelahnya diawasi. Keempat mahasiswa ini juga dipaksa Drop Out dari UI, salah satunya adalah anak Joesoef sendiri.

Akibat pelarangan, tekanan dan teror yang terus menerus maka Hasta Mitra dengan sendirinya menuju kebangkrutan. Ini karena banyak toko buku takut menjual dan mengembalikan buku – buku tersebut kembali. Ini membuat perputaran uang menjadi tidak sehat. Sampai akhirnya satu – satunya yang menjual buku Hasta Mitra hanyalah di penerbitan itu sendiri di jalan Duren Tiga. Padahal ketika awal penerbitan yang menghebohkan, banyak tawaran kerjasama seperti bantuan kredit dari BNI dan tawaran dari Toyota Foundation untuk menerbitkan karya Pram di Jepang. Namun semua itu hilang ketika tekanan rezim terus menguat. Sampai dana untuk memutar penerbitan adalah dana patungan bersama, seperti kata Joesoef, “Akhirnya kami mengumpulkan uang dapur yang dikumpulkan para isteri kami untuk bisa menerbitkan karya-karya Pram selanjutnya.”

Untuk menyelamatkan roda bisnis maka Hasjim mencoba menawarkan ke penerbit diluar negeri. Dengan bantuan rekan – rekan pelarian di luar negeri maka terkumpulah uang sebanyak 50ribu gulden, lalu dibangun cabang penerbitan di Amsterdam dengan nama Manus Amici.

Walaupun buku Hasta Mitra dilarang keras di Indonesia maka berkebalikan diluar negeri. Buku Pram dialih bahasakan dibanyak negara. Banyak juga yang sebenarnya ilegal karena tidak membayar royalti kepada Pram.

Setelah rezim orde baru tumbang maka mulailah tekanan hilang sehingga Hasta Mitra mulai bisa berjalan kembali. Ini dimulai dengan buku Arok Dedes. Bulan oktober 1999, Hasjim meninggal karena kanker tenggorokan.

Sampai akhirnya kini karya Pram diambil alih oleh putri pram sendiri untuk diterbitkan oleh Lentera Dipantara, usaha penerbitan putri pram dan anak – anak muda pengagum Pram.

Saat dahulu ketika dilarang dan ditekan pernah disarankan agar Pram mengganti nama samaran di bukunya seperti Multatuli-nya Max Havelaar. Namun Pram berujar,

“Tiap buku adalah anak-anak rohani saya. Masing-masing menjalani nasibnya sendiri,”

 

Ada apa dengan “kaca mata“ Pram ??

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 8:42 am
Tags: , , , ,

Sebenarnya banyak dari kita yang apabila ditanya, Apakah pernah mendengar nama Pramoedya Ananta Toer ? Jawabannya adalah pernah dengar. Namun, apabila ditanya lebih lanjut siapa Pram dan apa saja karyanya, maka banyak juga yang tidak tahu. Kecuali mungkin para penikmat sastra yang dapat menjawabnya.

Tidak dapat disalahkan memang apabila banyak awam yang tidak tahu tentang sosok sebenar – benarnya dari Pramoedya Ananta Toer karena ia memang dibungkam sedemikian lama. Lebih menggelikan lagi maka banyak juga awam yang langsung teringat bahwa Pram adalah komunis. Ya…. Pramoedya dan Komunis, sudah menjadi cap yang begitu kental melekat.

Semua itu bukan salah orang awam karena memang selama 32 tahun orde baru berkuasa banyak orang yang dicap menjadi komunis ataupun orang berbahaya menurut orde baru. 32 tahun adalah waktu yang cukup untuk mengindoktrinasi pikiran orang banyak bagi sebuah kekuasaan.

Namun yang sebenar – benarnya, Pram sendiri tidak pernah mengatakan bahwa ia adalah Komunis. Adalah benar bila Pram bernaung dibawah Lekra, organisasi underbouw PKI. Namun seperti patut diketahui orang banyak bahwa Lekra adalah salah satu atau mungkin satu – satunya organisasi kebudayaan ciptaan partai politik yang benar – benar paham dan mengerti akan dunia budaya. Saya pikir sampai saat ini belum ada partai politik yang benar – benar memperhatikan budaya dan mengelola organisasi budaya sebaik Lekra. Sehingga bagi sastrawan tulen seperti Pram pasti akan mau bergabung dalam organisasi seperti Lekra. Tapi sekali lagi, Pram tidak pernah mengataka bahwa ia seorang komunis. Seperti yang sering diucapkannya bahwa ia selalu mengatakan bahwa ia hanya berpihak pada keadilan, kebenaran dan kemanusiaan. Pramisme, demikian katanya jika ditanya tentang ideologi yang dianutnya.

Seperti sudah kita ketahui bahwasanya seringkali sejarah sebenarnya adalah buatan orang – orang yang berkuasa. Sebuah kekuasaan dapat dengan mudahnya memutar balikkan fakta sejarah. Namun seperti analogi perang antara kebaikan dan kejahatan maka sejarah akan selalu memuat pro dan kontra sampai akhir dunia. Pro bagi sejarah yang ditulis oleh kekuasaan dan kontra bagi orang – orang yang berani bersuara walau dibungkam. Seperti itulah jalan yang ditempuh oleh Pramoedya Ananta Toer, dimana beliau dengan konsisten sejak awal ia menulis akan sejarah manusia indonesia khususnya lewat perspektif yang berbeda yaitu dari rakyat itu sendiri, bukan dari kaca mata kekuasaan.

Karena itulah Pramoedya harus bolak balik masuk penjara di tiga masa kekuasaan yang berbeda yaitu kolonial, orde lama dan orde baru. Dimasa kolonial dia dipenjara karena sering menulis keadaan bangsa yang sebenar – benaranya. Dimasa orde lama ia dipenjara karena sering menulis hal – hal kebobrokan pemerintah yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum di masyarakat. Lebih – lebih pada orde baru ia dipenjara selama 14 tahun tanpa peradilan karena ia anggota Lekra dan semua tulisannya bertentangan dengan sejarah yang ingin ditulis oleh orde baru itu sendiri. Padahal seperti kita ketahui banyak sejarah bangsa kita terasa janggal dan bertentangan dengan fakta yang ada.

Oleh karena kepolosan beliau akan tulisan sastra yang sebenarnya digali dari rakyat Indonesia itu sendiri maka tulisan beliau dikagumi diseluruh dunia. Tidak mengherankan bila memang banyak penghargaan sastra dan nominasi nobel sastra menghampiri beliau. Itu semua tidak lepas dari tulisan beliau yang sejujurnya akan sejarah bangsa kita. Itulah pula jawaban bahwa masyarakat dunia lebih senang akan tulisan – tulisan yang kontra kekuasaan Indonesia ketimbang tulisan sejarah resmi terbitan pemerintah. Mungkin pula itu jawaban mengapa kita sebagai bangsa terkadang tidak paham akan sejarahnya sendiri.

Salah satu karya beliau yang berjudul “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels”, yang mengupas tentang sejarah perkembangan kota – kota di seluruh jalan pantai utara jawa. Disana banyak diungkap sejarah – sejarah yang tidak kita dapat di bangku sekolah dahulu. Banyak pula sejarah kelam bangsa kita yang sebenarnya sedari dahulu bergelimang darah dan pertikaian yang tiada henti. Tanpa dibuat bosan akan membaca buku sejarah kita dapat membaca karya sastra Pram dan paham akan sejarah bangsa kita. Tidak perlu jauh – jauh mencari pembantaian besar yang bukan hanya milik NAZI di eropa sana. Di Indonesia sendiri berulang – ulang pembantaian besar seperti genosida di Banda Neira oleh kolonial VOC tahun 1621 dimana penduduk pulau – pulau di Banda Neira dihabiskan tak bersisa , pembangunan Jalan Raya Pos tahun 1809 yang berjumlah 12.000 jiwa, korban tanam paksa yang mati kelaparan, pembinasaan westerling tahun 1949 di sulawesi sejumlah 40.000, pembunuhan besar – besaran pengikut PKI yang menurut sumber – sumber luar sebanyak 1,5 juta jiwa, dan banyak kasus lainnya. Mungkin hal – hal seperti itulah yang ingin ditutup – tutupi kekuasaan bagi rakyatnya yang awam. Bagi kasus pembantaian pengikut PKI sendiri, mau tidak mau sebenarnya kita mengakui bahwa bangsa kita sendiri begitu banyak membunuh saudara kita sendiri. Begitu banyak cerita didaerah kita tentang pembunuhan besar – besaran pada akhir 60-an. Begitu banyak temuan kuburan masal setelah orde baru tumbang. Seperti inilah kiranya jawaban mengapa Pram dibungkam dan banyak orang – orang seperti Pram dibinasakan. Karena banyak fakta baik yang diselipkan ataupun ditulis lengkap dikarya sastranya.

Atau bagaimana kisah “Bukan Pasar Malam” yang banyak terselip kisah para birokrat yang menelikung ditikungan dengan memperkaya diri sendiri dan kroninya setelah perjuangan kemerdekaan. Alhasil kemerdekaan yang membebaskan rakyat dari kekuasaan kolonial hanya berpindah menjadi kekuasaan oleh bangsa sendiri yang korup. Inilah mungkin mengapa karya – karya Pram banyak memerahkan kuping pembaca dari pemegang kekuasaan.

Bagaimana pula kisah “Tetralogi Buru” yang terkenal diseantero dunia sehingga diterjemahkan 36 bahasa, yang dibuat di pengasingan Pram dengan jalan diceritakan oleh mulut Pram kepada kawan – kawan tapol. Disana selain berisi kebangkitan bangsa pada masa kolonial juga menjlentrehkan bagaimana kita terkungkung oleh budaya Jawa dahulu yang terhaegemoni kekuasaan dimana rakyat jelata hanyalah hamba bagi kaum bangsawan.

Namun jauh dari urusan memerahkan kuping dan fakta – fakta kontra kekuasaan. Maka sastra Pram sebenarnya berisi semangat kemandirian bangsa. Semangat akan lepas dari semua perasaan menjadi budak bagi bangsa – bangsa lain. Semangat akan keberanian bersuara untuk kebenaran. Semangat akan tumbuh maju sebagai bangsa yang terdidik. Semangat akan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia yang sebenarnya. Jangan sampai kita selalu menjadi apa yang dikatakan Pram tentang kondisi bangsa kita sedari dahulu sampai sekarang,

“Indonesia adalah negeri budak. Budak diantara bangsa dan budak bagi bangsa – bangsa lain.”