The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

Tambang Belerang Kawah Ijen Februari 6, 2009

Ini bukan Hulk hogan, ini bukan Ade rai, ini juga bukan cerita kuat si Samson. Ini cerita nyata dari kawah Ijen. Kawah dari sebuah kaldera gunung yang setiap saat selalu memuntahkan berkilo – kilo bahkan berton – ton belerang murni dari perut gunung setiap harinya.

Dialirkan melalui pipa besar berdiameter 30 cm. Ujung lubang pipa itu dimasukkan kedalam sumur – sumur sumber belerang. Lalu keluar dalam bentuk belerang cair yang sangat panas langsung dari dapur magma kawah, berpijar berwarna biru muda seperti kompor gas kita, lalu disela – selanya meleleh belerang cair berwarna oranye. Tambang belerang didunia yang dilakukan seluruhnya dengan tenaga manusia terbesar di dunia, catat di dunia
!

Pekerjaan yang sangat sederhana namun penuh resiko mulai dari saat mereka berangkat bekerja sampai pulang bekerja.

Pekerjaan dimulai dari pos paltunding tempat mereka didrop dari truk yang mengantarkan mereka pada jam 3 pagi. Inilah pos pendakian awal karena kendaraan selain sangat sulit untuk menuju puncak juga tidak diperkenankan.

Perjalanan sejauh 3 km ini ditempuh sejauh 1 jam perjalanan dengan sudut elevasi rata – rata 60⁰, inilah yang menguras tenaga para turis amatir. Sampai pada pos timbang pertama yang juga berada disamping pos pengamatan pengairan kawah ijen (lebih dikenal sebagai pos bundar) yang sudah ada sejak jaman belanda atau seusia dengan perkebunan kopi dibawah kaki gunung Ijen. Pos ini memantau kegiatan kawah Ijen setiap waktu karena ada kalanya gas beracun keluar. Pekerjaan hari ini dimulai dari sini dimana juga terdapat gubuk istirahat.

Dari gubuk ini para pekerja bersiap – siap dengan peralatannya. Ada beberapa pekerja yang meninggalkan peralatannya disini. Dari gubuk sampai di bibir kawah biasanya memakan waktu 1 jam.

Tiba dibibir kawah maka biasanya berbarengan dengan terbitnya matahari. Maka cahaya keemasan mulai menyinari tebing terjal dimana terdapat jalan berliku menuruni kawah sampai ditempat gas belerang keluar, tempat bekerja sepanjang hari. Pekerjaan menuruni jalan kekawah bukan suatu hal yang tidak berbahaya. Jalan ini seringkali hanya berupa batu – batu kecil yang disusun agar menyerupai anak tangga. Namun karena sudah hapal maka kaki mereka seolah telah tahu dimana batu yang goyah berada.

Ditengah kepulan asap yang menjadi – jadi mereka mencongkel belerang yang telah padat dan dingin tanpa perlindungan apa pun. Seringkali mereka ditelan asap belerang pekat yang kehitaman dan bertahan dari pengaruh racun yang menyesakkan dada dan memerihkan mata hanya dengan bermodal kain lusuh seadanya. Apabila pipa saluran dianggap terlalu panas maka mereka harus sigap untuk menyiramnya dengan air agar cepat menjadi dingin, apabila tidak maka ini dapat memecahkan pipa saluran belerang. Para pencongkel ini berlainan dengan para pembawa beban, mereka tidak membawa beban, mereka hanya bekerja mencongkel dan memuat kedalam keranjang beban. Tidak jauh dari tempat mereka bekerja terdapat kemah berterpal biru seadaanya tempat mereka beristirahat karena biasanya sekitar jam 10 pagi, asap mulai menebal lalu kembali tipis menjelang tengah hari.

Tidak jauh dari tempat mereka bekerja terdapat danau kawah dengan tingkat keasaman tinggi sehingga berwarna indah, hijau jamrud dengan bercak keputihan. Namun mereka tidak akan sempat dan hirau dengan keindahan ini akibat tenggelam dalam beratnya hidup.

Pekerjaan manusia super maka dimulailah dari anak tangga terbawah. Pekerjaan yang benar – benar memaksa kekuatan maksimal manusia. 100 kg per pikulan adalah rekor, rata – rata beban adalah 70 kg. Dibawa mendaki menuju atas jalan lereng berliku sejauh 1 km yang terkadang bersudut elevasi hampir 90⁰ alias tegak lurus. Dijalur terberat inilah manusia diuji, kaki menaiki anak tangga selangkah demi selangkah setiap helaan nafas. Mata mereka hanya tertuju pada batu – batu pijakan akan benar – benar menapak. Seringkali mereka tidak kuat pada anak tangga ke 10 setiap jalur terberatnya. Dipundak mereka beban berderit – derit didalam keranjang bambu sedang batu berderak – derak dipijak beratnya beban.

Oleh karena itu dengan pengaturan sederhana dibuatlah peraturan unik, one for all, all for one, satu untuk semua, semua bahu membahu sesaudara. Pikulan diletakkan ditiap – tiap tikungan terjal kemudian diangkut bergantian, ini dapat menghemat waktu turun naik dan tenaga tentunya. Seringkali para pekerja yang telah tua tidak sesegar pekerja muda. 2 kali angkut setiap harinya adalah pekerjaan maksimal sedang pekerja muda maksimal 4 kali angkut. Oleh karenanya seringkali yang muda membantu mengangkat pada jalur – jalur berat dan pekerja tua melanjutkannya dijalur – jalur yang ringan. Pengaturan sederhana dan unik. Pekerjaan inilah yang paling beresiko, seringkali jalur ini hanya cukup untuk satu kaki melangkah. Apabila anda tidak kuat atau salah menapakkan kaki maka hanya ada 2 pilihan, lemparkan bawaan anda atau anda yang terlempar ke bawah. Pekerja yang mati memang katanya belum ada namun kecelakaan adalah hal yang sering terjadi. Walau belum ada penelitian akan kualitas paru para penambang namun masalah kesehatan yang sering terjadi hanyalah linu – linu pada lutut, biasanya mereka memilih beristirahat keesokan harinya karena bila dilanjutkan maka dapat menjadi dislokasi lutut yang akibatnya mereka akan menganggur lama atau bahkan pensiun. Pundak dan lutut adalah asuransi hidup yang teramat penting bagi mereka.

Sesampainya dibibir kawah maka mereka juga biasa melakukan pengaturan unik. Pekerja meletakkan beberapa keranjang diberbagai tempat. Setelah terkumpul banyak mereka akan memikul secepatnya menuju pos timbang pertama untuk ditimbang. Disini mereka dapat beristirahat sejenak atau memilih kembali secepatnya mengambil keranjang – keranjang lain. Nampaknya jam 10 memang jam istirahat saat asap belerang bertambah pekat sejenak.

Dari pos timbang pertama maka pikulan ini akan dibawa menuju ke Paltunding kembali dimana disini terdapat pos timbang kedua yang akan mengecek kembali berat pikulan. Ini agar para pekerja tidak mengelabui perusahaan pembeli dengan membuang beban dari pos timbang pertama sampai paltunding. Dijalur ini ternyata ada pekerja yang memanfaatkan jauhnya jarak ini dengan membantu membawakan pikulan hanya di jalur pos timbang 1 – paltunding dengan harga angkut 5 ribu per pikulan. Pekerja ini tidak akan naik sampai sejauh setengah jarak ke pos timbang 1 dan biasanya mereka adalah pelari – pelari cepat yang mampu membawa beban sambil berlari.

Pekerjaan melelahkan dan berbahaya ini dilakukan sejak jam 3 pagi sampai jam 3 sore dengan harga perkilo yang hanya 600 rupiah. Sehingga apabila mereka sanggup membawa beban rata – rata 70kg perpikulan dengan 3 pikul yang artinya 3 kali pulang pergi maka mereka hanya mendapat 126ribu perhari. Namun hari kerja mereka rata – rata adalah 2 hari kerja 1 hari libur. Sbagai tambahan pendapatan mereka seringkali menjual souvenir patung cetakan dari belerang murni mereka dengan harga 5ribu perbiji. Juga seringkali mereka bertindak materilistis dengan meminta bayaran 10ribu perpose apabila mereka dipotret utuh ketika bekerja. Memang mungkin bila dihitung kasar pekerjaan marabahaya ini begitu menggiurkan namun kelihatannya ada beberapa potongan lain yang tak terceritakan. Yang membuat mereka tetap saja miskin. Lain kali akan saya coba ungkap.

Para pekerja ini tidak dapat sembarangan menambang karena harus terdaftar pada perusahaan pembeli. Perusahaan ini pula yang terkadang merawat pekerja apabila terjadi kecelakaan kerja. Hasil tambang mereka akhirnya dibawa denga truk menuju Banyuwangi melalui jalan Paltunding – Jambu – Licin melewati jalan yang terjal dan rusak parah terlebih pada musim hujan akibat beratnya beban truk. Hasilnya akan dijual lagi ke pabrik gula sebagai pemutih gula atau ke pabrik obat sebagai campuran obat kulit.

Sungguh suatu cerita perjalan belerang yang benar – benar menguji kekuatan manusia. Manusia yang berkerja seperti budak ekonomi di masa modern saat ini. Inilah gambaran sesungguhnya dari kata – kata Pram,

“Indonesia adalah negeri budak. Budak diantara bangsa dan budak bagi bangsa – bangsa lain”

 

Fenomena buruk kota Banjarmasin (Seri Banjarmasin) September 19, 2008

Filed under: TRAVELLING — nikkiputrayana @ 8:38 pm
Tags: , ,

Dari hasil mudik yang hanya selama 6 hari, maka saya tidak dapat menjelajah seluruh bagian kota Banjarmasin. Hanya beberapa sudut kenangan yang dapat saya kunjungi dan satu trayek jalan baru yang saya lewati.

Namun dari pengamatan dan nostalgia yang hanya sepintas itu saya dapat memuaskan dahaga batin saya yang merindu dan juga menangkap fenomena – fenomena baru di Banjarmasin. Setidaknya ada 3 fenomena baru.

Fenomena pertama adalah menjamurnya hotel dan penginapan. Seiring pertumbuhan Banjarmasin yang lebih cenderung kearah perdagangan dan pertambangan maka melimpahlah arus pekerja dan pebisnis baru dari luar Banjarmasin, khususnya luar kalimantan. Ini tentunya menuntut sarana hunian temporer bagi pekerja dan pebisnis tersebut karena boleh dibilang penetrasi kenyamanan dan hiburan di Banjarmasin masih tertinggal. Hotel kelas melati dan bintang 3 kebawah menjamur dimana – mana. Baik yang dikelola secara profesional maupun tidak. Baik yang berada di jalan utama dan strategis maupun dipinggiran dan terselempit dijalan – jalan kecil. Kesiapan akan SDM akan perhotelan yang tidak mencukupi juga menuntut arus pekerja luar untuk masuk. Beberapa hotel yang layak dikategorikan berkelas adalah Rattan Inn, Banjarmasin International, Swiss Bell Hotel, Grand Mentari, lalu diikuti hotel seukuran beberapa ruko yang paling banyak menjamur. Adapun Barito Hotel yang merajai Banjarmasin berakhir tragis dengan kebangkrutan.

Fenomena kedua adalah makin menyempitnya areal persawahan dan daerah hijau. Dengan makin banyaknya pendatang baru dan pertumbuhan ekonomi maka banyak areal persawahan kini dijadikan perumahan berskala masif. Area – area hijau berupa rawa – rawa juga mulai habis dibangun. Terutama pembangunan ruko yang gila – gilaan menghabiskan banyak lahan. Ini semua berakibat pada daya dukung lingkungan Banjarmasin yang memburuk. Bila dahulu masih banyak kita temukan air rawa yang bersih maka kini sudah menjadi kotor. Akibat pengelolaan lingkungan yang buruk seperti sangat minimnya area terbuka hijau maka Banjarmasin berkembang menjadi kota kumuh.

Fenomena ketiga adalah bendera dan lambang parpol yang tumbuh menjamur gila – gilaan dan meraksasa. Dimana – mana, semua sudut Banjarmasin seolah – olah menjadi tempat tumbuh suburnya bendera Parpol, baik gurem maupun yang kelas kakap. Ukuran juga tidak tanggung – tanggung paling minim adalah ukuran 3 x 4 meter, malah yang lain berlomba – lomba menjadi yang paling raksasa. Begitu juga dengan iklan caleg yang seolah – olah berebut tempat spot iklan permanen, kalau tidak dapat maka tidak sungkan untuk memasang baliho dimana saja dengan ukuran apa saja. Kantor parpol juga tak mau kalah berlomba – lomba dengan warna kebesarannya dan lambang yang kebesaran pula. Jadilah Banjarmasin menjadi ajang penggelontoran uang politik parpol secara menggila.

Itulah Banjarmasin dari mata saya selama 6 hari. Banjarmasin yang awalnya sudah buruk dengan lalu lintasnya, predikat kebersihan peringkat bawah, tata kota yang carut marut kini ditambah buruknya pengelolaan 3 fenomena diatas. Sungguh mengecewakan dan tidak bisa dibanggakan. Saya sebagai urang nang lahir wan ganal di Banjar berharap suatu ketika ada pemimpin Banjarmasin yang bisa merubahnya. Syukur – syukur bisa seperti Surabaya, kota kedua saya.

 

Bandara Syamsoedin Noor (Seri Banjarmasin)

Filed under: TRAVELLING — nikkiputrayana @ 1:39 am
Tags: , , ,

Dari waktu ke waktu bandara Syamsoedin Noor perkembangannya kurang menggembirakan. Renovasi besar – besaran hanya pernah dilakukan satu kali, kalau tidak salah ingat sekitar tahun 2000. Seperti biasa pembangunan bangunan publik di negara kita terkesan nanggung dan tidak direncanakan secara baik. Sehingga terkadang sering kali tidak bisa mengikuti perkembangan jaman.

Seperti halnya Bandara Syamsoedin Noor yang setelah renovasi besarnya ternyata tidak juga menampung kenaikan jumlah penumpang. Sehingga Bandara selalu terkesan penuh dan semrawut. Saat pulang kampung ini pun ternyata dilakukan perombakan kecil yang sungguh menganggu kenyamanan. Seperti tempat keberangkatan yang terkesan kumuh dan tidak rapi. Pembayaran airport tax dan bayar ini itu seperti asuransi, PMI dll. yang harus kita lakukan satu persatu, sungguh merepotkan dan terkadang tidak perlu. Pemberitahuan informasi keberangkatan penumpang juga tidak selalu ontime, cenderung semrawut. Sebagai contoh ketika saya pulang, di TV informasi Lion Air tujuan Surabaya bertuliskan check in tapi informasi sudah mengatakan siap boarding dan itu berlangsung lebih dari 15 menit. Informasi keberangkatan pesawat lain juga cenderung diberitahukan dari mulut petugas dipintu gate daripada informasi di TV atau announcer.

Jadi bagi orang yang telmi berhati – hatilah jangan sampai salah informasi yang jadinya ketinggalan pesawat.

 

Hotspot Wifi Banjarmasin (Seri Banjarmasin)

Filed under: TRAVELLING — nikkiputrayana @ 1:26 am
Tags:

Waduh …. untuk urusan perinternet-an Banjarmasin masih jalan ditempat alias kurang berkembang. Bagi saya yang terbiasa connect internet dan berbau gratis maka saya jadi sedikit kesulitan. Selama di Banjarmasin saya masih belum menjajal wifi gratis. Entah karena saya ndak tahu atau karena memang minim sekali informasi free wifi. Setahu saya yang gratis hanya di hotel – hotel berbintang saja. Di area publik saya tidak pernah melihat hal itu dan setahu saya memang tidak ada. Apakah ada teman2 yang mempunyai informasi ?

Akhirnya saya merasakan hotspot wifi di hari terakhir saya di banjarmasin yaitu saat berada di Bandara Syamsudin Noor atau yang lebih dikenal urang banjar sebagai Landasan Ulin. Disini pun ternyata tidak free wifi. Kita harus beli voucher yang dibeli di kios – kios. Informasin tentang adanya hotspot wifi dan dimana kita harus membeli voucher juga kurang memadai, kecuali kita banyak bertanya atau langsung saja iseng – iseng connect. Biaya aksesnya Rp. 10rb perjam. Terlalu mahal sebenarnya, lebih baik pakai starone time based.

Jadi untuk urusan penetrasi internet di Banjarmasin saya pikir masih berjalan pelan sekali dan berbiaya mahal. Sangat disayangkan.

 

Berputar – putar kota (Seri Banjarmasin) September 17, 2008

Filed under: TRAVELLING — nikkiputrayana @ 12:25 am
Tags: , ,

Hari ini sudah mulai berputar – putar melihat situasi kota. Ternyata banyak perubahan disana – sini gedung – gedung banyak sudah berubah meskipun saya masih bisa mengenalinya ketika diperhatikan benar – benar.

Markas Polresta Banjarmasin di Ayani sekarang sudah disaingi oleh RS Bhayangkara disebelahnya. Padahal dahulu RS ini hanyalah RS kecil untuk UGD kecelakaan, itupun tidak memadai. RS Sari Mulia di Jl. P. Antasari sudah selesai pembangunannya, sehingga sekarang sungguh besar, dahulu padahal hanya berasal dari sebuah rumah praktek sekaligus kediaman dari dr. Darto, spesialis kandungan. Dahulu RS Sari Mulia hanyalah RS Bersalin sekarang sudah lengkap dan bisa berkategori RS tipe B.

Berlanjut ke Ujung Jl. P. Antasari dimana terdapat Plaza Mitra. Ternyata sekarang tampak kusam dan kurang menarik, meskipun masih terdapat Hero Swalayan. Kelihatannya Mitra Plaza sudah kalah bersaing dengan Duta Mall yang lebih Modern meskipun berjauhan lokasinya.

Selanjutnya adalah Tower Air PDAM didaerah Teluk Dalam kalau dahulu hanya bercat biru kusam sekarang sudah berwarna warni. Dahulu tower ini dibangun karena daerah Teluk Dalam dansekitarnya kesulitan air akibat tidak terjangkau pipanisasi PDAM.

Kantor Walikota tetap seperti dahulu kala tidak ada perubahan, sama halnya Arjuna Plaza tempat hiburan pertama kali di Banjarmasin ketika masa kecil saya, juga tidak berubah dan memang sudah sangat lama telah mati.Ada penambahan satu mall (kalau mau disebut seperti itu)di Jl. Lambung Mangkurat yaitu disebelah Kantor Pos Utama.

Stadion 17 Mei sekarang sudah tidak begitu terurus dan kelihatannya sudah tidak menjadi kebanggaan urang banua lagi. Mungkin dikarenakan klub kebanggaan orang Banjarmasin, Barito Putera, kini hanya menghuni divisi 2. Uang bagi Barito Putera juga sudah seret seiring pemodal utamanya dari kayu dan Haji Leman sudah tidak seroyal dan sekaya dahulu lagi.

Dua masjid legendaris di Banjarmasin. Yang kuning Masjid Sabillal Muhtadin atau dikenal dengan nama Masjid Raya. Yang Hijau Masjid Jami, Sungai Jingah.

Masjid Raya ini sebenarnya berdiri di lapangan merdeka, nama awal ketika kemerdekaan dahulu, yang sebelumnya lagi saat jaman Belanda berupa Benteng Belanda yang dikenal dengan nama Vort van Tatas karena berdiri diatas Pulau Tatas. Kenapa disebut Pulau karena sebenarnya Lapangan Merdeka ini berada diatas pulau endapan yang dikelilingi sungai kecil dibagian barat dan Sungai Martapura di bagian Timurnya. Sedang Masjid Jami adalah Masjid tersohor sejak jaman Belanda ada. Daerah Sungai Jingah dan sekitarnya dahulu kala adalah tempat kediaman para bangsawan dan orang – orang kaya Banjar. Sehingga bila Masjid Raya perlambang Banjar masa kini, maka Masjid Jami perlambang Banjar masa lampau.

Ini adalah beberapa dari bentuk rumah lama di daerah Sungai Jingah. Banyak rumah lama ini dibangun sekitar tahun 1920-an. Suatu masa jaya Banjar dimasa lampau. Sekarang rumah ini kebanyakan sudah tidak terurus atau hancur dimakan usia. Namun ada satu penanda mudah untuk mencari rumah lama Banjar, kebanyakan berada di tepian Sungai – sungai besar dan legendaris kota Banjarmasin. Kebanyakan rumah lama pada tahun 1920-an berarsitekturkan melayu bukan rumah Banjar seperti rumah dinas gubernur dan Mahligai Pancasila dikompleks kediaman dinas Gubernur Banjarmasin.

Saya juga melihat – lihat SD Hippindo, SD saya ketika kecil yang masih saja tidak ada perubahan. Masih sama bentuknya dan masih saja terbuat dari kayu. Sedangkan SMP saya, SMPN 6, yang ada didalam gang Merpati yang sempit. Sudah ada perubahan karena dibangun gedung dari beton semua. Termasuk kelas 2E, kelas saya dulu, sudah tidak ada lagi. Namanya pun sudah meningkat jadi Sekolah Rintisan Bertaraf Internasional.

Terakhir saya berkunjung ke Perpustakaan Daerah Kalimantan Selatan di Pal 6. Ternyata sungguh miris. Gedungnya sudah semakin tidak terawat. Koleksi buku – bukunya pun sudah banyak yang rusak dan berdebu disana sini. Praktis tidak ada perubahan semenjak gedung ini didirikan. Iseng – iseng mencoba mencari buku sejarah kota Banjarmasin, ternyata tidak ketemu karena seperti mencari jarum ditumpukkan jerami. Malah saya ketemu buku atlas Anatomi berbahasa Rusia, terbitan tahun 1950-an, setelah saya lihat peminjam terakhir adalah pada tahun 1971.

Dari hari pertama saya berputar – putar Banjarmasin sepintas lalu, karena belum semua terjelajahi maka banyak perubahan kota. Yang paling mencolok adalah banyaknya hotel bintang 2 yang bertebaran dipenjuru kota. Juga bendera – bendera parpol dengan ukuran raksasa berkibar – kibar. Satu hal yang masih belum berubah adalah kesemrawutan jalannya yang bertambah parah.

 

Seputar Banjar Indah (Seri Banjarmasin) September 14, 2008

Filed under: TRAVELLING — nikkiputrayana @ 2:49 pm
Tags: , ,

Hari pertama di Banjarmasin belum menjelajah Banjarmasin soalnya karena suasana puasa maka selain malas bepergian juga kota Banjarmasin setengahnya lumpuh oleh karena kebijakan pemda bahwasanya warung makanan juga harus tutup pada bulan puasa. Jauh berbeda dengan Surabaya. Karena itu hari pertama hanya coba – coba keliling Banjar Indah.

Ternyata sekarang sudah banyak perubahan, selain saya sendiri sudah lama tidak pulang. Di jalan utama sekarang sudah penuh dengan rumah. Sekarang sudah tidak ada lagi lahan kosong, juga banyak sekali bermunculan warung makan, mulai dari khas banjar sampai yang bukan khas Banjar. Jalan utama yang sewaktu saya kecil terasa lebar dan sepi karenanya saya sering bermain sepeda dengan santai sekarang sudah terasa sangat sempit dan sumpek karena kendaraan dari berbagai perumahan sekarang lewat jalan utama tadi.

Kalau jaman dulu Banper (Banjar Indah Permai) paling banter tembus ke Beruntung Jaya dan Komplek ABRI maka sekarang sudah banyak tembus kemana – mana. Banyak sekali perumahan baru berkembang terutama kearah Utara yang bisa tembus ke Buncit dan Selatan yang semakin merapat ke Beruntung Jaya. Kalau dulu kerika kecil Banper dan Beruntung batasnya jelas terlihat oleh adanya lahan sawah yang luas maka sekarang batas – batas itu semakin kabur. Hanya kearah Barat setelah perumahan Kayu Balau menuju Tatah Belayung yang kurang berkembang. Didaerah Tatah Belayung masih banyak pohon kelapa dan daerah rawa –rawa yang luas sekali (dahulu disini adalah persawahan yang luas). Saking luasnya dan banyaknya persimpangan baru serta wajah rumah yang saya lupa atau berubah maka andaikan saya berjalan – jalan selain dijalan utama maka saya bisa tersesat di daerah masa kecil saya sendiri.

Namun satu hal yang saya pikir belum berubah semenjak dahulu yaitu masalah keamanan. Semenjak kecil memang banyak sekali pencurian, tapi ya sebatas mencuri itu bukan perampokan. Sasaran prasangkanya (entah benar atau tidak) adalah daerah Tatah Belayung sebagai kampung maling. Memang dahulu Tatah Belayung ini berbeda sekali status ekonominya. Dahulu ketika rumah – rumah di Banper sudah mengikuti perkembangan jaman maka Tatah Belayung masih khas perkampungan desa tradisional Kalimantan. Seiring tersambungnya daerah lain dengan Banper maka bertambah pula daerah prasangka buruk namun tetap saja ujung – ujungnya Tatah Belayung.

Hari pertama ini Banper saya sudah mendengar 4 rumah yang kebongkaran (kecurian). Malam kedua ini warung empek – empek yang ada dijalan utama kecurian 2 buah tabung gas. Hebatnya mereka mencuri ketika warung itu buka, satu tabung masih terpasang dan satu tabung ada diruang tamu warung itu. Engkoh empek – empek yang asli palembang dengan logatnya Cuma bisa bilang “Lagi apes, kalo musibah ndak bisa dihindari, apes….”.

Jadilah itu cerita yang semenjak kecil ndak berubah dari Banper, masalah keamanannya dan prasangka buruk warganya. Mungkin bakal ada ronda keliling antar warga lagi seperti saya kecil dulu.