The OtherSide Vers. 2

Sisi Lain dari diri saya

Simeuranté, Budak Jawa di Aceh Mei 26, 2011

Filed under: KENANGAN LAMA — nikkiputrayana @ 4:44 am

Untuk membantu serangan ke Aceh, ratusan pekerja paksa dikirim dari Jawa. Belanda menyebutnya beer atau beeren. Orang Aceh menyebutnya Simeuranté, Orang-orang yang dirantai.

Pada agresi pertama Belanda ke Aceh. Bersama 2.100 tentara pribumi dari Jawa, Belanda mengikutsertakan 1.000 orang hukuman sebagai pekerja. 220 diantarnya wanita. Keberadaan mere di Aceh selains ebagai pekerja paksa yang membangun rel kereta api, juga pengangkut logistik. Sebagian dari budak asal Jawa itu meninggal karena letih dan lapar.

Dalam buku “Atjeh” H C Zentgraaff mengatakan, kuburan para pekerja paksa itu dibuat seadanya. Malah tak jarang mayat-mayat orang hukuman itu dibiarkan tergeletak begitu saja. “Mayat-mayat itu ada yang jadi makanan binatang buas,” tulis Zentgraaff.

Media-media Belanda mengakui keberadaan orang hukuman dari Jawa itu. De Nieuwe Rotterdamsche Couran misalnya. Pada edisi Januari 1983 koran itu menulis. “Usaha yang lainnya adalah usaha-usaha dalam pekerjaan umum, membangun dinas-dinas angkutan dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan ekspedisi di wilayah yang akan memberikan sahamnya bagi sejarah “ketting gangers” (pekerja-pekerja paksa) dalam pekerjaan menentramkan daerah-daerah dan membuka berbagai daerah.”

Selain memngangkut logistik tentara, mereka juga sering dijadikan tameng saat perang di daerah-daerah pedalaman, malah ada yang ikut berperang. Sebagai upah, mereka hanya mengharapkan keringanan hukuman, atau bahkan dibebaskan dari status budak.

Kadang kala untuk resiko yang sangat besar sekalipun, para pekerja paksa itu mempertaruhkan nyawanya, hanya untuk mendapatkan sebatang rokok dari marsose. Lebih beruntung bila mereka diberikan baju bekas milik tentara Belanda tersebut.

Ketika tentara Belanda (Indische Leger) baru memiliki 18 batalion infantri di Aceh, para pekerja paksa itu yang mengorbankan segalanya untuk mendapat sedikit hadiah atau dikurangi masa hukuman. Kumpulan pekerja paksa ini dijuluki sebagai batalion ke 19 atau batalion merah, sesuai dengan baju yang mereka pakai.

Peristiwa di Meureudu

Saat pos Belanda di Meureudu terkepung pada tahun 1899. Komandan Belanda sangat khawatir karena tidak mampu menghadang serbuan gerilyawan Aceh. Padahal dalam benteng itu terdapat 150 pasukan Belanda yang segar bugar.

Komandan Belanda di Meureudu pun kemudian meminta kepada seorang pekerja paksa (beer) asal Madura untuk mengantarkan surat mohon bantuan tambahan pasukan dari pos Belanda di Panteraja. Beer tersebut harus berlari seorang diri menerobos semak belukar dan menyebrangi tiga sungai (krueng), mulai dari Krueng Beuracan, Krueng Tringgadeng dan Krueng Panteraja.

Dengan wajah letih dan badan penuh goresan duri. Esok pagi beer tersebut berhasil menyampaikan surat itu ke pos Penteraja. Dalam keadaan gawat seperti itu Belanda kemudian mengirim delapan brigade morsase dari Pidie menuju Meureudu.

Para masrsose di Panteraja terkehut ketika mereka sedang mandi muncur beer pengantari surat itu dari dalam air. Ia segera bertanya dimana kapten pasukan Panteraja. Setelah dipertemukan, ia pun mengelurkan sebuah lipatan surat dari dalam ikatan kepalanya. “Dari komandan Mardu (Meureudu-red) kepada tuan komandan Marsose,” kata beer tersebut sambil menyerahkan surat itu.

Dalam surat itu komandan Marsose di Meureudu memberitahukan bahwa dia sudah tidak tidak mempunyai opsir-opsir lagi, dan serdadu-serdadu dalam pos tersebut sudah luntur semangatnya akibat digempur pasukan Aceh.

Beer yang berhasil membawa surat itu kondisinya sangat memprihatinkan, karena keletihan setelah menyerahkan surat itu, ia jatuh pingsan. Ketika sadar kepadanya kemudian diberikan semangkuk coklat, roti dan sepotong daging tebal sebagai imbalan.

Seorang pekerja paksa maklum, bahwa dengan berhasilnya melaksanakan tugas yang berani seperti itu, sudah dapat dipastikan kebebasan penuh. “Namun beberapa banyak dari mereka itu yang tidak pernah dapat kembali dari menjalankan perintah seperti itu? Siapa yang dapat mengetahui bagaimana cara kematian mereka?” tulis Zentgraaff.

Diadu Sesama Beer

Para pekerja paksa (Beer) dari Jawa yang bekerja untuk Belanda di Aceh, kadang bersikap licik dan culas untuk sedikit mengurangi beban kerjanya. Tapi kemudian mereka diadu domba dengan mengangkat seorang mandor dari kalangan beer itu sendiri untuk mengawasi dan menghukum mereka-mereka yang licik.

Hal ini kerap terjadi pada pekerja paksa rombongan transport yang membawa perbekalan dan barang kebutuhan (logistik) marsose ke suatu wilayah. Seperti yang terjadi pada rombongan transpor pimpinan Letnan Jenae yang dikenal sebagai komandan kecil, tuan si cabe rawit.

Jenae merupakan seorang letnan yang masih muda. Pada tahun 1905, dengan kekuatan dua pasukan infantri bersenjata 40 karaben dengan bayonet, mengawasi 400 orang pekerja paksa dari Kuala Simpang ke Penampaan, Blang Kejeren. Barisan pekerja paksa yang mengagkut barang-barang tersebut panjangnya melebihi satu kilometer dan diawasi oleh 40 tentara. Jeane berpendapat sepuluh pekerja paksa diawasi oleh seorang tentara bersenjata.

Para pekerja paksa itu mengangkut jenever (minuman keras-red) untuk para marsose di medan perang, berkaleng-kaleng minyak tanah untuk pasukan di bivak-bivak. Barang bawaan itu tentu sangat memberatkan para pekerja paksa. Dengan mendaki gunung dan menuruni lembah, mereka memikul beban berat itu. Di punggung mereka barang-barang tersebut diikatkan.

Namun para pekerja paksa yang licik dengan segala cara membuat agar muatan barang yang dibawanya itu berkurang sedikit demi sedikit. Kaleng-kaleng minyak dibuatnya menjadi bocor dengan cara menumbukkan benda keras dan tajam ke kaleng minyak itu, sehingga sedikit demi sedikit minyak itu tumpah.

Begitu juga dengan minuman keras. Poci-poci jenever dibuat berkuarang isinya sedikit demi sedikit. Sementara tenda-tenda perkemahan yang mereka angkut, yang merupakan barang bawaan yang paling dibenci para beer karena besar dan berat, sering dihanyutkan saat menyeberangi sungai. Sehingga ketika sampai ke tujuan barang bawaan mereka tinggal setengahnya saja.

Letnan Jenae kemudian membuat peraturan baru bagi para pekerja paksa penangkut logistik tersebut. Pekerja paksa yang dianggap paling brandal dan ditakuti diangkatnya sebagai mandor untuk mengawasi para pekerja paksa lainnya. Kepada para mandor itu diberi tanggungjawab menjaga agar barang bawaan tidak berkurang satu pun.

Setelah berjalan beberapa hari, pasukan Jenae yang mengawasi 400 pekerja paksa itu kemudian tiba di Brawang Tingkeum, suatu daerah yang diankap angker waktu itu. Di sana mereka harus menyebrangi sungai Wih Ni Oreng. Dari seberang sungai, mereka ditembaki oleh para pejuang Aceh.

Para pekerja paksa yang terjebak dalam sungai saling berpegangan tangan agar tidak hanyut. Sementara 40 tentara Belanda pimpinan Letnan Jenae yang mengawasi pekerja paksa tersebut membalas tembakan para pejuang Aceh yang berada di tebing sungai.

Sementara para pekerja paksa yang membawa barang yang berada paling belakang tidak mendapat pengamanan. Dari rumput alang-alang 20 orang Gayo keluar menyerang dan merampas barang bawaan para pekerja paksa itu.

Kisah si Kimun

Zentgraaff sangat terkesan dengan Kimun, ia dibawa ke Aceh pada tahun 1896 sebagai pekerja paksa dengan hukuman 20 tahun. Kimun berada di Aceh pada masa Teuku Umar melakukan taktik menipu Belanda dengan menyerah pura-pura. Setelah Teuku Umar menyebrang dan memimpin kembali perlawnaan rakyat Aceh terehadap Belanda, Kimun menawarkan dirinya untuk menembus daerah kepungan pasukan Aceh untuk mengantar surat kepada pasukan Belanda di daerah lain.

Tindakan itu diambil Kimun agar Belanda mengurangi masa hukumannya di Aceh dan dia berharap bisa segera dipulangkan ke Jawa. Namun ia Kimun yang menjadi kurir pengantar surat tersebut ditangkap oleh gerilyawan Teuku Umar. Ia mengalami luka parah, badannya yang penuh sabetan pedang dibuang ke sungai.

Dalam keadaan yang hampir tak bernyawa lagi itu, tubuh Kimun ditemukan Belanda terapung di pinggir sungai di daerah Lambaro, Aceh Besar. Belanda kemudian merawat dan mengobatinya. Meski ia gagal mengantar surat, namun ia kemudian dibebaskan dari hukuman. Ia diperbolehkan untuk kembali ke Jawa.

Tapi Kimun menolaknya, karena merasa dendam terhadap orang Aceh yang menyiksanya dengan sabetan pedang dan membuang tubuhnya yang hampir mati ke sungai. Ia tetap tinggal di Aceh dan bekerja sebagai “jongos” pada Grasfland, seorang opsir Belanda.

Ketika Grasfland meninggal, Kimun pindah ke rumah opsir lainnya dan tetap bekerja sebagai “jongos” di Lhokseumawe. Pada suatu hari, ia membeli sebotol limun di Keude Cina, ketika ia hendak minum, seorang polisi datang hendak menangkapnya, karena mengira ia pekerja paksa yang lari dari tugas. Kimun kemudian memukul kepala polisi itu dengan botol limun tersebut.

Atas perbuatannya itu Kimun kemudian dihukum sepuluh tahun. Ia kemudian dikirim ke Jambi sebagai pekerja paksa. Dari Jambi kemudian dia dibawa ke Menado. Dari sana ia kemudian dibawa ke Surabaya dan dibebaskan dari sisa hukumannya.

Namun disana ia meminta kepada Velman, opsir Belanda yang pernah bertugas di Aceh, agar ia dibawa kembali ke Aceh. Veltman pun menerimanya. Ia dipekerjakan sebagai jongos masak memasak di Tapaktuan.

Karena pembawaannya yang agresif itu, Kimun tidak lama berada di Tapaktuan, karena Veltman tak ingin Kimun mengalami gangguan mental akibat traumanya dengan orang-orang Aceh. Ia kemudian diambil oleh Hein Meijer, seorang Belanda, kadet perang di Aceh. Namun disana pun ia membuat masalah sehingga Meijer menghukumnya. Kimun jadi mati kutu dan tanpa pikir panjang dari Tapaktuan kemudian ia mertas pegunungan menuju Sigli. Tak jelas bagaimana nasibnya kemudian dalam perjalanan tersebut.

Beer di Rel Trem

Orang hukuman dari Pulau Jawa yang dibawa ke Aceh, tidak hanya menderita karena kerja paksa dan kelaparan. Sebagian ada yang meninggal karena dicambuk karena ketahuan mencuri.

H C Zentgraaff, manggambarkan penderitaan pekerja paksa tersebut, yang sehari-hari dipanggil dengan nama binatang; si babi lanang. Sebagian besar pekerja paksa pada kelompok ini mati secara mengenaskan di rimba-rimba Aceh. Mayat mereka pun dibiarkan tergeletak begitu saja di jurang-jurang bebatuan, menjadi santapan binatang buas.

Sementara kelompok kereta api, yang bertugas membangun rel, meski tidak harus menggadaikan nyawa dalam perang. Penderitaan mereka lebih berat. Mereka dipaksa bekerja sampai kehabisan tenaga, sedangkan makanan sangat kurang, bahkan tak ada sama sekali.

Ada juga di antara mereka yang tidak masuk hitungan sama sekali, yang senantiasa harus memikul barang bawaan yang berat, sampai-sampai mereka jatuh terkulai karena kehabisan tenaga. Bagi mereka yang enggan melaksanakan perintah, akan didera dengan cambukan rotan. “Saya tidak dapat menghilangkan kenangan saya akan wajah beberapa orang pekerja paksa (beer-beer), masing-masing berdiri pada batang pohon, terikat tali, untuk menerima hukuman sebanyak 25 pukulan cemeti rotan,” ungkap Zentgraaff.

Menurut Zentgraaff mereka yang dicambuk itu biasanya para beer yang kedapatan mencuri makanan atau barang-barang milik Belanda. Kadang-kadang mereka juga mencuri senjata untuk dijual kepada pejuang Aceh. “Penipu-penipu yang tak dapat dipercaya ini terdapat pula dalam pasukan, serta tidak dapat meninggalkan kebiasaan merampok dan mencuri,” lanjutnya.

Diantara beer-beer itu terdapat pula cukup banyak orang –orang pemberani, yang seringkali mendapat perintah–perintah berbahaya. Saat Belanda menerapkan taktik perbentengan terpusat untuk melawan pejuang Aceh, saban pagi para pekerja paksa itu menyusuri rel trem untuk memeriksa ganjalan-ganjalan rel dan memperbaiki sekrup yang longgar.

Hal itu harus mereka lakukan karena pasukan Aceh pernah sering meletakkan bahan peledak di rel trem, yang bila tersentuh roda trem akan meledak dan menyebabkan kematian di pihak Belanda. Bahan-bahan peledak itu didapatkan pejuang Aceh dari serdadu-serdadu Eropa bayaran Belanda yang menyebrang ke pejuang Aceh.

Untuk membersihkan ranjau-ranjau dan bahan peledak di rel trem, setiap malam para beer harus menjaga lampu yang terdapat di luar benteng pertahanan. Sering kali mereka juga harus mengantarkan surat-surat dari satu pos ke pos lainnya melalui daerah-daerah berbahaya yang dikuasi gerilyawan Aceh.

 

Agustus 22, 2009

Filed under: Uncategorized — nikkiputrayana @ 1:35 pm


Visitor Map
Create your own visitor map!

 

Joesoef Isak Meninggal Dunia Agustus 16, 2009

Filed under: ISI PIKIRAN — nikkiputrayana @ 1:08 pm

Saya pernah menulis tentang Joesoef Ishak di blog saya. Yaitu tiga serangkai jebolan tahanan politik yang mendirikan penerbitan buku Hasta Mitra. Pada hari Sabtu tanggal 15 Agustus 2009 pada jam 01.30 di kediamannya Jalan Duren Tiga, Jakarta. Beliau dimakamkan di TPU Jeruk Purut pada siang harinya.

Karyanya yang terakhir dan belum sempat diedarkan adalah Memoir Ang Jang Goan, seorang tokoh pers tiga jaman dan pendiri Rumah Sakit terkemuka di Jakarta, seorang keturunan Tionghoa yang pada masa orde baru turut tersingkir keluar negeri dan wafat di Kanada.

Bersama Pramoedya Ananta Toer dan Hasjim Rahman, ia berjuang untuk bisa menyuarakan kebebasan lewat karya tulis. Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan saya sebelumnya “Hasta Mitra Sahabat Pramoedya Ananta Toer” . Ia adalah pejuang kemanusian yang teguh memperjuangkan antidiskriminasi sampai akhir hayatnya.

Semoga ia damai dalam sisi lindungan-Nya

 

TRANSFORMATOR HUISJE alias GARDU LISTRIK LONDO Agustus 14, 2009

Filed under: KENANGAN LAMA — nikkiputrayana @ 6:47 am
Tags: , ,

Pernahkah anda melihat bangunan seperti foto disebelah ini di kota anda ?

Ini adalah gambar dari gardu listrik 6 kV jaman kolonial Belanda dahulu. Dalam bahasa belandanya disebut sebagai transformator huisje. Seiring dengan perkembangan jaman maka bangunan ini banyak terlupakan. Banyak yang hanya dijadikan sebagai tempat usang yang terkesan angker, menjadi tempat warung kopi, tempat tambal ban atau malah sudah tiada lagi alias dibongkar.

Memang dibeberapa tempat gardu listrik lawas ada yang masih dirawat seperti Gardu Listrik di dekat Tugu Bambu Runcing, Surabaya di Jalan Panglima Sudirman. Gardu listrik yang anda lihat disamping inilah yang sekarang masih tampak terawat meskipun tidak sama 100 % lagi detail bangunannya.

Perkembangan listrik di Indonesia tidak lepas dari Perusahaan Listrik Swasta di jaman Belanda yang mengusahakan adanya listrik di tanah air kita. Listrik di Indonesia mulai dialirkan pada tahun 1897 ketika berdiri perusahaan listrik yang pertama yang bernama Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM) di Batavia dengan kantor pusatnya di Gambir. Sedang di Surabaya bermula ketika perusahaan gas NIGM pada tanggal 26 April 1909 mendirikan perusahaan listrik yang bernama Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM). Listrik
merupakan barang mewah pada jamannya. Tidak semua rumah mendapatkan aliran listrik, kebanyakan ya para londo – londo itu sendiri yang mendapatkannya. Masing – masing daerah memiliki perusahaan listrik tersendiri, tidak seperti saat ini yang dikuasai PLN. Inilah daftar lengkap perusahaan listrik yang menyuplai listrik diberbagai daerah Hindia Belanda :

Salah satu perusahaan listrik yang paling sukses adalah ANIEM yang saat itu mampu menguasai 40 % pangsa pasar listrik seluruh Hindia Belanda. Malahan, ANIEM Bandjarmasin memiliki kontrak dari 26 Agustus 1921
sampai dengan 31 Desember 1960. Adapun anak perusahaan dari ANIEM (NV. Maintz & Co.) adalah :

  1. NV. ANIEM di Surabaya dengan perusahaan-perusahaan di  Banjarmasin, Pontianak, Singkawang, Banyumas.
  2. NV. Oost Java Electriciteits Maatschappij (OJEM) di Surabaya dengan perusahaan-perusahaannya di Lumajang, Tuban, dan Situbondo.
  3. NV. Solosche Electriciteits Maatschappij (SEM) di Surabaya dengan perusahaan-perusahaannya di Solo, Klaten, Sragen, Yogyakarta, Magelang, Kudus, Semarang.
  4. NV. Electriciteits Maatschappij Banyumas (EMB) di Surabaya dengan perusahaan-perusahaannya di Purwokerto, Banyumas, Purbalingga, Sokaraja, Cilacap, Gombong, Kebumen, Wonosobo, Cilacap, Maos, Kroya, Sumpyuh, dan Banjarnegara.
  5. NV. Electriciteits Maatschappij Rembang (EMR) di Surabaya dengan perusahaan-perusahaannya di Blora, Cepu, Rembang, Lasem, Bojonegoro.
  6. NV. Electriciteits Maatschappij Sumatera (EMS) di Surabaya dengan perusahaan-perusahaannya di Bukit Tinggi, Payakumbuh, Padang Panjang, Sibolga.
  7. NV. Electriciteits Maatschappij Bali dan Lombok (EBALOM) di Surabaya dengan perusahaan-perusahaannya di Singaraja, Denpasar, Ampenan, Gorontalo, Ternate, Gianyar, Tabanan, dan Klungkung.

Untuk wilayah Surabaya terdapat 3 tempat pembangkitan listrik saat itu di Ngagel, Semampir dan Tanjung Perak.

Gardu listrik ini sekarang mulai terlupakan, dia seperti Hidden Object of City Treasure. Terkadang ia tersamarkan oleh bangunan lain karena warnanya yang usang atau pula kita terlalu sibuk dan tak acuh sehingga tidak menyadari bahwa bangunan ini ada didekat kita. Saya berandai – andai, seandainya bangunan ini dialih fungsikan menjadi bangunan yang berdaya guna, sebagai contoh menjadi tempat pembayaran rekening listrik, air atau telpon. Dengan satu orang atau mesin khusus pembayaran seperti ATM sehingga tempatnya yang strategis bisa menjadi sarana praktis membayar masyarakat kota.

Inilah sebagian Gardu Listrik atau Transformator Huisje yang ada di Surabaya yang saya amati masih ada. Mungkin ada yang luput dari pencarian saya diseantero Surabaya.

  1. Jl KH. Mas Mansyur
  2. Jl. Dukuh
  3. Jl Kebalen Timur
  4. Jl Kedung Doro
  5. Jl Panglima Sudirman

Bagi yang menemukan hubungi saya …

Klik di foto untuk mengetahui petanya di wikimapia.

Transformator Huisje Jl. Haji Mas Mansyur

Transformator Huisje Jl. Dukuh

Transformator Huisje Jl. Kebalen Timur

Transformator Huisje Jl. Kedungdoro

Papan Peringatan 3 Bahasa

 

HIKAYAT SITI MARIAH

Filed under: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 6:15 am

Hikayat Siti MariahHIKAYAT SITI MARIAH

Diterbitkan Pertama Kali sebagai cerita bersambung di Medan Prijaji,Bandung dari tahun 1910 – 1912, karangan Haji Mukti.

Di edit dan ditulis kembali oleh Pramoedya Ananta Toer, tahun 1987.

Novel ini bersetting pertengahan abad 19 didaerah Jawa Tengah terutama di perkebunan – perkebunan tebunya. Alkisah jalan hidup seorang anak manusia bernama Siti Mariah dengan berbagai nama yang lain yaitu Urip, Mardi, Jongos Salimin, Babu Salimah, Nyonya janda Esobier. Ia adalah anak hasil pergundikan yang akhirnya melahirkan anak lewat pergundikan pula. Lika liku kehidupan yang berputar bak roda kehidupan dari satu masa ke masa, dari satu tempat ke tempat lain. Anaknya pun juga mengalami hal yang sama. Begitu pula orang – orang disekitarnya.

Siti Mariah lahir dari pergundikan lalu dibuang dan dipelihara mandor pabrik gula. Kemudian besar dan jatuh cinta serta menjadi gundik dari opsiner pabrik gula. Namun seperti yang lazim terjadi ketika seorang bangsa asing telah siap menikah maka bangsa asing itu wajib menikah dengan bangsanya sendiri lalu mencampakkan gundiknya. Siti Mariah yang bukan saja tercampakkan oleh cintanya juga oleh buah hatinya yang menurut lazimnya – anak indo – mengikuti ayahnya. Siti Mariah pun menghilang mencari kehidupannya untuk menghilangkan luka hatinya. Sang anak ternyata tak jauh nasibnya seperti Siti Mariah, bersama ibu tiri akhirnya tercampakkan, mengembara tak tentu arah. Sampai suatu ketika takdir merubah nasib semua anggota keluarga ini.

Novel ini banyak bercerita didaerah Jawa Tengah, penggambaran akan keadaan saat itu sebenarnya sangat cermat dan mirip. Kita akan menjadi banyak tahu seperti apa kehidupan Perkebunan Tebu dan Pabrik Gula saat itu. Seperti kita tahu, Hindia Belanda dahulu adalah raja dari segala raja Gula didunia pada jaman pertengahan abad ke – 19. Agaknya Pram disini ingin memotret kehidupam pergundikan atau disebut per-Nyai-an, yang dahulu sangat lazim terjadi, sehingga kita paham bagaimana keturunan keturunan “indo” itu awalnya ada. Juga memotret bagaimana bangsa penjajah memperlakukan kita dan bangsa kita sendiri memperlakukan dirinya.

Aneh sebenarnya, novel ini tidak begitu jelas siapa pengarangnya. Pram sendiri kesulitan melacaknya dan semua tentang jati diri penulis ini hanyalah rekontruksi Pram pribadi. Bahkan beberapa bagian novel ini hilang sehingga ada cerita yang terpotong disini. Walau begitu, karya sastra ini layak untuk diselamatkan sebagai “sangu” sejarah kita. Berterima kasihlah pada Pram.

 

DOKTRIN REVOLUSI INDONESIA

Filed under: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 6:03 am

Doktrin Revolusi IndonesiaDOKTRIN REVOLUSI INDONESIA

Diterbitkan oleh CV NARSIH, Surabaya, 1962.

Kutipan :

“Aan Java’s strand verdrongen zich de volken;

Steeds daagden nieuwe meesters over het meer;

Zij volgden op elkaar, gelijk aan het zwerk de wolken;

De telg des lands allen was nooit zijn heer”.

Artinya :

“Dipantainja tanah Djawa jang berdesak-desakan;

Datang selalu Tuan-tuannja setiap masa;

Mereka beruntun-runtun sebagai runtunan awan;

Tapi anak pribumi sendiri tak pernah kuasa”.

(Mentjapai Indonesia Merdeka, Soekarno, 1933)

Buku ini merupakan kumpulan pidato – pidato Presiden Soekarno yang akhirnya dijadikan landasan pemikiran dan ideologi revolusi Indonesia. Disini juga ada penjelasan dan penjabaran akan amanat Presiden yang tertuang lewat pidatonya. Inilah landasan Indoktrinisasi atau “cuci otak” segenap bangsa Indonesia akan gagasan besar Proklamator kita.

Lewat buku ini kita sebenarnya dapat menyelami sebagian kecil isi pikiran Presiden Soekarno. Ide – idenya akan nation character building bisa kita dapatkan disini. Buku ini diperluas dan diperbanyak hampir oleh beberapa penerbit saat itu guna indoktrinisasi untuk memperdalam keyakinan akan jiwa revolusi yang terus digelorakan saat itu.

Tidak berlebihan memang kalau Presiden Soekarno disebut sebagai orator ulung. Lewat pidatonya yang bergelora banyak rakyat yang terkesima mendengarkan berjam – jam. Memang dibuku ini kita jumpai naskah teks lengkap pidato beliau meskipun saat berpidato beliau tak pernah mengonsepnya terlebih dahulu. Buku ini pernah dilarang beredar dan dimusnahkan semenjak kejatuhan kekuasaan beliau saat orba lalu kembali dicari setelah orba runtuh. Merupakan satu gandengan dengan buku “Dibawah Bendera Revolusi” yang harganya awal – awal reformasi sempat menyentuh puluhan juta.

 

DESERSI

Filed under: DUNIA CERITA — nikkiputrayana @ 5:57 am

Desersi

DESERSI

menembus rimba raya kalimantan.

Diterbitkan Pertama Kali di Rotterdam, 1861 dengan judul “Borneo van Zuid naar Noord” karya Michaël Theophile Hubert (MTH) Perelaer.

Diterjemahkan oleh Helius Sjamsuddin kedalam bahasa Indonesia.

Kutipan :

“… Tapi masih ada utang darah lain di antara kita. Ketika saya menyerang rombonganmu, saya bermaksud mengambil kepala – kepala kalian. Selama pergumulan itu salah seorang anggotamu mati terbunuh, beberapa orangku sendiri lenyap – darah dibalas darah…”

Novel ini sebenarnya novel yang sudah sangat lama sekali terpendam di perpustakaan National Library, Canberra, Australia. Berterima kasihlah kepada Helius Sjamsuddin, yang secara tidak sengaja ketika menyelesaikan disertasinya, menemukan novel ini. Berkat jari jemarinya novel ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Novel ini berkisah tentang empat serdadu bayaran Belanda VOC di Kuala Kapuas (Kalimantan Tengah saat ini), yaitu Schlickeisen (Swiss), Wienersdorf (Swiss), La Cuille (Belgia) dan Yohannes (pribumi Indo keturunan Nias). Mereka melarikan diri dari dinas militer dari bentengnya di Kuala Kapuas. Mereka merasa ditipu oleh kontrak pemerintah Belanda yang menjanjikan kehidupan yang lebih baik daripada di negara asalnya. Semua ternyata hanyalah bohong belaka, hampir mirip dengan kondisi TKI kita.

Dalam pelarian mereka kearah utara kalimantan, mereka bukan hanya bertemu dengan suku – suku Dayak pedalaman yang barbar tapi juga akhirnya berbaur dengan mereka. Dalam pelarian yang dikejar – kejar oleh militer Belanda mereka juga menyaksikan indahnya alam asli perawan hutan – hutan Kalimantan. Mereka juga turut menjadi saksi dan ikut andil dalam perlawanan rakyat Kalimantan kepada penjajahan Belanda. Dalam pelarian ini pula dikisahkan banyak hal tentang adat istiadat suku Dayak masa lampau, terutama adat pengayauan atau potong kepala.

Meskipun cerita pelarian dalam novel ini fiktif namun setting cerita, nama – nama tokoh, adat istiadat dan catatan sejarahnya adalah benar dan sama persis dengan keadaan saat itu. Sehingga penggambaran dalam novel ini bisa menjadi pijakan sejarah bagi pembacanya. Perelaer sendiri adalah opsir Belanda dengan pangkat terakhir Mayor pada 1879. Ia pernah ikut ambil bagian dalam Perang Banjarmasin dan Perang Aceh. Di Kuala Kapuas sendiri yang dijadikan setting awal cerita ini ia menjadi komandan pos dengan pangkat Lentan Satu selama 4 tahun. Oleh karena pengetahuannya yang sangat luas akan dunia Kalimantan ia banyak menulis tentang suku Dayak. Salah satu yang terlengkap adalah Etnographische Beschrijiving der Dajaks (1870).

Oleh karenanya, siapa saja yang ingin mengenal sejarah Kalimantan dan Dayak, sebagai perkenalan bolehlah membaca novel ini.