The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

CERITA CALON ARANG Agustus 14, 2009

Filed under: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 4:29 am

Seri Pramoedya Ananta Toer

CERITA CALON ARANG

Diterbitkan Pertama Kali oleh NV. Nusantara, 1954.

Kutipan :

“Semua manusia bersaudara satu sama lain. Karena itu setiap orang yang membutuhkan pertolongan harus memperoleh pertolongan. Tiap orang keluar dari satu turunan, karena itu satu sama lain adalah saudara”

Ini sebenarnya sebuah dongeng rakyat yang sudah sering diceritakan dari mulut ke mulut. Namun kini coba diceritakan kembali oleh Pram dengan gaya tulisannya sendiri. Dongeng yang berkisah di negara Daha atau kediri pada masa – masa kerajaan Hindu. Cerita ini sebenarnya ada dua versi yaitu cerita dari Bali dan Jawa. Cerita yang dipakai adalah yang berasal dari Jawa yang pernah diterjemahkan ke bahasa belanda oleh R.Ng. Purbatjaraka dalam Bidjr. K.I. deel 82 halaman 110-180, kemudian ini dimacapatkan atau dilagukan oleh Raden Wiradat lalu diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1931.

Alkisah di negeri Daha kekuasaan Erlangga, hiduplah seorang peneluh sakti bernama calon arang. Ia meneluh begitu banyak penduduk kerajaan dan kekuatan militer sang raja tak mampu mengalahkannya. Calon Arang dengan “kaki tangannya” membasmi dengan keji semua lawan – lawan politiknya. Sampai akhirnya seorang Empu, bernama Empu Baradah mampu mengalahkannya dengan kekuatan kebaikan.

Mengapa cerita calon arang pernah dilarang beredar pada masa orba ? Apakah terkait penulisnya yang dikaitkan dengan komunis ? Seperti semua karya Pram yang dilarang dan dibakar, Cerita Calon Arang juga mengalami hal yang sama. Satu hal yang pasti, disini Pram ingin menyampaikan pesan terselubung bahwasanya kekuatan hitam yang menghalalkan segala cara yang seringkali digunakan untuk membasmi sesama manusia adalah diakibatkan karena pemiliknya tak ingin ada orang lain yang berseberangan pemikiran dengannya. Dan satu hal yang pasti, sekuat – kuatnya kekuatan jahat itu suatu ketika akan musnah oleh kekuatan kebaikan.

Iklan
 

BUKAN PASAR MALAM

Filed under: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 4:14 am

Seri Pramoedya Ananta Toer

BUKAN PASAR MALAM

Diterbitkan Pertama Kali oleh Balai Pustaka, Jakarta, 1951

Kutipan :

“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun – duyun lahir di dunia dan berduyun – duyun pula kembali pulang… seperti dunia dalam pasar malam. Seorang – seorang mereka datang… dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas – cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana”

Roman ini berkisah pada awal – awal revolusi perang kemerdekaan dengan setting di Blora, Jawa Tengah. Menceritakan mantan tentara revolusi yang miskin terpaksa harus meninggalkan Jakarta yang memberi harapan dan hiruk pikuk oleh karena panggilan ayahnya yang sakit keras akibat TBC.

Di kampung halamannya tidak hanya ia menemukan kenyataan hidup yang sebenarnya namun juga realitas bangsanya sendiri yang masih baru lahir. Disini Pram melalui tokoh “aku” dapat begitu menggambarkan aura kesedihan, kegeraman, kegamangan, kemiskinan dan nestapa. Roman ini juga dengan gamblang menggambarkan bagaimana tokoh politik kita memang busuk sejak negara ini dilahirkan.

Roman yang singkat dengan aura mistis yang bisa benar – benar dirasakan oleh hati pembacanya. Cerdas.

 

AGRESI MILITER BELANDA

Filed under: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 4:11 am

 


AGRESI MILITER BELANDA

Memperebutkan Pending Zamrud Sepanjang Khatulistiwa 1945/1949

Diterbitkan Pertama Kali oleh Unieboek b.v., Bussum, 1979. Oleh Pierre Heijboer. Dengan judul, “De Politionele Acties. De strijd om “Indie” 1945/1949″

Sebuah buku sejarah dengan sudut pandang yang berbeda. Seperti kita ketahui sejarah seringkali memuat pro dan kontra. Ada dua kepentingan yang bermain, antara pihak yang satu dengan yang lain. Seringkali kita membaca sejarah hanya melalui satu sumber informasi saja. Dalam buku yang didukung penuh oleh KITLV (Koninklijk Instituut voor Tall, -Land- en Volkenkunde) ini memuat catatan sejarah dari pihak Belanda seputar Agresi Militer Belanda menurut sejarah Indonesia atau Aksi Kepolisian menurut sejarah Belanda sejak 1945 sampai 1949.

 

Disini diceritakan bagaimana susah payahnya tentara Belanda yang telah babak belur sebagai korban Perang Dunia Ke-2 harus kembali berjibaku untuk merebut kembali apa yang pernah dibangun dan dimiliki di tanah Hindia Belanda. Dunia telah berubah, bangsa Indonesia yang dahulu dikenal sebagai het zachtste volk op aarde atau bangsa yang paling halus di bumi, sekarang telah berani melawan “tuannya”. Begitu banyak kenangan, begitu banyak kepentingan dan kekuasaan yang harus kembali direbut dari mantan “babunya”, membuat Belanda harus memeras keringat dan membanting tulang untuk kembali kerumah keduanya. Walau dengan hutang dan pinjaman, dengan sisa – sisa kekuatan, dengan protes dari pihak manapun dan perlawanan sengit pihak republik (menurut Indonesia) atau ekstremis (menurut Belanda), mereka berusaha mati – matian untuk kembali.

 

Memang tujuan utama dari aksi ini yang sebenarnya adalah ekonomi dan politik untuk membantu kembali kejayaan Netherland. Buku ini benar – benar cerita yang mendetail dan memiliki sisi humanis dari pihak tentara Belanda. Buku ini membuka cakrawala pikiran kita akan masa – masa perang kemerdekaan dari sisi yang berbeda. Dari sinilah kita mendapatkan dua hal yang penting yang berbeda, apabila menurut Indonesia kemerdekaan kita adalah 17 Agustus 1945, maka menurut Belanda, kita baru merdeka pada 19 Desember 1949.

 

Vuvuzela, bikin stadion serasa sarang lebah Juni 19, 2009

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 6:25 am

Mungkin agak sedikit aneh kalau kita saat ini menyaksikan tontonan sepak bola Piala Konfederasi Di Afrika Selatan. Bukan penontonnya yang memang kebanyakan berkulit hitam dan dandanan nyentrik ala gibol afrika. Tapi aura suara stadion seluruh Afrika Selatan yang bagi saya dan juga mungkin bagi semua penonton bola seluruh dunia agak aneh. Bagaimana ndak, sepanjang pertandingan mulai dari awal sampai akhir suara yang kita dengar cuma suara lebah yang mendengung – dengung. Dari semua sudut stadion suara ini membahana, sampai – sampai suara yang lain seperti supporter, kerasnya bola, bahkan suara komentator di televise terkadang kalah keras dengan dengungan lebah ini.

Suara dengungan lebah ini ternyata dihasilkan dari terompet yang ditiup hampir sebagian besar penonton bola di stadion. Terompet ini bernama Vuvuzela, berbentuk terompet panjang sepanjang 1 meter yang awalnya terbuat dari besi timah pada awal 90-an. Namun akhirnya klub – klub sepakbola local di Afrika selatan mempopulerkannya dengan memproduksi Vuvuzela berbahan plastic dan berwarna – warni seperti saat ini. Vuvuzela ini sebenarnya butuh tenaga kuat untuk meniupnya sehingga bisa berbunyi sekeras seperti yang kita dengar saat ini.

Memang sih banyak sekali protes yang dilayangkan kepada stadion – stadion di Afsel agar melarang penontonnya membawa dan meniup Vuvuzela. Selain mengganggu pemain, official, juga wartawan dan juga mungkin bagi kita – kita yang tidak terbiasa mendengarnya. Bagaimana tidak, sepanjang pertandingan kita dipaksa mendengarkan dengungan lebah yang memekakkan. Bagaimana dengan orang sakit gigi coba ?? hehehe…. Tetapi FIFA tetap member kelonggaran akan hal ini karena argument dari Otoritas Sepakbola Afsel yang mengatakan inilah kultur sepakbola Afsel. Ini Afsel bung. Suka – suka orang Afsel lah mau bergembira dengan cara seperti apa. Kalau di Brazil kita selalu meyaksikan suara gendang bertalu – talu, di Inggris kita mendengar nyayian, di meksiko terkenal dengan wave of handnya. So…. Ini Afrika Selatan, jadinya ya terbiasalah dengan Vuvuzela-nya.

Tapi menurut saya sih tetap saja Vuvuzela ini mengganggu karena ditiup sekerasnya – kerasnya tanpa aturan. Katanya sih ini terkait cerita mulut ke mulut yang konon katanya, awalnya vuvuzela digunakan untuk mengusir Gorila dengan cara menakut – nakutinya dengan suara terompet yang memekakkan telinga. So … jadi maunya penonton, mereka juga mau menakut – nakuti tim tamu yang datang dengan cara mengganggunya lewat tiupan Vuvuzela sepanjang pertandingan. Bukannya ini juga mengganggu tim kita sendiri juga ???

Jadi sih menurut saya perlu ada kursus singkat bagi penonton Afsel yang meniup Vuvuzela supaya berirama dan nyaman didengar. Bukan ditiup sekenanya dan seenak udelnya. Jadi ya suara lebah itu juga yang keluar. Jadi Vuvuzela ini bisa terkenal seluruh dunia dan tidak mengganggu.

 

Email lengkap bu Prita Juni 12, 2009

Filed under: KESEHARIAN — nikkiputrayana @ 4:47 am
Tags: , , , ,

Inilah isi lengkap email Prita Mulyasari yang dimuat di surat pembaca detik pada Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB dengan judul “RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif” :

Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandard International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah thrombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr Indah (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam.

Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.
Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan Manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.

Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera

 

Tolongin.com , minta tolong apa aja cing cay lah Juni 11, 2009

Filed under: Uncategorized — nikkiputrayana @ 5:54 am
Tags: , , , , ,

Ada satu web site baru n kerjaan baru. Idenya sederhana tapi implementasinya cemerlang sodara2. Masih seputar dunia kurir, kirim mengirim, dunia yang hanya berlandaskan saling percaya antara konsumen, penjual dan perantara. Kata para kyai, ini pekerjaan adalah pekerjaan yang penuh amanah alias kalo lu lurus – lurus aja maka Insya Allah Berkah, Amien.

Kalau urusan kurir dalam kota, antar kota, antar pulau macam DHL, TIKI, FEDEX, itu mah biasa. Kurir bunga juga biasa. Yang membuat ini luar biasa adalah segala macam yang kamu perlukan bisa diantarkan sama dia, ndak cuma itu bro…. kamu butuh apa pun juga yang bisa dibeli n barangnya emang ada bisa lu minta tolongin buat dibeliin n diantar ketempat kamu atau kemana aja deh. Pokoke, suka suka lu lah, asal cing cai bayarannya.

Emang urusan tolong menolong yang ini tergolong berani artinya dia berani memasarkannya lewat internet walau bisa saja kita hubungi lewat hotline telponnya. Ntar lu tinggal bilang mau mintal tolongin apaan. Anggap aja minta tolong standard aja ya, urusan perut. Lu mau minta beliin McD, alah itu sih udah biasa telpon aja 14045, ngapain repot, yang ndak biasa dong cuy… minta beliin nasi bebek yang ada diujung dunia masuk gang nyelempit, nah tetep mau tuh dia.

Atau yang ndak biasa contoh minta beliin buku, minta beliin kampas rem, minta beliin alat pancing, apa aja deh yang emang dijual sama orang n say the magic password ” Tolongin donk…..” mau deh. Minta tolong beliin shabu satu pocket… aaaa…. yang ini ana tidak berani ngomong dia bakal mau dimintain tolong.

Untuk harga – harga lengkapnya lu liat dewe lah di websitenya, klik aja gambar diatas buat nge-link. Pokoknya harga realtif ok buat minta tolong. Oh ya lupa…. tolongin.com cuma buat orang Surabaya ya…….

 

Bukan Buat Kampanye, memang lagunya bagus

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 5:06 am

Sekarang lagi musimnya kampanye Pilpres. Banyak cara yang dilakukan para pasangan calon. Mulai dari iklan gencar di TV, iklan baliho raksasa di jalanan, acara talk show di TV, kampanye akbar di lapangan, dan masih banyak lagi yang dilakukan kecil – kecilan oleh tim sukses masing2 calon.

Namun cara yang di tempuh SBY, Buapak Presiden kita yang terhormat, hampir mirip dengan kampanyenya tahun lalu yaitu Politik Pencitraan. Dimana baik beliau atau tim suksesnya mencoba untuk selalu mencitrakan SBY dengan berbagai macam cara. Yang paling gampang adalah dengan jingle – jingle iklannya bukan saja hanya lewat jargon alias kalimat pendek yang selalu didengungkan.

Untuk urusan membuat lagu, Pak SBY memang bukan hanya jago tapi memang bakat beliau. Bukan lagi seperti saat orde baru yang lampau dimana apapun yang dilakukan pimpinan harus diapresiasi baik oleh bawahan, namun hasil karya seni Pak SBY memang patut diapresiasi baik dan indah terlepas siapa beliau.

Lagu – lagu pak SBY memang diciptakan secara sungguh – sungguh oleh beliau, diaransemen secara apik dan beliau memang pintar untuk memilih penyanyi yang membawakan lagu ciptaan beliau. Sehingga karakter lagu ciptaannya terbawakan dengan baik.

Lagu ciptaannya bukan saja monoton untuk usia sepantaran beliau tapi diciptakan untuk segala usia, kondisi dan mood. Aransemennya juga dibuat sedemikian rupa sehingga bisa diterima semua lapisan usia. Lihat saja lagu seperti “Ku Yakin Sampai Di Sana” yang dinyanyikan Rio Febrian atau lagu “Kawan” yang dinyanyikan Grup Band Krispatih. Keduanya saya yakin bisa diterima kalangan muda baik beat maupun ketenaran penyanyinya. Kalangan tua juga siapa sih yang tidak kenal dengan Bung Ebiet G. Ade yang membawakan lagu salah satunya “Mengarungi Keberkahan Tuhan” saya juga yakin orang – orang tua akan senang mendengarkan lagu itu dikala malam sambil beristirahat.

Jadi singkat kata, apapun yang ingin dikatakan orang tentang cara kampanye Pak SBY, untuk urusan karya seni suara ini Pak SBY boleh kita acungi jempol, dua jempollah kalau perlu. Terlepas dari siapa beliau, kita boleh bilang beliau hebat untuk urusan yang satu ini, bukan cuma aji mumpung belaka seperti lagu Hancur hancur hatiku yang seperti kaset mbulet….

Kalau mau cari or download lagu – lagu ciptaan beliau saya cuma saran cari aja dengan ketik di Google, takut kasih link bajakannya, malu ma Pak SBY hehehehehe…..